Sudah hampir dua minggu sejak sesi foto hujan di Lembang, dan sejak itu Felisha dan Grari jarang bertemu lagi. Semua komunikasi mereka berlangsung lewat pesan singkat, dokumen dari protokol, atau jadwal yang disampaikan oleh ajudan masing-masing.
Kadang Felisha berpikir — aneh juga, menikah dalam dua minggu dengan seseorang yang jarang ia lihat. Tapi di dunia yang sedang ia masuki sekarang, “aneh” sepertinya sudah jadi bahasa sehari-hari.
Felisha duduk di ruang tengah Rumah,membuka pintu balkon udara Bandung terasa lembut pagi itu, cahaya matahari menembus jendela besar, menyentuh kulitnya yang pucat.
Di depannya, secangkir teh melati masih mengepul, sementara di meja, map berwarna biru muda bertuliskan:
“Interviu Eksklusif Bazaar Indonesia – Persiapan dan Narasi Pra-Nikah.”
Ratih, ajudan pribadinya, berdiri di dekat pintu. “Bu, tolong dibaca ulang sebelum besok. Reporter dari Bazaar itu… agak berbahaya.”
Felisha mengangkat alis. “Berbahaya?”
“Mereka punya reputasi. Nanyanya halus, tapi kalau gak hati-hati, bisa kebaca yang bohong.”
Felisha membuka map itu. Di dalamnya ada dokumen tebal berisi ringkasan wawancara dan profil pribadi — semua hal yang seharusnya ia tahu tentang Grari, dari hal penting sampai sepele.
Hobi: membaca sejarah, minum kopi hitam tanpa gula, berlari pagi setiap Sabtu.
Warna favorit: biru tua.
Hal yang paling ia benci: kebohongan publik.
Felisha menatap catatan itu lama.
Ada ironi di sana. Dua orang yang terjebak dalam kebohongan, akan diwawancara oleh majalah yang terkenal karena menggali “kebenaran manusia”.
Ia menutup map pelan. “Gak apa, Ratih. Aku akan jawab apa adanya. Sejujurnya mungkin lebih aman daripada pura-pura.”
Ratih tersenyum kecil. “Itu karena Ibu bukan politisi.”
“Untungnya, belum,” balas Felisha lembut.
***
Ruang itu disulap jadi set studio: dinding putih, bunga segar di sudut, dua kursi beludru abu muda.
Di tengah ruangan, kamera dan lampu besar berdiri berjejer, memantulkan cahaya lembut di lantai marmer.
Felisha datang pertama.
Ia mengenakan kebaya Sunda modern warna hijau zamrud dengan selendang emas tipis yang jatuh di bahu. Rambutnya disanggul, dihiasi tusuk konde berbentuk bunga melati, dan riasannya lembut — hanya blush ringan dan lipstik nude.
Dari jauh, ia tampak seperti lukisan klasik yang hidup.
Sambil menunggu, ia duduk di kursi, membuka ponsel, dan melihat berita.
Headline-nya:
“Pernikahan Tahun Ini: Cinta Politik Gubernur Jawa Barat Grari Sukma Halan dan Putri Mahkota Partai Felisha Jamil, Siap Digelar Pekan Depan.”
Felisha menatap foto mereka di artikel itu — hasil prewedding di Lembang, saat hujan mulai turun.
Ia terlihat tersenyum. Grari menatapnya lembut.
Semuanya tampak alami.
Terlalu alami.
“Hey,” suara berat menyapanya.
Ia menoleh.
Grari berdiri di ambang pintu, mengenakan beskap putih gading dengan sabuk batik sogan dan kalung Sunda dari manik emas.
Cahaya lampu studio memantul di kulitnya, membuatnya tampak seperti tokoh wayang hidup — agung tapi nyata.
“Maaf, aku telat,” katanya.
Felisha tersenyum kecil. “Kamu datang tepat waktu. Lima menit lagi masih ‘fashionably late’.”
Grari tertawa pelan. “Kamu udah mulai terbiasa hidup dengan jadwal protokol.”
“Mulai belajar, bukan terbiasa,” jawab Felisha, lalu matanya tak sengaja menatap lebih lama dari seharusnya.
Entah kenapa, setiap kali ia melihat pria itu dalam balutan pakaian adat, ada perasaan samar yang sulit dijelaskan — seperti sesuatu di dadanya yang tak mau diam.
Reporter dari Bazaar duduk di seberang mereka, seorang perempuan muda bernama Mira Santosa, dikenal tajam tapi sopan.
Ia tersenyum manis, tapi sorot matanya penuh analisis.
“Kalian berdua luar biasa serasi hari ini,” katanya membuka percakapan. “Bisa dibilang, ini salah satu momen paling ditunggu publik. Terima kasih sudah memberi waktu di tengah kesibukan.”
Grari mengangguk sopan. “Sama-sama. Kami juga senang bisa berbagi sedikit cerita.”
“Sedikit?” sahut Felisha, pura-pura ringan. “Reporter seperti Anda biasanya bisa menggali banyak hal bahkan dari satu kata.”
