Grari membuka mata dengan pelan, cahaya pagi menembus tirai besar kamar mereka. Udara Bandung membawa aroma lavender dari pengharum ruangan yang biasa dipasang oleh staf rumah dinas. Ia menarik napas panjang, merentangkan tubuh di tempat tidur besar yang kini terasa… kosong. Matanya menatap langit-langit kamar, diam beberapa detik. Lalu ia menyadari sesuatu yang aneh — pagi ini terasa berbeda. Entah kenapa, ada sesuatu dalam dirinya yang lebih ringan. Mungkin karena malam itu ia benar-benar tidur nyenyak untuk pertama kalinya sejak lama. Atau… mungkin karena sekarang ada seseorang yang mengisi rumah itu. Ia bangun lalu membuka pintu ke arah kamar Felisha. Tempat tidurnya sudah rapi. Selimut dilipat sempurna. Tak ada tanda-tanda Felisha. Jam di meja menunjukkan pukul lima lewat tig

