Menjadi Tawanan yang Pantas

1090 Words
Satu per satu pelayan masuk dengan langkah tanpa suara, membentangkan kemeja-kemeja dengan potongan sempurna dan label desainer yang selama ini hanya bisa Nicko lihat di balik etalase kaca. Tak berhenti di situ, sebuah kotak beludru dibuka di hadapannya, memamerkan deretan arloji yang kilaunya seolah mampu membeli seluruh masa depan Nicko. Tentu, pemuda itu sangat terpesona. Namun, sedetik kemudian, rasa tertariknya hilang seketika. “Nona Lucy meminta Anda memilih yang paling Anda sukai, Tuan,” ujar salah satu pelayan dengan nada yang terlampau sopan. Nicko menatap semua kemewahan itu dengan pandangan kosong. Alih-alih menyentuh arloji atau pakaian mahal di depannya, ia justru merasa makin terasing. “Kapan Nona akan kembali?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Nicko, memotong penjelasan pelayan tentang spesifikasi jam tangan yang sebenarnya tak terlalu penting baginya. Rumah besar ini terasa terlalu luas, tapi terlalu dingin, dan terlalu asing. Ironisnya, Nicko merasa lebih aman saat berada di bawah tatapan mengintimidasi Nona Lucy daripada berada di tengah kenyamanan yang dilayani oleh belasan orang ini. Hanya di dekat Nona Lucy-lah, Nicko merasa keberadaannya benar-benar diakui, meski harus sebagai tawanan sekalipun. “Nona sedang menghadiri urusan yang mendesak. Namun, Nona sudah berpesan akan kembali dalam dua hari,” jawab pelayan itu tenang. “Dua hari?” Nicko mengulanginya dengan nada seakan-akan tak percaya. Tadi, saat Nona Lucy mengecup keningnya sebelum pergi, perempuan itu hanya bilang akan pergi sebentar. Tapi dua hari? Di tempat yang terasa seperti sangkar emas ini, dua hari bagi Nicko akan terasa seperti dua tahun yang menyiksanya. Apa yang bisa ia lakukan? Sendirian? Menatap halaman rumah yang luas, bermain dengan anjing-anjing Nona Lucy yang terlihat galak, atau apa? Ia tidak punya keinginan apa pun. Ia merasa hanya bisa bergerak dengan bebas jika ada Nona Lucy di sisinya. Langkah kaki Nicko bergema pelan di lorong sunyi, ketika para pelayan menyingkir dan mempersilakan dirinya untuk berjalan-jalan di dalam rumah Nona Lucy yang megah, demi mengusir kebosanan. Nicko berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, tapi tak ada yang mampu mengusir rasa ganjil di dadanya. Hingga akhirnya, ia berdiri di depan sebuah pintu kayu yang sedikit ternganga, seolah sengaja mengundangnya untuk masuk. Pintu itu tidak dikunci. Tanpa suara, Nicko pun mendorongnya perlahan. Alih-alih menemukan kemewahan, udara dingin dan aroma pewangi ruangan yang menyengat langsung menyambutnya. Nicko menyalakan lampu, dan seketika itu juga, jantungnya seakan berhenti berdetak. Pemandangan di depannya jauh dari kata indah, sebab yang dilihatnya adalah sebuah galeri obsesi. Dinding ruangan itu penuh sesak, nyaris tak menyisakan celah. Puluhan bingkai foto berderet rapi, menampilkan wajah Nona Lucy dalam berbagai pose intim. Namun, bukan itu yang membuat bulu kuduk Nicko berdiri. Di setiap foto, Nona Lucy bersandar mesra pada pria yang berbeda-beda, mungkin puluhan pria yang tampak memuja sang Nona, semuanya terjebak dalam keabadian yang membuat Nicko seakan-akan terhisap ke dalam pusaran cinta yang gelap. Nicko tahu Nona Lucy berbeda darinya, tapi ia tidak menyangka kalau perempuan itu memiliki banyak sisi tak biasa yang tak pernah ia duga. Nicko memberanikan diri untuk melihat lebih dekat. Di dalam foto demi foto, jelaslah para lelaki yang menjadi pasangan Nona Lucy memiliki tipe yang hampir serupa. Gagah, berotot, besar, tinggi, tampan, dan dari mata mereka, terlihat kalau tak ada satu pun yang tidak tahu apa-apa. Mereka tampak seperti para lelaki yang sudah terbiasa menangani perempuan seperti Nona Lucy. Mereka mampu mengimbangi. Dan Nicko merasa tertohok, apakah untuk malam yang pernah dihabiskan bersamanya, Nona Lucy tidak puas? Rasa rendah diri kini menyerangnya, tapi kembali Nicko ingat soal pertanyaan Nona Lucy tentang siapakah Nona Lucy baginya. Ia juga ingat bagaimana wajah Nona Lucy saat dirinya mengambil kendali ketika sedang berduaan di bathub kemarin. Jadi, tidak mungkin jika Nona Lucy tak memiliki ketertarikan sedikit pun. Nicko merasa harus berubah. Ia tak ingin menjadi lelaki cupu terus-menerus. Nicko mundur selangkah, tapi matanya tak bisa lepas dari deretan foto itu. Ia menyadari satu pola. Semua pria itu adalah pemangsa yang akhirnya tunduk di kaki Nona Lucy. Sementara dirinya? Ia hanyalah kambing yang tersesat. Rasa rendah diri yang membakar Nicko pun perlahan terbakar menjadi ambisi yang besar. Jika Nona Lucy menyukai pria yang kuat, maka ia akan menjadi lebih dari sekadar tawanan yang penurut. Nicko kembali ke ruang ganti tempat para pelayan tadi menunggunya. Langkahnya kini tak lagi ragu-ragu. “Kemeja hitam itu,” tunjuk Nicko pada salah satu pakaian dengan potongan paling tajam. “Dan arloji perak di sudut kiri. Aku akan memakainya sekarang.” Salah satu pelayan tampak terkejut melihat perubahan kilat di mata Nicko, tapi tentu saja segera menuruti apa yang diperintahkan. Saat Nicko melihat pantulan dirinya di cermin, dengan berbalut kemewahan yang tadi ia benci, ia hampir tak mengenali pemuda malang yang harus membayar utang dengan tubuhnya sendiri beberapa waktu lalu. Ia terlihat mahal, tapi di matanya, kilatan rasa lapar yang baru telah tumbuh. Selama dua hari ke depan, Nicko tidak lagi mengurung diri. Ia mulai menjelajahi rumah itu bukan sebagai tamu yang takut, melainkan sebagai calon penguasa. Ia mempelajari setiap sudut, berbicara dengan kepala pelayan untuk menggali informasi tentang kebiasaan Nona Lucy, bahkan menghabiskan waktu di ruang kebugaran pribadi Lucy yang sangat lengkap, membentuk fisiknya, supaya terlihat lebih baik dari para lelaki yang pernah menyentuh Nona Lucy. Pada malam kedua, akhirnya suara deru mobil terdengar di halaman depan. Nicko tidak menunggu di kamar seperti anak kecil yang merindukan ibunya. Ia berdiri di puncak tangga utama, mengenakan pakaian terbaiknya, dengan segelas minuman di tangan persis seperti pose pria-pria di galeri foto rahasia itu. Sedikit kaku memang, tapi ia berusaha keras mencoba. Pintu besar terbuka. Nona Lucy masuk dengan langkah anggun, tampak kelelahan tapi tetap memancarkan aura yang dingin. Ia mendongak, dan langkahnya terhenti seketika saat melihat sosok di atas tangga. “Nicko?” gumam Nona Lucy, suaranya mengandung nada terkejut yang jarang terdengar. Nicko menuruni tangga perlahan. Setiap langkahnya terasa penuh perhitungan. Ia berhenti tepat satu anak tangga di atas Nona Lucy, membuatnya sedikit lebih tinggi dari perempuan tersebut. Nicko menunduk sedikit, tanpa rasa takut yang biasanya menghantuinya. Ia meraih tangan Nona Lucy, bukan untuk menciumnya dengan lembut, melainkan menggenggamnya dengan tekanan yang tegas, seperti cara pria-pria di foto itu menyentuhnya. Nona Lucy menyipitkan mata, menatap perubahan drastis pada tawanan kesayangannya itu. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, tapi penuh kepuasan, muncul di bibir merahnya. “Kau sudah masuk ke ruangan itu, ya?” tanya Nona Lucy tenang, merujuk pada galeri fotonya. Nicko tidak mengelak. “Ya, aku sudah melihat mereka semua. Dan aku sudah putuskan, Nona, kalau aku tidak akan menjadi salah satu dari foto yang dipajang di sana. Aku akan menjadi satu-satunya yang potretnya tidak bisa kamu gantung di dinding itu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD