Hening yang kian mencekam kini memenuhi seluruh sudut kamar utama, sesaat setelah dokter meninggalkan ruangan tersebut. Nicko tahu, badai kemarahan akan segera tiba. Ia menunggu. Dan benarlah, dalam hitungan detik, kemarahan itu pun meluap-luap. Nona Lucy menatap jalang ke arah Nicko. “Babi, kau, Nicko! Anjing, kau! Gila!” Suara Nona Lucy melengking, mengubah udara menjadi panas dengan kebenciannya yang tak terbendung. Ia menyambar lampu tidur dan membantingnya ke lantai tepat di depan kaki Nicko. Lampu itu hancur, berhamburan. Belum puas, ia meraih segala sesuatu yang bisa ia jangkau, vas bunga, koleksi parfum kristal, hingga bingkai foto dan melemparkannya lagi ke arah Nicko. Di luar kamar, para pelayan mendengar semuanya. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang berani untuk masuk atau

