Sebuah Penghakiman

1022 Words
Aku duduk di ruang keluarga, mencoba menahan perasaan asing yang mulai menyusup. Wajah-wajah keluarga Mas Awan tampak serius, seolah siap menyampaikan kabar besar. Dan ketika Ibu mertuaku akhirnya angkat bicara, perasaanku seketika runtuh. "Embun, Ibu harap kamu bisa memahami posisi Awan. Keluarga besar kita semua ingin melihat dia bahagia. Dan salah satu caranya adalah... melalui pernikahan lagi," katanya dengan suara pelan tapi mantap, seolah tak ingin ada penolakan. Aku hanya terdiam. Kata-kata itu terngiang-ngiang dalam pikiranku, menimbulkan luka yang tiba-tiba terasa begitu nyata. Menikah lagi? Benarkah? Seakan kesulitanku untuk memiliki anak menjadikan mereka semua berhak memutuskan masa depanku, tanpa memedulikan perasaanku. "Tapi... kenapa, Bu?" Aku tak mampu menahan diri untuk bertanya. Suaraku lirih, nyaris tersendat. " Kenapa harus menikah lagi? Apakah Awan tidak bisa bahagia tanpa itu?" Mbak Rima yang duduk di sebelah, menatapku dengan ekspresi yang sulit kugambarkan. "Embun, kamu tahu gimana harapan semua orang di keluarga ini. Kamu dan Awan sudah menikah bertahun-tahun, tapi... kalian masih belum diberi keturunan." Aku merasakan wajahku memanas. Aku tahu, tentu saja. Bagaimana bisa aku tidak tahu? Setiap kali bertemu keluarga besar Mas Awan, pembicaraan soal keturunan selalu menjadi beban yang tak bisa kuhindari. Tapi mendengar ini sendiri, membuatku merasa ditinggalkan dan sendirian. "Mas Awan setuju dengan ini?" tanyaku pelan, lebih kepada diri sendiri. Aku menatap ke arah Mas Awan yang duduk di ujung sofa. Pandangannya kosong, tapi tak ada tanda-tanda penolakan di wajahnya. "Iya, Awan setuju," jawab Ibu mertuaku cepat. "Awan sudah menyetujui keputusan ini, Embun. Dia juga ingin ada anak dalam hidupnya." Aku terdiam, merasa terjebak di antara tanggung jawab sebagai istri dan perasaan tersakiti sebagai manusia. Tapi aku masih mencoba bertahan, berusaha berpikir rasional meski hatiku teriak. "Apakah Mas Awan sudah benar-benar memikirkannya? Atau ini hanya tekanan dari semua orang di sini?" Aku bertanya dengan nada yang lebih tegas dari biasanya. Aku tidak lagi peduli pada tatapan tajam beberapa orang. Mas Awan akhirnya angkat bicara, meski dengan suara yang datar dan terkesan tak peduli. "Embun, kamu tahu kita sudah bertahun-tahun berusaha. Dan... aku juga sudah lelah. Ini mungkin jalan terbaik." "Lelah? Kamu bilang kamu lelah, Mas?" Aku hampir tak percaya mendengar kata-katanya. "Lelah bagaimana? Aku juga ada di sini, berjuang bersamamu! Apa itu tidak cukup?" Mas Awan menghindari tatapanku, hanya menunduk. "Aku tahu, Embun. Tapi... aku butuh keluarga yang lengkap." Aku terdiam, menahan sesak di d**a. Kata-katanya menyakitkan, tapi aku tahu percuma berdebat di depan semua orang. Tak ada yang berpihak padaku. Aku harus mencari cara lain untuk memahami apa yang tengah terjadi. Ayah mertuaku yang selama ini lebih banyak diam akhirnya ikut angkat bicara. "Embun, kami tidak menyalahkanmu. Ini hanya soal harapan dan kebahagiaan keluarga. Kamu masih bisa tinggal di rumah ini, tetap menjadi istri Awan. Pernikahan kedua ini tidak akan mengurangi posisimu." Aku tersenyum pahit, menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatap mereka. "Benarkah begitu? Lalu, apa aku harus hidup berbagi suami tanpa keberatan?" Mbak Rima menggenggam tanganku dan mencoba menguatkan. "Embun, Sayang. Semua ini dilakukan demi kebahagiaan bersama. Demi kebahagiaan Awan. Kamu kan juga ingin suamimu bahagia, bukan?" Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan emosi yang berkecamuk. "Kebahagiaan siapa, Mbak? Kebahagiaan Mas Awan atau... kebahagiaan kalian semua?" Mbak Rima hanya menggelengkan kepala, seolah tak mengerti kenapa aku harus meributkan ini. "Embun, jangan keras kepala. Banyak wanita yang bisa menerima suaminya menikah lagi. Apa kamu tidak bisa mencoba melakukan hal yang sama?" Aku merasa seluruh dunia sedang menuntutku untuk mengorbankan kebahagiaanku demi kepuasan mereka. Seakan aku tidak punya hak untuk merasa terluka atau kecewa. Aku memandang ke arah Mas Awan sekali lagi, mencari kejujuran dalam tatapannya. Tapi tak kutemukan apapun di sana. "Mas Awan... apakah ini benar-benar yang kamu inginkan? Menikah lagi?" Aku bertanyw dengan nada bergetar. Aku ingin mendengar dari mulutnya sendiri, tanpa campur tangan siapa pun. Mas Awan menghela napas, tampak ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Ya, