Utang Piutang

1203 Words
Nicko terbangun dengan hati yang berdebar. Ada rasa ganjil yang merambat di dadanya, perpaduan antara malu yang membakar hingga ke ujung telinga dan kebahagiaan yang sulit untuk ditahan. Wajahnya pasti sudah semerah tomat sekarang. Menghabiskan malam penuh percikan dengan seorang perempuan merupakan pengalaman pertama baginya. Hal itu membuatnya ingin menghentikan waktu lebih lama, tak ingin perasaan berharga yang langka pada saat ini, hilang begitu saja. Di sisinya, sprei masih terasa hangat, bekas tempat Nona Lucy berbaring tadi. Nicko sebetulnya sempat mencuri pandang saat wanita itu masih terlelap dalam pelukannya. Helai rambutnya yang berantakan di atas bantal tampak seperti sesuatu yang benar-benar jauh dari kesan pertamanya terhadap perempuan itu. Terlihat rapuh, tapi tetap menawan. Namun, tadi Nicko masih seperti seorang pengecut. Ia tak sanggup membayangkan harus menatap mata Nona Lucy dalam kondisi seintim itu. Maka, ia memilih bersandiwara. Nicko memaksakan matanya terpejam, mengatur napasnya agar terdengar tenang, meski dadanya bergemuruh hebat. Tak lama, ia merasakan pergerakan halus di sampingnya. Lalu, sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh pipinya. Sebuah kecupan singkat yang diikuti bisikan selamat pagi. Nicko tetap membeku, menahan senyum yang nyaris tampak, sampai ia mendengar suara langkah kaki Nona Lucy yang perlahan menjauh dan pintu kamar mandi tertutup rapat. Barulah ia berani membuka mata, menatap langit-langit kamar dengan napas lega yang panjang, menyadari bahwa hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi setelah pagi ini. Nicko pun beranjak, sembari masih menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut, ia mengambil piyamanya yang masih teronggok di lantai. Mengenakannya kembali dan seketika dinginnya kain piyama menyentuh kulitnya, memberikan sensasi yang jauh berbeda dibandingkan saat ia dipeluk erat oleh Nona Lucy semalam. Nicko menggelengkan kepalanya berkali-kali saat bayangan kebersamaan mereka yang sempat tak terkendali berkelebat. Ini masih terlalu pagi, pikirnya. Ia tidak tahu harus apa, selain mungkin menunggu Nona Lucy selesai. Ia berjalan perlahan menuju meja rias dan menemukan botol parfum yang terlihat mahal. Nicko pun nekat mencobanya. Wangi menyengat itu, aroma tubuh Nona Lucy yang sangat khas. Nicko tersenyum dan salah tingkah. Dan saat ia hendak meletakkan benda itu kembali, tak sengaja ia menjatuhkan pewarna bibir Nona Lucy yang berada di pinggiran meja. Suara jatuhnya cukup keras, berkelontang beberapa kali. Nicko seketika memandang ke arah pintu kamar mandi, harap-harap cemas, takut ia mengganggu kegiatan Nona Lucy. “Kau sudah bangun? Masuklah,” ucap suara di dalam sana. Nicko kembali ke pergulatan batin yang baru. Masuk ke kamar mandi? Hanya berdua bersama Nona Lucy? Pikiran Nicko sudah ke mana-mana. Jelas itu bukan pikiran yang positif, isi kepalanya sudah tak sesuci dulu lagi. Nicko ragu, tapi mau. Ia juga tak mungkin menolak. Dengan langkah perlahan, Nicko membuka pintu yang memang tidak dikunci. Ia melihat ke arah bathub. Ada Nona Lucy di sana, dengan tubuh yang tertutup oleh gelembung-gelembung wangi stroberi. “Kemarilah, aku tak akan melakukan apa pun. Hanya berendam. Bisa membuatmu merasa rileks. Bathub ini juga cukup besar dan nyaman. Bisa untuk kita berdua.” Udara di kamar mandi mendadak terasa tipis dan panas. Nicko memunggungi Nona Lucy, akan tetapi ia bisa merasakan tatapan wanita itu membakar punggungnya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu. Setiap helai kain yang jatuh ke lantai seolah menambah berat keheningan yang ada di antara mereka. Saat ia berbalik, Nicko secara refleks menyilangkan tangan untuk menutupi salah satu bagian tubuhnya. Wajahnya merona lagi. Sementara itu, Nona Lucy masih bersandar dengan anggun, menyesap pemandangan di depannya tenang. Ia pura-pura sibuk dengan jemarinya, mengalihkan pandangan sesaat seolah tak peduli. Namun, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh kemenangan. Ia semakin suka lelaki di depannya. Nona Lucy tidak perlu menatap langsung untuk tahu betapa Nicko sedang