Bab 37

1571 Words

Mobil dinas berhenti di depan gerbang sebuah kompleks penginapan milik pemda. Udara Garut langsung menyambut—dingin, bersih, dan mengandung aroma tanah basah. Pepohonan pinus menjulang, dan suara burung kecil memenuhi langit yang mulai diselimuti kabut tipis. Felisha turun duluan. Sweater krem yang ia kenakan membingkai wajahnya yang lembut, rambutnya diikat setengah, sedikit terurai karena angin gunung. Udara dingin membuat pipinya berwarna merah muda alami. Grari yang turun kemudian terhenti beberapa detik. Dia tidak pernah melihat Felisha di latar semacam ini—warna alam membuatnya tampak seperti bagian dari pemandangan. “Pak, jadwal siang dimulai jam sembilan besok pagi,” laporan Lestari. Felisha mengangguk, matanya menyapu lingkungan sekitar. “Tempatnya bagus, ya.” Grari menelan n

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD