Aroma pinus bercampur bunga mawar putih menyelimuti kawasan Gedong Putih, tempat pernikahan Felisha dan Grari akan berlangsung.
Dari luar, bangunan itu tampak megah namun elegan: dinding serba putih, jendela besar dengan bingkai kayu jati, dan taman hijau yang dibingkai jalan batu alam.
Dari kejauhan, kabut menggantung di lereng bukit, seperti tirai halus yang menunggu untuk dibuka pada momen penting.
Di balik keindahan itu, semua orang bergerak cepat.
Protokol partai, staf rumah dinas, dan tim acara bekerja dengan efisiensi luar biasa.
Tidak ada keramaian publik. Tidak ada wartawan.
Namun kamera tersembunyi sudah disiapkan di beberapa sudut ruangan — dokumentasi untuk disiarkan nanti, setelah semuanya aman.
Hari ini bukan sekadar pernikahan. Ini adalah pertunjukan politik yang diselimuti perasaan sungguhan yang belum sempat mereka pahami.
Felisha duduk di depan cermin besar, tubuhnya diselimuti kebaya Sunda berwarna putih mutiara dengan detail payet dan bordir emas di tepi lengan.
Rambutnya disanggul tinggi, dihiasi siger perak yang memantulkan cahaya lembut dari lampu di atas meja.
Make-up artist bekerja pelan, seolah menyentuh porselen — foundation tipis, eyeshadow keemasan, dan lipstik merah muda pucat.
Sinta duduk di belakangnya, mengenakan kebaya ungu muda, memegang ponsel tapi tak berhenti menatap sahabatnya di cermin.
“Fel,” katanya pelan, “gue gak nyangka akhirnya lo beneran menikah.”
Felisha tersenyum tipis, matanya masih menatap pantulan diri sendiri. “Gue juga gak nyangka, Shin. Rasanya masih kayak mimpi yang terlalu nyata.”
Sinta terkekeh. “Mimpi mahal, ya. Gedong Putih, kebaya desainer, saksi presiden.”
Felisha menggeleng. “Kalau lo tahu rasanya, lo gak akan nyebut mahal. Lebih kayak… mimpi yang disponsori tekanan.”
Sinta menatapnya lewat cermin, lalu menggenggam tangannya. “Tapi lo tetap cantik. Serius, Fel, ini pertama kalinya gue lihat lo seanggun ini. Kayak versi yang bahkan Tuhan pun berhenti sebentar buat ngeliat.”
Felisha tertawa kecil, pelan. “Gombal.”
“Beneran, sumpah.”
Mereka tertawa pelan. Suara lembut itu terdengar seperti oase di tengah hiruk-pikuk luar ruangan.
Lalu pintu ruang rias terbuka perlahan.
Dua perempuan masuk. Yang pertama, seorang wanita sekitar lima puluh tahun dengan aura elegan dan tajam — Sukmawati, ibunda Grari.
Yang kedua, seorang gadis muda berwajah cerah dengan rambut hitam panjang tergerai — Sheila, adik Grari.
Dari dokumen Grari tertulis mereka sudah tak serumah 20 tahun, Sukmawati menikah dengan Expatriat dan kabur ke USA 20 tahun lalu saat Grari berusia 13 tahun. Dan Sheila adalah adik tirinya. Grari baru berhubungan lagi dengan mereka saat akan menjadi Gubernur 6 tahun lalu. Demi nama baik, Ia tidak mau Ibunya berkata macam-macam saat Ia sudah menjadi Gubernur. Jadi bagi Grari mereka orang asing.
Sinta dan Felisha serempak berdiri.
Suasana seketika berubah: dari santai menjadi penuh kesopanan yang hati-hati.
Sukmawati melangkah anggun, kebaya hijau zaitun membingkai tubuhnya dengan sempurna, bros mutiara besar menempel di d**a.
Tatapannya menelusuri Felisha dari kepala sampai kaki — bukan dengan kebencian, tapi dengan analisis.
Seolah ia sedang menilai sebuah karya yang belum tahu apakah layak dipajang di ruang keluarganya atau tidak.
“Felisha, ya?” katanya akhirnya, suaranya lembut tapi mengandung ketegasan.
Felisha menunduk hormat. “Iya, Bu. Terima kasih sudah datang.”
Sukmawati tersenyum tipis. “Tentu. Saya Ibu Kandung Grari, gak mungkin melewatkan momen penting anak saya. Apalagi kalau perempuannya seanggun ini.”
Nada itu samar — di antara pujian dan pengingat bahwa ia masih memegang kendali.
Sheila mendekat dengan senyum lebih hangat. “Teh Feli, aku Sheila. Akhirnya bisa ketemu juga. Selama ini cuma tahu dari akun gossip.”
Felisha balas tersenyum. “Senang sekali bertemu kamu, Sheila. Aku juga sempat dengar kamu lagi kuliah di Amerika, ya?”
“Iya, baru libur semester. Aku sengaja pulang buat acara ini.”
Sinta, yang sedari tadi berdiri di sisi lain ruangan, memperhatikan semuanya.
Dari tatapan tajam Sukmawati ke tangan Felisha, hingga senyum lembut Sheila yang tulus.
Lalu pandangannya beralih ke Radit, ajudan Grari, yang baru saja masuk untuk memberi kabar pada protokol.
Sinta menatapnya lama, lalu tersenyum kecil — ada sesuatu di sana, sesuatu yang bahkan Felisha tidak perhatikan.
***
Waktu terasa lebih cepat ketika semuanya sudah siap.
Tamu-tamu mulai berdatangan — hanya sekitar empat puluh orang.
Presiden dan Ibu Negara duduk di kursi kehormatan paling depan, di sebelah kanan. Wakil Gubernur Jawa Barat di sisi kiri.
Sisanya: kerabat dekat, beberapa pejabat tinggi, dan teman keluarga dari pihak Jamil dan Halan.
Ruang akad dipenuhi wangi melati dan suara gamelan halus.
Karpet putih menghampar dari pintu masuk menuju pelaminan yang dihias bunga mawar dan daun hijau segar.
Langit-langit ruangan berlapis lampu gantung kaca bening yang berpendar lembut, menciptakan suasana sakral dan hangat sekaligus.
Felisha berdiri di depan pintu, memegang buket kecil mawar putih.
Sinta berdiri di sebelahnya, mengatur napas sahabatnya yang mulai tak teratur.
“Gue deg-degan banget,” bisik Felisha.
“Deg-degan tuh tandanya masih manusia,” balas Sinta sambil menggenggam tangannya erat. “Lo gak sendirian.”
Musik perlahan berganti menjadi kacapi suling.
Koordinator acara memberi isyarat. Pintu besar mulai terbuka pelan.
Grari sudah menunggu di pelaminan.
Ia mengenakan beskap putih bersulam benang emas, blangkon senada di kepala, dan kalung Sunda yang melingkar di d**a.
Wajahnya tenang tapi matanya bergerak gelisah — sampai pandangannya berhenti pada pintu besar yang terbuka perlahan.
Dan di sanalah Felisha berjalan masuk.
Cahaya dari luar ruangan menyorot tubuhnya dari belakang, menciptakan siluet yang nyaris ilahi.
Kebaya putihnya berkilau lembut, siger di kepalanya memantulkan cahaya bagaikan mahkota.
Grari nyaris lupa bernapas.
Setiap langkah Felisha terasa lambat, tapi setiap detik menempel kuat di dadanya.
Dunia di sekelilingnya hilang. Tak ada musik, tak ada tamu — hanya perempuan itu yang berjalan menuju hidupnya.
Ketika Felisha sampai di hadapannya, Haris Jamil maju dan menggenggam tangan putrinya.
Suara ayahnya pelan, tapi tegas, menahan getar emosi.
“Aku nikahkan engkau, Felisha Jamil, putriku, dengan Grari Sukma Halan, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan berlian dibayar tunai.”
Grari menarik napas panjang, lalu menjawab dengan mantap, “Saya terima nikahnya Felisha Jamil binti Haris Jamil dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
Suara penghulu menggema, disambut ucapan “Sah” dari para saksi — termasuk Presiden dan Wakil Gubernur.
Tepuk tangan lembut terdengar, lalu gamelan kembali berbunyi pelan.
Felisha menunduk, matanya berkaca.
Grari menatapnya, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia benar-benar tersenyum — bukan untuk kamera, bukan untuk politik, tapi karena ia sungguh bersyukur.
Sesi sungkeman dimulai.
Felisha mencium tangan ayahnya lama, menahan air mata yang jatuh.
Haris menepuk kepala putrinya, suaranya nyaris bergetar. “Kamu bukan lagi anak kecil, Fel. Tapi tetap rumahku.”
Felisha memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh perlahan di tangan ayahnya.
Sukmawati, ibu Grari, menyambutnya dengan pelukan singkat. “Selamat datang di keluarga ini, Felisha,” katanya, kali ini dengan nada yang tulus.
Sheila datang memeluk kakak iparnya dengan semangat muda yang hangat. “Teh Feli sekarang resmi jadi Teteh aku!”
Sinta berdiri di belakang, menyeka matanya.
Radit mendekat, menyerahkan tisu dengan malu-malu.
Sinta tersenyum kecil. “Kamu juga nangis, ya?”
Radit tersipu. “Nggak, cuma debu.”
“Debu di mata, atau di hati?”
Radit hanya bisa tertawa kecil — wajahnya memerah.
Setelah semua ritual selesai, tamu-tamu mulai berdiri.
Cahaya senja menembus jendela kaca besar, menciptakan warna oranye lembut yang membelai ruangan.
Felisha berdiri di dekat jendela, menatap keluar — napasnya tenang, tapi matanya masih menyimpan gemuruh.
Grari berjalan mendekat, kini tanpa blangkon. Rambutnya sedikit berantakan, tapi justru membuat wajahnya lebih manusiawi.
Ia berdiri di samping Felisha tanpa bicara.
Beberapa detik kemudian, ia menoleh pelan.
“Kamu tahu,” katanya, suaranya pelan, “Kamu cocok jadi Bu Gubernur.”
Felisha menatapnya, mengerutkan alis.
“Maksudmu?”
“Kamu terlihat lebih dewasa dengan make up itu. Kemarin aku seperti akan menikahi anak SMA”
Felisha menunduk, bibirnya menahan senyum. “Pujian?”
“Ya.”
“Terimakasih”
Grari tertawa pelan, menatap ke luar jendela. Felisha. Tak tahu kalau hatinya berdegup kencang tak karuan.
Dan di antara kilatan kamera tersembunyi itu, satu hal terasa pasti:
Ia tidak lagi berpura-pura kagum.
Ia benar-benar terpesona.