bereaksi terhadap kehadirannya. Lagipula, mereka berdua tahu benar setiap lekuk, setiap bekas luka, dan setiap titik sensitif di tubuh masing-masing sudah terekam sempurna dalam ingatan. “Kenapa masih menutupi apa yang sudah menjadi milikku, Sayang?” bisik Nona Lucy, suaranya rendah dan serak, membelah kesunyian dengan nada penuh godaan yang tak terbantahkan. Nicko hanya menggeleng. Untuk kesekian kalinya, sulit baginya untuk berpikir jernih dan mampu menjawab. Rasa pusing seolah hendak menyergapnya lagi. “Ayo, masuklah.” Nicko kebingungan, tapi ia mencoba masuk ke dalam bathub. Mereka saling berhadapan. Seperti yang Nona Lucy katakan sebelumnya, mereka tidak akan melakukan apa pun. Hanya rileks. Namun, Nicko yang bisa merasakan kaki mereka bersentuhan di bawah gelembung-gelembung wangi stroberi itu, tentunya menjadi sedikit sulit fokus. Ia berusaha keras untuk mencoba, tapi setiap sentuhan bercampur dengan kelembutan sabun, menjelma sengatan listrik yang membuat tubuhnya seakan terus bergetar. Nona Lucy akhirnya memecah kesunyian yang mendebarkan di d**a lelaki itu. “Kau sudah dapat jawabannya, Sayang? Kau menganggap aku apa?” Nicko akhirnya mampu kembali berpikir. Ia menatap wajah Nona dengan kebingungan, tapi tetap menjawab juga, “Nona adalah sosok yang harus aku patuhi. Aku akan lakukan apa pun untuk Nona.” Nona Lucy sudah menduganya. Pasti, Nicko memang akan berkata demikian. “Sayang, kau tahu, apa yang membuatku akhirnya menyukaimu? Kau pasti sudah dengar kalau aku bukan gadis baik-baik. Aku bukan anak yang dibesarkan dengan perlindungan seperti dirimu. Walaupun materi yang kupunya sangat besar, itu semua dari ayahku, tapi apa dia menganggapku anaknya? Dia menganggapku orang asing, Sayang. Dia tidak seperti ayahmu. Jadi, ketika aku melihat tatapan saat pertama kali kita bertemu, kupikir kau akan menatapku seperti kebanyakan orang. Tatapan takut, atau jijik. Kau tidak mungkin tidak tahu kalau aku dikenal suka berganti lelaki, bukan?” Nicko tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya diam saja dan menunduk. “Saat itu, kau menatapku dengan berbeda. Kau menatapku dengan tatapan yang cerah. Entah karena kau berterima kasih, sebab utang ayah dan ibumu sudah rampung berkat kuasaku. Atau ... kau memang tulus?” Nicko mengangkat kepalanya. “Aku berterima kasih, tapi aku juga tidak punya niat jahat. Aku memandang Nona sebagai sosok yang hebat, sosok yang jauh dari jangkauanku, tapi kini, kita sedekat ini. Satu ruangan yang sama, berbagi sentuhan, dan mencoba saling memahami.” Gemuruh di d**a Nicko kembali lagi ketika ia menyebut kata sentuhan. Sungguh, sulit baginya untuk bisa melupakan apa saja yang sudah terjadi semalam. Benar-benar sulit. Nona Lucy puas dengan jawaban tersebut. Sedetik kemudian, air di dalam bathtub berdesir lembut, mengirimkan gumpalan busa putih yang meluap ke tepian porselen seperti ombak kecil yang tenang. Tanpa peringatan, Nona Lucy memangkas jarak yang tersisa. Ia menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam, sebuah ciuman yang tidak terburu-buru, namun terasa begitu tajam. Nicko merasakan dunianya mulai miring. Rasa pening itu kembali datang, tapi kali ini tidak menyakitkan. Ia terasa seperti mencecap madu yang manis, tapi mematikan. Sebuah rasa yang perlahan-lahan melumpuhkan logikanya. Dalam dekapan Nona Lucy, Nicko merasa identitasnya menguap. Nama, status, dan ketakutannya melebur menjadi satu di bawah sentuhan sang Nona yang penuh kuasa. Ia hampir tenggelam, tapi bukan ke dalam air, melainkan ke dalam pusaran rasa yang membuatnya lupa di mana dan apa yang sedang terjadi saat ini. Keheningan di ruangan itu kini hanya diisi oleh napas yang memburu beserta kecipak air di bathub. Pertahanan Nicko runtuh sepenuhnya. Tanpa mampu dicegah, ia mulai membalas ciuman itu, menyerahkan dirinya pada kegilaan yang indah, membiarkan nalurinya mengambil alih kemudi saat ia mulai membalas setiap sentuhan Nona Lucy dengan intensitas yang tak lagi terbendung. Nicko merasa sudah tidak waras, ketidakwarasan yang menjadi candu tanpa ada penawar yang lebih baik selain Nona Lucy sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD