MENGEJAR GELAP

1278 Words

Hujan rintik kembali turun saat scooter hitam Bintang berhenti di depan lobi gedung apartemen yang Helia tinggali. Tak banyak percakapan di perjalanan tadi, namun keheningan itu sama sekali tak canggung. Justru seperti ruang aman tempat Helia bisa bernapas. “Aku masuk dulu, ya,” ujar Helia. Bintang terkekeh. Ia lalu turun dari motornya sejenak, mengulurkan tangan untuk membuka kunci helm Helia. “Buka dulu dong helmnya.” “Oh! Lupa!” timpal Helia. “Izora,” panggil Bintang lembut. “Hmm?” “Kalau nanti kepikiran aroma di kafe, atau rasa rujak cingur, atau tiba-tiba kamu ngerasa ngga nyaman… telepon saya, ya? Jam berapa pun.” Helia tersenyum simpul. “Makasih, Bintang…” Ia masuk ke gedung apartemen, melirik ke belakang lagi. Bintang masih berdiri di sisi motor, menatapnya sampai pintu lob

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD