Bab 30

1176 Words

“Masih marah?” tanya Kaiden pelan. Aluna terkekeh kecil, tapi terdengar hambar. “Memangnya aku punya hak buat marah?” Kaiden diam. Dan diamnya itu justru membuat da-da Aluna semakin panas. Dia mengira Kaiden sedang membahas soal sikapnya di kantor. “Aku cuma magang di kantor Om,” lanjut Aluna sambil menatap lurus ke depan. “Jadi kalau dimarahin ya harus terima aja, kan?” Kata “Om” yang keluar dari bibirnya terdengar seperti sengaja ditekan. Kaiden mengusap rahangnya pelan. “Aku negur kamu karena pekerjaan.” “Iya.” “Dan kamu memang salah.” “Iya.” “Aluna.” “Nggak usah dijelasin lagi.” Gadis itu akhirnya menoleh. “Aku ngerti kok. Profesional.” Kata terakhir itu membuat Kaiden mengembuskan napas kasar. Ia benci nada itu. Nada dingin yang dibuat-buat itu. Karena ia tahu Aluna t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD