Terik matahari Surabaya menyambutnya bahkan sebelum roda kursi itu melewati pintu kedatangan. Udara bandara yang padat, lengket, dan riuh terasa seperti dunia lain setelah berbulan-bulan ia hidup di ruang putih yang dingin dan sunyi. Helia mengerjap, matanya terasa perih oleh cahaya terang, sementara kursi rodanya didorong Fabian menuju keluarga yang menjemput. “Helia….” Suara itu—serak, tertahan—milik sang ibu. Helia menatap dari balik kaca mata hitamnya. ibunya tertegun, mengenakan blus putih dan celana krem, wajahnya cantik dengan riasan natural yang tak mampu menyembunyikan sembab di matanya. Di samping Munik, Yudi mengenakan kemeja lengan pendek dan wajah yang tampak lebih tua dari kali terakhir ia ingat. Arani juga di sana, begeming, mengenakan blouse pink dan celana jeans, serta

