Malam Pertama Si Lelaki Polos
Kamar pengantin yang didominasi warna merah menyala itu tampak memancarkan gairah yang meledak. Ditambah lagi, lampu-lampu yang sengaja dibiarkan temaram, tentunya sangat cocok untuk pasangan muda yang baru saja melangsungkan pernikahan. Namun, suasana itu kontras dengan keadaan seorang pemuda bernama Nicko yang saat ini sedang duduk di tepi ranjang. Tangannya dipenuhi keringat dingin dan ia bahkan sangat takut mendengar betapa keras suara detak jantungnya sendiri.
Di sudut lain, Nona Lucy yang saat ini tengah mematut dirinya di depan cermin, hanya tersenyum menyadari kecanggungan yang diperlihatkan oleh suami polosnya itu. Nona Lucy pun kemudian bangkit dengan perlahan dan mulai mendekat.
Aroma parfum menyengat yang memabukkan dari Nona Lucy seketika menerobos masuk ke dalam hidung Nicko tanpa aba-aba. Nicko merasa sedikit pusing, hampir terhipnotis, tapi ia tidak menghindar ketika wajah Nona Lucy semakin tak berjarak dengan wajahnya. Ia juga tidak ingin terlihat lemah dan berupaya menunjukkan bahwa ia memiliki pertahanan yang tak mudah tergoyahkan.
“Kau takut, Sayang?” tanya Nona Lucy dengan suara yang manja dan penuh penekanan. Nicko tak sanggup menatap mata Nona Lucy. Saking dekatnya mereka, wajah Nicko mampu merasakan betapa hangat napas Nona Lucy. Dari mulutnya, terdapat aroma stroberi tercium. Untuk beberapa saat, Nicko hanya menahan diri untuk tidak bernapas. Ia meremas kain seprai, sangat takut kehilangan kendali terlalu dini.
“Ah, sayang sekali. Apakah kau memang betul-betul tidak tahu apa-apa soal cinta?” Nona Lucy bertanya dengan nada kecewa yang dibuat-buat, sembari menyentuh pipi Nicko dengan ujung jari-jemarinya yang lentik yang perlahan turun ke d**a Nicko yang bidang. Keduanya mengenakan piyama berwarna merah yang tipis. Nicko bisa merasakan jari Nona Lucy seperti hendak bermain-main. Ia pun menahan ujung jari-jari itu. Mereka saling bersentuhan. Nona Lucy kemudian menyadari tangan Nicko yang begitu dingin, tapi itu justru membuatnya semakin bersemangat. Perempuan itu tahu, bahwa ia sudah sangat beruntung, seolah baru saja memenangkan undian paling bergengsi yang pernah ada.
“Kenapa?” tanya Nona Lucy lagi. Nicko menggeleng, menunduk. Ia bingung, tapi juga tak punya keinginan untuk lari dari semua ini.
“Maaf, bolehkah aku ke toilet dulu?” Nicko berucap dengan gugup.
Nona Lucy tertawa pelan. “Ya, boleh. Aku tunggu, ya.”
Secepat kilat, Nicko sudah berpindah tempat. Dari kamar yang dipenuhi dengan aroma sensual, kini ke ruangan yang cukup segar. Aroma sabun wangi stroberi menyapa indra penciumannya. Ia sedikit lega. “Ah, rupanya Nona suka wangi stroberi,” gumamnya pelan. Namun, serius kemudian, ia ingat itu adalah hal yang tidak penting. Saat ini, yang paling penting adalah bagaimana membuat dirinya terlihat tidak cupu di hadapan Nona Lucy. Ia juga ingin membuktikan bahwa dirinya adalah lelaki sejati. Sebelum malam ini, ia bahkan sudah membaca panduan menjalani malam pertama untuk seorang pemula.
Pintu kamar toilet terbuka. Pemandangan yang dilihat pertama kali oleh Nicko adalah Nona Lucy yang sudah berbaring dengan posisi menggoda di ranjang. Lelaki itu menelan ludah, menurunkan tatapan matanya yang sempat menangkap kemolekan tubuh perempuan yang kini sah menjadi istrinya tersebut. Ia menjadi dua kali lipat lebih gugup dibandingkan tadi.
Nicko mendekat, mengumpulkan keberanian. Nona Lucy yang melihat pergerakan Nicko begitu lamban menjadi tak sabar. “Aku saja yang mulai,” katanya. Lalu dengan cepat, tangan Nona Lucy sudah menarik pinggang Nicko, hingga wajah Nicko kini kembali tak berjarak dengan Nona Lucy. Tanpa menunggu tanggapan dari Nicko, Nona Lucy membuat bibir mereka bersentuhan. Awalnya tipis, lembut, tapi kemudian menjadi ciuman yang lebih intens. Tangan Nicko terus meremas seprai, kebingungan melandanya, tidak tahu harus bagaimana. Otaknya tidak bekerja untuk beberapa saat. Hanya seperti berputar-putar, melayang ke mana entah.
Napas mereka terengah-engah. Namun, jelas Nicko yang paling payah. Ia menatap Nona Lucy yang tersenyum dengan wajah yang memerah karena malu. Jari Nona Lucy kembali bergerak, menyentuh bibir Nicko, menyapunya dengan perlahan, “Bibirmu jadi merah, terkena pewarna bibirku.”
“Tidak apa-apa,” ucap Nicko dengan suara yang sedikit gemetar.
“Kalau kau belum siap untuk selanjutnya, nanti saja,” ucap Nona Lucy, sembari bergeser. Namun, tangan Nicko menghentikannya. “Tidak. Tunggu. Aku, aku ingin melanjutkan. Sekarang ....”
Nona Lucy bisa melihat betapa gugupnya lelaki di hadapannya. Ah, ia tak pernah bertemu yang seperti ini. Selalu, selama ini, ia mendapatkan pasangan yang lebih lihai dan bahkan licik darinya. Ada pula yang selalu mengambil keuntungan dan melewati batas yang sudah ia tetapkan. Namun, Nicko berbeda. Itulah mengapa Nona Lucy tak ingin terburu-buru.
“Tenang saja, kita masih punya malam-malam selanjutnya,” ucap Nona Lucy lagi.
Nicko menggeleng seperti bocah kecil yang dilarang makan permen. “Aku sudah belajar. Aku tahu bagaimana caranya. Nona tidak perlu banyak bergerak. Aku tidak akan merepotkanmu. Aku berjanji.”
Kalimat Nicko lebih terdengar seperti perkataan seorang pesuruh dibandingkan seorang suami. Nona Lucy sedikit cemas, berpikir apakah selamanya sosok di hadapannya hanya akan memandang dirinya seorang majikan? Ah, padahal usia Nicko sama dengannya, tapi kepolosan dan kepatuhan Nicko membuat Nona Lucy merasa dirinya berada di tempat yang terlalu tinggi, hingga Nicko mungkin terlalu sungkan untuk meraihnya walaupun hanya sejengkal.
“Kau menganggap aku apa?”
“Hah?” Nicko bingung dengan pertanyaan Nona Lucy. Ia juga tidak tahu. Ia tidak yakin. Jika bisa, ia ingin memilih untuk tidak menjawab saja, ia takut setiap jawaban akan berujung mengecewakan sang nona.
Nona Lucy paham akan kebingungan Nicko. Ia pun kembali angkat bicara.
“Itu pekerjaan rumah. Kau harus mencari jawabannya nanti. Sekarang, tunjukkan padaku apa yang bisa kau lakukan. Katanya, yang dipegang dari laki-laki adalah ucapannya, bukan? Jadi, buktikan.”
Nicko mengangguk tegas. Ia pun mulai mengambil napas panjang, dan perlahan-lahan, dengan tempo yang lagi-lagi sangat lambat, meraih wajah Nona Lucy dengan lembut, menciumnya dengan hati-hati, memeluknya, menciumnya lagi, masih dengan sangat hati-hati. Nona Lucy kembali tak sabar. Ia bisa menyentuh d**a bidang Nicko dan merasakan otot-ototnya, tapi di sisi lain, perempuan itu merasa lucu. Otot-otot Nicko yang kekar, berbanding terbalik dengan nyalinya yang kecil.
Nona Lucy memutuskan untuk kembali memimpin. Nona muda itu menguasai setiap sentuhan, setiap gerakan, setiap napas yang bercampur di udara. Hangat, cepat, hingga pakaian mereka berserakan di lantai. Tak ada yang menghalangi lagi, dan dalam kebersamaan yang kian intim itu, Nicko diam-diam belajar, diam-diam terbawa suasana. Kepalanya tak lagi kosong, tapi mengingat setiap hal yang ditunjukkan oleh Nona Lucy. Ia mengikuti, dan mencobanya. Sampai tak lama setelah itu, Nicko sudah mulai paham. Ia mengambil kendali sedikit demi sedikit, merasa tak kunjung cukup, mengambil lagi dan lagi, hingga penuh, lebih penuh. Bahkan, Nona Lucy sempat kewalahan, tapi perempuan itu tak berniat menghentikan pergerakan Nicko, dan ia pun berakhir dengan terus menyerahkan dirinya kepada lelaki tersebut.
Malam itu, jelas ada yang telah hilang. Nicko yang polos sudah lenyap.