Dengan wajah memerah Sheila mengikuti langkah Jaka. Dia ikut ke mana pun suaminya itu melangkah. Ternyata suaminya itu mengajaknya memasuki sebuah ruangan di lantai dua, sebuah kamar yang sangat indah. Namun sayang, belum sempat Sheila mengagumi kamar ini, suaminya langsung menutup pintu dan mendorongnya ke tembok. Tanpa aba-aba, Jaka kembali melumat bibir Sheila. Kali ini dengan tempo yang sedikit cepat dan buas. Tangannya tidak bisa diam, terus mengabsen seluruh tubuh Sheila, menyingkap segala yang bisa dia buka. “Ohh.” Sheila sedikit mengerang sebelum akhirnya Jaka kembali membungkamnya dengan lumatan. Tangan Jaka bergerilya mengabsen setiap jengkal tubuh Sheila. Dan saat menemukan resleting di punggung Sheila, dia segera menurunkannya. Jaka berhenti sesaat. Dipandanginya tubuh istr