Kaiden akhirnya bergerak. Ia menutup pintu perlahan lalu berjalan mendekat tanpa suara. Semakin dekat pria itu berdiri, semakin Aluna bisa mencium aroma maskulin yang samar bercampur hujan dan parfum mahal yang selalu melekat di tubuh Kaiden. Kaiden mengira Aluna kesal karena dia berbicara dengan wanita tadi. Jadi dia melunakkan nada suaranya. “Kamu seharusnya nggak hujan-hujanan di motor." Nada suaranya datar, berusaha menekan perasaan tidak senang saat mengingat Aluna duduk di boncengan motor pria lain. Tapi Aluna sudah terlalu mengenalnya untuk tahu kalau pria itu sedang menahan sesuatu. Aluna mengangkat bahu kecil. “Aku pikir Uncle masih akan berbicara lama dengan wanita itu.” “Dan itu alasan buat hujan-hujanan?” “Aku nggak nyangka hujannya bakal sederas ini.” Kaiden mengembus

