Akhirnya... tangis itu berhenti. Bukan karena hati yang tenang, namun karena tubuh yang sudah tak punya tenaga untuk memproduksi air mata lagi. Helia menelan ludah yang terasa pahit. Napasnya sesenggukan, d**a sesak, matanya perih. Ia tak tau sudah berapa lama ia duduk di lantai—mungkin sepuluh menit, mungkin setengah jam, atau mungkin lebih dari satu jam. Waktu kehilangan bentuk ketika yang ia rasakan hanyalah… hampa. Tak pula ada yang kembali. Tak ada yang datang untuknya. Tak ada suara pintu diketuk. Tak ada langkah kaki yang mendekat. Yang menyusup justru riuh senang suara dari ruang tamu. Mereka tetap tertawa meski Helia menderita. Seolah beranggapan bahwa ia pasti bisa menerima semua ini begitu saja. Helia menunduk. Tangannya gemetar saat ia meraih kursi roda yang tak jauh dari t

