Sementara Aluna sibuk menyusun rencana rahasianya untuk malam nanti, Kaiden justru sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih merepotkan. Dirinya sendiri. Kesadaran itu datang perlahan. Awalnya hanya hal-hal kecil yang mudah diabaikan. Lalu semakin hari semakin sulit dipungkiri. Pagi tadi misalnya. Saat turun ke ruang makan, hal pertama yang dicari matanya bukan kopi, bukan koran bisnis yang selalu menunggunya di meja, bahkan bukan jadwal rapat yang sudah padat sejak pagi. Melainkan mobil sedan kuning lemon di halaman depan. Dan seperti beberapa minggu terakhir, mobil itu sudah tidak ada. Kaiden berdiri beberapa detik di dekat jendela ruang makan. Tatapannya menyapu halaman yang kosong. Entah berharap apa. Si Mbok yang sedang menata lauk di meja langsung tahu apa yang sedang dip

