Pagi itu rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Kaiden turun dari lantai atas dengan langkah teratur, satu tangan memegang tablet dan tangan lainnya merapikan manset kemejanya. Aroma kopi yang baru diseduh sudah memenuhi ruang makan, sementara sinar matahari pagi masuk melalui jendela-jendela besar yang menghadap taman belakang. Namun ada sesuatu yang terasa berbeda. Sesuatu yang langsung ia sadari begitu memasuki ruang makan. Kursi Aluna kosong. Tidak ada tas kerja yang biasanya diletakkan sembarangan di atas kursi. Tidak ada suara langkah tergesa-gesa dari tangga. Tidak ada keluhan soal tugas magang atau revisi tesis. Hanya kesunyian. Kaiden berhenti sejenak. Matanya menyapu ruangan. Lalu menoleh ke arah dapur. "Mbok." Si Mbok yang sedang membawa sepiring roti panggang

