Bab 5

1557 Words
Aroma kulit baru, bunga kering, dan lilin aromaterapi memenuhi ruangan. Tapi di balik wangi itu, ada sesuatu yang berubah. Bukan pada dindingnya, bukan pada lampu gantungnya, tapi pada salah satu pemik Butik F&S Atelier. Felisha duduk di depan meja desain dengan secangkir kopi dingin yang sudah setengah mencair. Ia mengenakan blouse putih bersih dan celana panjang cokelat muda. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya tanpa riasan tebal, tapi tetap tampak lembut dalam cahaya pagi yang menembus kaca besar butik. “Lo sadar gak sih,” suara riang memecah keheningan, “butik ini sekarang udah kayak lokasi drama Korea. Setiap orang yang lewat liat lo kayak liat tokoh utama yang lagi mikirin cinta politik.” Felisha mendongak. “Shinta, lo ngomong tuh selalu random banget.” Shinta, seperti biasa, tampil kontras dengan suasana butik yang rapi. Rambutnya digerai dengan ombak kecil, mengenakan turtleneck merah dan jeans tinggi. Ia membawa tablet dan senyum lebar di wajahnya. “Gue gak random, Fel,” katanya sambil duduk di sofa. “Lo sadar gak? Semua persiapan pernikahan lo udah beres. Dekor, gaun, musik, catering, tempat. Lo literally cuma perlu dateng, senyum, terus sah.” Felisha memutar bolpoin di jarinya, pura-pura tak tertarik. “Ya, semua udah diurus tim sukses. Bahkan bunga-bunganya pun gue gak boleh pilih.” “Dan calon suami lo?” goda Shinta, menaikkan alis. “Udah dikurasi langsung sama Tuhan, kayaknya.” Felisha menatapnya jengah. “Tuhan atau tim sukses?” Shinta tertawa keras. “Oke, fine. Tapi jujur aja, Fel. Grari tuh terlalu tampan buat dibilang cuma politikus.” Felisha berpura-pura sibuk menulis sesuatu di kertas. “Dia dingin. Formal. Kalo ngomong kayak briefing militer. Udah cukup tuh buat anti-romantis.” Shinta bersandar, menatapnya dengan senyum nakal. “Dingin sekarang, hangat nanti. Lo tunggu aja. Biasanya orang kayak dia, kalau udah jatuh cinta, jatuhnya total.” Felisha menatap sahabatnya, lalu tertawa kecil. “Gue gak punya rencana jatuh cinta sama siapa pun, apalagi sama gubernur.” “Tapi lo juga gak bisa ngerencanain buat gak jatuh cinta, Fel,” balas Shinta cepat, mencondongkan tubuh. “Itu bukan hal yang bisa lo tolak kayak proyek tender.” “By the way lo tau kan kalau dia duda?” Felisha menatapnya lama, lalu meneguk kopinya pelan. “Ya tapi gue gak mau tau lebih dalam.” *** Jam hampir menunjukkan pukul dua belas siang ketika suara mobil berhenti di depan butik. Shinta mengintip dari jendela. “Dan itu dia. Calon suami lo udah dateng. Duh, aura gubernurnya tuh berasa kayak karakter utama di drama Netflix versi Indonesia.” Felisha berdiri, membenarkan rambutnya di cermin kecil. “Shin, lo jangan mulai…” Tapi pintu butik sudah terbuka. Grari masuk, diikuti Radit yang menjaga jarak. Ia mengenakan kemeja putih dengan jas abu terang dan celana bahan gelap. Rambutnya disisir rapi, wajahnya bersih tanpa bekas lelah. Begitu masuk, aroma parfum woody-nya langsung memenuhi ruangan — samar, mahal, tapi tenang. Mata Felisha secara refleks mengikutinya. Entah kenapa, ruangan yang biasanya terasa besar mendadak terasa sempit. “Tempat yang bagus,” katanya sambil melihat sekeliling. Suaranya rendah, tenang. “Aku sering lewat sini tapi gak pernah masuk.” Shinta langsung menyambutnya dengan gaya profesional sekaligus genit ringan. “Pak Gubernur, selamat datang di F&S Atelier. Saya Shinta, co-founder sekaligus—” Felisha menyela cepat, “—sahabat saya yang suka bicara tanpa filter.” Grari tersenyum samar. “Senang kenalan dengan sahabat calon istri saya yang suka bicara ta pa filter.” Shinta membalas senyum itu dengan tatapan bercanda. “Saya juga, Pak. Tapi jujur, saya mulai ngerti kenapa media percaya kalian cinta lama yang disembunyikan. Kalian tuh matching banget kalau dilihat langsung.” Felisha menatapnya tajam, tapi Shinta hanya nyengir. Grari melirik Felisha sebentar. “Terima kasih atas pujiannya, tapi kayaknya kami masih butuh waktu buat ‘terlihat alami’.” Shinta terkekeh, lalu mencondongkan tubuh ke arah Felisha dan berbisik di telinganya, “Kami akan jatuh cinta dengannya.” Felisha menahan diri agar tidak memukulnya. *** Mobil hitam dinas melaju menembus jalan menanjak menuju Lembang. Di luar, pohon pinus berjejer rapi, kabut mulai turun lembut, dan udara berubah sejuk. Di dalam mobil, hening. Felisha duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela. Jalanan berliku di bawah sinar sore, rumah-rumah kecil berjarak di antara kebun teh. Sementara di sebelahnya, Grari sibuk dengan iPad-nya — membaca laporan, membalas pesan, memberi tanda tangan digital. Ia begitu fokus hingga Felisha sempat berpikir, apakah pria itu pernah benar-benar berhenti bekerja? Setiap detik, ia tampak hidup di antara keputusan dan deadline. Namun justru itu — keseriusan, ketenangan, dan kontrol dirinya — yang perlahan menarik perhatian Felisha tanpa ia sadari. Sesekali, tatapannya melirik ke arah tangan Grari yang mengetik cepat di layar. Jemarinya panjang, rapi, dengan cincin perak di jari kelingking kiri. Bukan cincin pernikahan, tapi entah kenapa Felisha memperhatikan terlalu lama. “Kenapa diam?” tanya Grari tanpa menoleh. Felisha kaget sedikit. “Gak, cuma… liat pemandangan.” “Kamu gak terbiasa diam,” ujarnya datar tapi tidak sinis. “Biasanya kamu banyak protes.” Felisha melipat tangan di d**a. “Mungkin karena sekarang gak ada yang bisa diprotes.” “Bagus,” jawab Grari, tapi sudut bibirnya menahan senyum. Setelah 65 menit, mereka turun di hanoaran kebun teh membentang hijau sejauh mata memandang, udara Lembang sore itu jernih, dengan matahari yang mulai condong ke barat. Di antara kabut tipis, fotografer dan kru kecil sudah menunggu di pinggir jalan setapak. Felisha turun dari mobil, memeluk lengan karena udara dingin. Gaun putih sederhana dengan kain chiffon mengalir menempel di tubuhnya, dipadukan dengan syal tipis abu muda. Rambutnya dibiarkan terurai lembut, dihiasi jepit bunga kecil di sisi kiri. Grari keluar menyusul — mengenakan kemeja putih dan jas krem tanpa dasi, penampilannya bersih dan tenang seperti cuaca sore itu. Ketika mereka berdiri berdampingan, kru fotografer langsung saling pandang. Tak perlu diarahkan. Keduanya terlihat seperti pasangan yang sudah lama saling mengenal. Sesi dimulai dengan canggung. Felisha berdiri di depan kamera, Grari di sisinya, dan fotografer memberi instruksi: “Sedikit lebih dekat, Pak. Tangan di pinggang Ibu, pandangannya ke arah barat. Ibu, condong sedikit ke arahnya…” Felisha menoleh cepat. “Apa perlu sedekat itu?” Fotografer mengangguk polos. “Natural aja Bu. Jangan malu-malu.” Grari tersenyum tipis. “Kita pura-pura, kan? Gak susah.” Felisha mendengus pelan. “Kamu ngomongnya gampang banget.” Tapi ketika mereka berdiri lebih dekat, jarak di antara mereka hampir menghilang. Felisha bisa merasakan napas hangat pria itu di kulit lehernya. Sementara Grari menatap ke depan, tapi sesekali menoleh — tatapan matanya singkat, menahan sesuatu yang sulit didefinisikan. “Bagus, Pak, Bu! Sekarang tolong saling menatap. Sedikit senyum,” fotografer memberi aba-aba. Felisha menurut, meski gugup. Saat matanya bertemu dengan Grari, waktu seolah melambat. Tatapan itu tak lagi kaku, tak lagi formal. Ada rasa tenang, ada kehangatan yang entah datang dari mana. Fotografer menurunkan kameranya sebentar, lalu berbisik ke asisten, “Mereka beneran pasangan, kan?” *** Seiring waktu, mereka mulai lebih santai. Grari mulai melempar candaan kecil — hal yang tidak pernah Felisha bayangkan keluar dari mulut seorang gubernur. “Jangan melamun terus,” katanya saat Felisha menatap senja terlalu lama. “Kameranya gak sabar.” Felisha meliriknya. “Aku cuma menikmati udara, bukan kayak kamu yang menikmatin spotlight.” “Spotlight cuma nyala kalau ada seseorang yang pantas di sampingnya.” Felisha menatapnya lama. “Itu gombal banget.” “Tapi berhasil bikin kamu senyum,” balasnya cepat. Sore itu, tawa mereka mulai terdengar di antara angin dan klik kamera. Canggung perlahan berubah jadi nyaman. Menjelang matahari tenggelam, langit berubah warna. Awan hitam tipis datang dari utara. Fotografer baru sempat mengambil beberapa pose terakhir sebelum hujan pertama jatuh. “Cepat, Pak, Bu! Satu lagi di tengah jalan setapak!” teriak fotografer. Mereka berlari kecil, menertawakan kebodohan sederhana: berlari dengan pakaian formal di tengah kebun teh. Tapi hujan turun lebih cepat dari dugaan. Rintik kecil berubah jadi deras. Kru mulai menutupi peralatan, asisten menjerit, fotografer berlari mencari tempat berteduh. Felisha menunduk, melindungi wajahnya, saat Grari menarik tangannya. “Ayo sini!” katanya. Mereka berlari menuju sebuah gazebo kayu kecil di pinggir kebun. Hujan turun deras, membasahi tanah dan daun teh. Suara air menimpa atap kayu menciptakan ritme yang menenangkan. Felisha berdiri di pojok gazebo, napasnya naik turun, rambutnya sedikit basah, pipinya memerah karena dingin. Grari melepas jasnya, lalu tanpa pikir panjang menyampirkannya di bahu Felisha. “Bisa sakit kalau terus basah.” Felisha menatapnya, matanya lembut. “Kamu gak dingin?” Grari tersenyum samar. “Udah terbiasa.” “Terbiasa apa?” “Terbiasa nyembunyiin rasa gak nyaman.” Felisha menunduk, menatap cincin di jarinya. “Aku gak tahu kamu bisa ngomong kayak gitu.” “Aku juga gak tahu bisa ngomong kayak gini ke kamu.” Mereka tertawa pelan. Suara hujan menjadi satu-satunya musik di antara mereka. Beberapa menit berlalu dalam diam, tapi bukan diam yang kaku. Felisha menatap ke kabut, ke hujan, ke tanah hijau yang memantulkan kilau air — lalu berbisik, “Kayaknya aku mulai ngerti kenapa orang suka hujan.” “Kenapa?” “Soalnya kadang, cuma waktu hujan, kita bisa diem bareng seseorang tanpa harus mikirin dunia luar.” Grari menatapnya lama. Dan tanpa ia sadari, senyumnya muncul — senyum yang belum pernah dilihat siapa pun di media, senyum yang manusiawi. Felisha merasakannya. Dan di tengah hujan yang menenangkan, sesuatu dalam dirinya mulai berubah — perlahan, seperti daun teh yang perlahan basah tapi tak pernah tenggelam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD