Bab 42

1366 Words

Felisha membuka mata. Ia tidak ingat dengan jelas kapan ia akhirnya tertidur—yang ia ingat hanyalah suara-suara dari rapat darurat malam sebelumnya, ketegangan, wajah panas, dan Grari yang sesekali menoleh padanya dengan sorot mata yang sukar diterjemahkan. Mata yang ingin melindungi, tapi juga marah, kecewa, dan hancur karena tidak bisa menghentikan serangan itu sejak awal. Felisha bangkit pelan, duduk di tepi ranjang. Ia memijat pelipis, merasakan sedikit pening. Ponselnya sunyi… sesuatu yang tidak biasa. Ia sungguh berharap hal itu pertanda baik. Di luar, suara langkah mengarah ke dapur. Grari sudah bangun. Felisha mengenakan cardigan tipis lalu keluar kamar. Di meja makan, Grari berdiri sambil menuang kopi ke cangkirnya sendiri. Rambutnya masih acak-acakan, kemeja putihnya belum di

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD