Pagi itu, matahari menembus tirai ruang kerja kecil Felisha, menyorot ke tumpukan koper dan kotak yang baru tiba semalam. Udara di rumah dinas terasa segar, wangi campuran bunga mawar dan kayu manis dari diffuser yang disiapkan staf. Felisha berdiri di tengah ruangan, mengenakan setelan rumah sederhana berwarna biru muda, rambutnya diikat setengah, tanpa riasan. Di hadapannya, Ratih — ajudan pribadinya — sudah memegang clipboard, tampak lebih sibuk dari dirinya sendiri. “Bu, sebagian barang Ibu sudah masuk ke lemari besar. Yang dari butik masih di ruang bawah, mau saya bantu buka sekarang atau nanti aja?” tanya Ratih dengan suara profesional tapi lembut. Felisha melirik ke arah koper. “Nanti aja. Aku mau lihat dulu mana yang bisa dipakai di acara-acara resmi.” Ratih mengangguk. “Baik

