“Capek?”
Suara Grari terdengar lembut di tengah denting lagu Bersamamu dari Jaz dimainkan orkestra yang ada di tengah panggung dan riuh tawa tamu undangan.
Felisha menoleh, tersenyum kecil di balik gemerlap lampu taman yang menggantung di udara malam. “Sedikit. Tapi sepertinya semua orang bahagia malam ini, jadi aku gak boleh kelihatan lelah.”
Grari menatapnya sebentar, lalu menunduk pelan, suaranya nyaris seperti bisikan, “Ini belum seberapa dari yang akan kamu hadapi nanti.”
Felisha menahan napas. Kalimat itu sederhana, tapi keluar dari mulut seorang gubernur yang akan Ia dampingi entah berapa lama. Dan kalimat itu seperti peringatan.
***
Langit Lembang malam itu cerah setelah hujan sore tadi berhenti. Udara dingin membawa aroma tanah basah dan bunga mawar segar dari taman Gedong Putih. Di halaman luas yang ditata menjadi lokasi resepsi, ratusan lampu gantung menggantung di antara pepohonan pinus — seperti bintang yang ditarik turun ke bumi.
Panggung utama berdiri di tengah taman, dihiasi kelopak mawar putih dan pita satin.
Sebuah orkestra kecil memainkan musik jazz lembut di bawah tenda transparan.
Tamu-tamu berdiri berkelompok, berbicara dengan suara teredam, gelas-gelas wine beradu perlahan, dan tawa formal terdengar di sana-sini.
Pesta itu tampak seperti lukisan yang disusun dengan sempurna — elegan, berkelas, dan politikus.
Felisha berdiri di pelaminan bersama Grari, mengenakan gaun malam semata kaki lengan panjang berwarna champagne, pinggangnya dibalut pita satin tipis yang memantulkan cahaya lampu.
Gaun itu mengikuti setiap gerakannya dengan lembut, memantulkan kemewahan yang tidak berlebihan.
Rambutnya digelung rendah dengan untaian melati kecil yang menjuntai di sisi kiri, sementara perhiasan mutiara menggantung di telinganya, berayun tiap kali ia menoleh.
Di sebelahnya, Grari mengenakan tuxedo hitam klasik dengan dasi kupu-kupu satin. Jasnya tampak pas di tubuhnya, dan meski wajahnya terlihat tenang, matanya sulit melepaskan pandangan dari istrinya malam itu.
Ia menatap Felisha seperti menatap sesuatu yang seharusnya ia jaga tapi belum tahu caranya.
“Fel! Lama banget persiapannya.”
Suara familiar membuat Felisha tersenyum lega.
Sinta datang, kali ini dengan kebaya biru muda, ditemani Radit yang terlihat canggung memegang buket bunga kecil di tangan.
Felisha memeluk sahabatnya erat. “Tadi waktu lo keluar gue kira lo bakal kabur karena bosen sama orang politik.”
“Mana bisa! Emang lo ada rencana punya pesta nikah gini lagi?”
Felisha tertawa kecil. “Jujur ini bukan part rencana gue juga kan. Gue cuma jatuh di tempat yang salah, terus diangkat ke pelaminan.”
Sinta menepuk lengannya. “Kadang hidup tuh lucu.”
Radit, di sisi lain, berdiri agak kaku. Tatapannya beberapa kali berpapasan dengan Sinta, dan setiap kali, wajahnya memerah sedikit. Sinta memperhatikannya dengan ekor mata, lalu tersenyum kecil — ada sesuatu yang berputar diam-diam di antara mereka.
Sementara itu, di sisi kanan pelaminan, Grari diserbu teman-teman lamanya — para pejabat muda, pengusaha, dan sahabat lama semasa kuliah.
“Grar! Gak nyangka lo akhirnya kalah juga!”
“Serius, bro, gue pikir lo bakal melajang seumur hidup kayak tokoh politik tua itu!”
“Tapi gila, lo dapet istri muda, cantik, desainer pula. Politik lo makin aman, man!”
Tawa pecah di antara mereka.
Grari hanya tersenyum sopan, tapi matanya sempat melirik ke arah Felisha — memastikan ia tidak mendengar semuanya.
Felisha memang tidak mendengarnya jelas, tapi dari bahasa tubuh mereka, ia cukup tahu mereka sedang membicarakan keberuntungan politik Grari, bukan cinta atau kebahagiaan.
Sukmawati duduk di kursi tamu kehormatan, mengenakan kebaya hijau tua dan selendang batik sogan. Dari tempatnya, ia beberapa kali melirik ke arah pelaminan dengan tatapan yang sulit dibaca — bukan kebencian, tapi seolah menimbang, Apakah perempuan itu benar-benar pantas berdiri di sana?
Sementara itu, Haris Jamil, ayah Felisha, sibuk berkeliling menyapa para tamu politik — dari menteri hingga petinggi partai.
Ia tertawa keras, berjabat tangan dengan hangat, membicarakan hal-hal yang jelas bukan tentang putrinya.
Malam itu, Felisha sadar — pesta ini bukan tentang dirinya.
Bukan tentang cintanya.
Tapi tentang pengaruh.
Ia berdiri di pelaminan, tersenyum untuk setiap kamera yang diarahkan padanya, tapi jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang terasa kosong.
***
Setelah dua jam berdiri, Felisha mulai merasa kakinya berdenyut.
Sepatu stiletto satin berwarna perak yang ia kenakan terasa semakin sempit, menghimpit kulit kakinya yang mulai merah.
Ia mencoba menggeser sedikit posisinya, tapi rasa sakitnya makin terasa.
