Aku menatap layar laptop dengan senyum yang tak bisa disembunyikan. Proposal bisnis yang kubuat akhirnya diterima oleh investor besar. Rasanya seperti mimpi. Setelah segala yang terjadi, kini aku punya kesempatan untuk memulai kembali. "Jadi, kapan kita mulai produksi?" Suara Dokter Satria membuatku tersadar dari lamunan. Dia duduk di depanku, membawa beberapa brosur produk kecantikan dari kenalannya. "Secepatnya," jawabku antusias. "Aku masih nggak percaya semua ini bisa terjadi. Terima kasih, Dok." Dia tersenyum hangat. "Nggak perlu terima kasih. Aku cuma bantu kenalkan orang-orang yang memang bisa mendukung bisnismu. Sisanya murni kerja kerasmu." Aku mengangguk, berusaha meredam haru. Dukungan Satria selama ini berarti banyak. Meski seorang dokter, dia tahu seluk-beluk industri ke

