Felisha menata meja makan dengan tangan terampil—dua piring, dua gelas, semangkuk sup ayam jahe, dan sepiring lalapan kecil. Ia jarang memasak sendiri, tapi hari itu ia ingin melakukan sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang menenangkan, yang membumikan mereka setelah tiga hari di Garut yang begitu intens, begitu dekat, dan begitu kacau. Grari datang dari kamar setelah mandi, rambutnya masih basah, mengenakan kaus abu-abu dan celana panjang santai. Ia tampak lebih muda dalam pakaian itu—lebih manusiawi, bukan sosok calon gubernur yang selalu dijaga kamera. “Wangi banget,” katanya sambil menarik kursi. “Kamu masak?” Felisha mengangguk kecil. “Aku cuma… pengin sesuatu yang hangat.” “Terima kasih,” ucap Grari dengan senyum yang terlalu lembut. Mereka makan perlahan. Tidak ada suara selain d

