“Besok pagi saya jemput,” ujar Bintang begitu Helia turun dari motor. Ia menyapukan pandangan, masih terheran-heran mengapa orangtua Helia membiarkan putrinya tinggal di kompleks apartemen itu. Bahkan lampu di jalan sekitar gedung saja banyak yang meredup atau tak menyala. “Kenapa?” tanya Helia sambil melepas helm. “Besok kafe masih buka, bukan?” balas Bintang. “Maksud aku, kenapa kamu ngelihatin sekeliling kayak gitu?” “Oh!” Bintang mengatupkan bibirnya sejenak. “Agak khawatir aja kalau kamu terpaksa keluar malam-malam. Lampu jalan banyak yang redup. Gelap banget.” Helia terkekeh. “Aku lebih milih tahan sampai pagi sih. Belakangan, aku ngga suka gelap. Tidur pun lampu tetap aku nyalain.” “Belakangan?” ulang Bintang. “Hmm.” Helia mengangguk. “Dulu ngga gitu. Malah aku pakai tirai ka

