Ruang kerja itu mendadak terasa lebih sempit setelah Kaiden selesai bicara. Suasana di dalam ruangan dingin karena pendingin udara menyala terlalu rendah, tetapi Aluna justru merasa wajahnya panas. Jemarinya mengepal di atas map laporan yang tadi ia bawa masuk, sementara kata-kata Kaiden masih terngiang jelas di kepalanya. “Kalau kamu tidak bisa fokus, kamu tidak akan belajar apa-apa di sini.” Nada itu. Datar. Tajam. Dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk bernapas. Aluna menunduk sesaat, berusaha menjaga ekspresinya tetap biasa. Ia tidak mau terlihat rapuh di depan pria itu. Tidak mau terlihat seperti perempuan yang gampang tersinggung hanya karena ditegur. Padahal yang menusuk bukan tegurannya. Melainkan cara Kaiden menatapnya. Formal. Dingin. Seolah mereka benar-benar t

