Tiga bulan kemudian Helia sudah mampu berdiri tanpa berpegangan selama lima belas detik hari ini. Suster fisioterapi yang mendampingi tersenyum bangga, sementara Helia hanya terdiam, mencoba menenangkan napas yang terasa berat. Kakinya bergetar, betisnya panas, punggungnya menegang seperti tali busur yang ditarik terlalu jauh. “Tahan, Kak Helia… lima detik lagi.” Helia mengetatkan rahang. Empat. Tiga. Dua. Satu. Begitu hitungan selesai, lututnya langsung goyah. Ia jatuh ke kursi yang sudah disiapkan di belakang tubuhnya. Napasnya terengah, dihantam usaha keras yang tak pernah terbayang sebelumnya. “Good job,” puji fisioterapinya sambil menyerahkan botol air. “Tiga bulan sejak bangun dari koma dan Kakak sudah bisa begini? Alhamdulillah, cepat banget progresnya.” Helia mengangguk