Mira tertawa kecil. “Betul, Teh Feli. Tapi kali ini saya janji akan lembut.”
Reporter menatap keduanya, lalu tersenyum lebih lebar. “Teteh bisa bahasa Sunda?”
Felisha mengangguk santun, lalu menjawab dalam bahasa Sunda yang lembut dan rapi:
“Tiasa, teh. Sanes lancar pisan, tapi tiasa ngartos. Ibu saya orang sunda asli.”
(Bisa, Mba. Tidak terlalu lancar, tapi masih mengerti.)
Ruangan langsung hening sesaat.
Grari menatap Felisha dengan ekspresi yang sulit dijelaskan — setengah terkejut, setengah kagum.
Nada suaranya lembut, tapi intonasinya tepat.
Bahasa Sunda-nya bukan hasil belajar dari buku. Itu bunyi seseorang yang tumbuh dari akar yang sama.
Reporter menahan senyum. “Aa Grari, kayaknya Teteh Feli ini bukan cuma cantik, tapi juga Sunda pisan, ya?”
Grari tertawa kecil, suaranya hangat dan pelan. “Muhun.”
Reporter langsung menimpali cepat, “Jadi Aa setuju kalau Teteh Feli ini memang jodoh yang pas?”
Felisha menatap reporter itu dengan wajah setengah geli. “Pertanyaan jebakan, ya?”
Grari menatap Felisha, matanya berkilat. “Kalau jawab jujur, nanti masuk berita.”
Felisha tersenyum pelan. “Kalau jawab bohong, kamu bisa ketahuan.”
Mira Santosa, sang reporter, tertawa puas. “Wah, sepertinya hubungan ini sudah penuh gurauan manis bahkan sebelum resmi menikah.”
“Kalau boleh tahu,” lanjut Mira, “apa hal pertama yang membuat kalian saling tertarik?”
Felisha menatap meja, berpikir sejenak. Ia tahu ini bagian yang paling sensitif — tempat publik mencari celah apakah hubungan mereka palsu.
Tapi ketika ia menatap Grari, kalimatnya keluar begitu saja.
“Mungkin… ketenangan,” ujarnya pelan. “Saya sering panik, tapi setiap dia bicara, entah kenapa semua terasa teratur. Kadang nyebelin sih, tapi… menenangkan juga.”
Grari menatapnya lama sebelum bicara. “Dan mungkin saya tertarik karena… dia selalu berani ngomong apa pun yang dia pikirkan. Saya jarang ketemu orang yang bisa ngelawan saya tanpa takut.”
Reporter menulis cepat, lalu mengangguk dengan wajah puas.
“Wah, jarang sekali mendengar Gubernur Halan bicara selembut itu.”
Felisha menimpali, “Mungkin karena di depan saya dia bukan gubernur, cuma laki-laki yang jatuh cinta?” Felisha menatap Grari dengan manja.
Wajah Grari memerah seketika dan ruangan hening sesaat.
Grari menoleh pelan, menatapnya lama — lebih lama dari seharusnya.
Dan di balik tatapan itu, Felisha bisa merasakan sesuatu bergeser.
“Aa dijawab eh, nanti Teh Felinya marah.”
“Tentu saja. Jatuh cinta.” Grari menatap Feli.
Sesi foto berlanjut setelah wawancara.
Mereka berganti posisi — berdiri bersebelahan, lalu duduk di kursi panjang dengan latar batik Sunda kuno.
Reporter memberi arahan lembut, fotografer menyesuaikan pencahayaan.
“Sedikit lebih dekat, Pak. Ibu, tolong pegang tangan beliau.”
Felisha menuruti. Jemarinya menyentuh tangan Grari, dingin di awal tapi perlahan hangat.
Fotografer berkata, “Bagus, tahan. Sekarang, lihat satu sama lain.”
Felisha menatap pria di depannya.
Bukan sebagai gubernur. Bukan sebagai simbol politik.
Hanya sebagai seseorang yang entah kenapa, terasa aman.
Dan Grari, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, lupa bahwa ada kamera di sekelilingnya.
Ia menatap Felisha tanpa rencana, tanpa skrip.
Hanya tatapan yang jatuh begitu saja — seperti sesuatu yang sudah lama ia cari.
Setelah sesi berakhir, kru mulai membereskan peralatan.
Felisha mengucapkan terima kasih.
Begitu reporter pergi, Grari masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya belum lepas dari Felisha yang sedang merapikan kebayanya.
“Kamu luar biasa tadi,” katanya akhirnya.
Felisha menoleh. “Karena bisa bahasa Sunda?”
“Karena kamu bisa bikin semua orang percaya… bahkan aku.”
Felisha terdiam. “Percaya apa?”
“Bahwa semua ini bukan pura-pura.”
Ia ingin tertawa, tapi suara Grari terlalu serius untuk dianggap candaan.
Felisha menatapnya beberapa detik, lalu berkata pelan, “Jangan percaya terlalu jauh, Pak Gubernur. Kita masih di panggung yang sama.”
Grari menatap ke arah jendela, lalu tersenyum samar. “Mungkin. Tapi untuk pertama kalinya, aku gak merasa sedang akting.”