Grari, yang tengah berbicara dengan seorang menteri, melirik sekilas.
Tatapannya langsung berubah.
“Fel, kamu kenapa?” suaranya pelan tapi tegas.
Felisha tersenyum kaku. “Gak apa-apa, cuma sedikit pegal.”
Namun ketika ia bergeser lagi, kakinya tersentuh dan nyeri memaksa wajahnya menegang.
Grari langsung menghentikan percakapan. “Maaf, Pak, sebentar.”
Dalam beberapa detik, semua orang memperhatikan.
Grari turun dari pelaminan, memegang tangan Felisha, lalu berjongkok sedikit.
“Kamu bisa jalan?” tanyanya.
Felisha menunduk malu. “Kayaknya kram.”
Beberapa tamu tersenyum geli, bahkan ada yang bersorak pelan.
“Romantis banget, Gubernur! Gendong aja, Pak!” seru seseorang di barisan belakang.
Grari menatapnya tajam, tapi tak berkata apa-apa.
Ia menatap Felisha yang berusaha berdiri, tapi goyah.
Tanpa berpikir lama, ia menyelipkan satu tangan ke bawah lutut Felisha dan satu lagi di punggungnya.
Felisha kaget. “Pak Gub Jangan di sini—”
Namun sebelum protesnya selesai, tubuhnya sudah terangkat.
“Tenang aja,” kata Grari datar. “Lebih cepat gini.”
Orang-orang bersorak kecil, menertawakan adegan itu.
Beberapa tamu wanita menutup mulut, berbisik antara kagum dan iri.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Felisha melihat sisi Grari yang tak lagi terikat protokol — spontan, melindungi, dan… manusia.
***
Ruangan rias pengantin itu kosong, hanya cahaya lampu lembut dan aroma parfum melati yang tertinggal dari siang.
Grari menurunkan Felisha di sofa panjang.
“Kakimu mana yang sakit?” tanyanya, suara rendah tapi khawatir.
Felisha menunjuk kaki kanan, wajahnya sedikit menunduk malu.
Grari berlutut.
Ia menarik ujung gaun dengan hati-hati, memastikan tidak ada lipatan yang tersangkut, lalu menaikkan kain satin itu sedikit hingga terlihat mata kaki yang kemerahan.
Felisha menahan napas.
Sentuhan udara dingin di kulitnya terasa aneh — bukan karena dingin, tapi karena ada seseorang di sana, begitu dekat, begitu tenang.
Grari memeriksa perlahan. “Kamu memaksakan diri, ya?”
Felisha tersenyum kecil. “Bukan aku. Sepatunya yang egois.”
Grari menatapnya sekilas, lalu berdiri, berjalan ke lemari kecil di sudut ruangan.
Dari dalam, ia mengambil kotak P3K, membuka dengan satu tangan, lalu mencari sesuatu di dalamnya.
“Koyo. Biasanya ampuh buat otot tegang,” gumamnya.
Ia kembali berlutut di depan Felisha, tapi sebelum menempelkan koyo itu, tangan Felisha cepat menahan pergelangan tangannya.
“Aku bisa pasang sendiri.”
Mata mereka bertemu.
Grari terdiam. Jemarinya masih dipegang Felisha — hangat, kecil, tapi tegas.
Ia menelan napas, lalu tersenyum samar. “Baiklah.”
Ia menyerahkan koyo itu.
Felisha menempelkannya perlahan, menahan nyeri kecil sambil berkata pelan, “Kamu harusnya balik. Tamu-tamu penting nunggu kamu.”
“Biarin mereka nunggu.”
Felisha menggeleng. “Ayolah jangan buat semua ini jadi sia-sia”
Grari menatapnya lama. “Kamu benar.”
Felisha menunduk, pura-pura sibuk dengan koyo, tapi pipinya memanas.
Ada sesuatu di suara Grari yang sulit diabaikan.
Grari berjalan keluar ruangan, langkahnya terhenti. “Oh ya satu lagi.”
Felisha menengadahkan kepalanya untuk melihay wajah Grari, “Apa?”
“Jangan memanggilku Pak Gubernur aku membenci hal itu. Panggil aku dengan panggilan lain.” Ia lalu kembali berjalan tapi matanya masih tertinggal di wajahnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya dan baru Ia menutup pintu itu.
Felisha menarik napas panjang, “Jadi dia mau dipanggil apa sayang? Suamiku?” Ia menyenderkan tubuhnya ke sofa lalu menatap bayangan dirinya di cermin besar ruangan itu.
Gaun indah, makeup sempurna, sorotan kamera di luar — tapi entah kenapa, hatinya terasa rumit.
Sampai suara dua perempuan terdengar dari luar pintu — samar, tapi cukup jelas.
“Katanya mantan istrinya cantik banget, ya?”
“Iya, itu lho, si Vira Kanya Dhirga. Presenter yang dulu aktivis. Dulu mereka pacaran dari SMA katanya. Kalau bukan karena politik, pasti mereka masih bareng.”
Felisha menahan napas.
Nama itu — Intan — terasa seperti duri kecil di dadanya.
Ia tak tahu kenapa, tapi bayangan perempuan itu tiba-tiba tumbuh dalam pikirannya: cantik, pintar, dan seseorang dari masa lalu Grari yang sepertinya belum benar-benar pergi.
Felisha menatap dirinya di cermin.
Wajahnya masih tersenyum lembut di luar, tapi di balik itu ada sesuatu yang rapuh.
Ia membenarkan gaunnya perlahan, lalu berkata pelan pada pantulan dirinya:
“Cinta lama? Kayaknya aku bukan satu-satunya bab di ceritanya.”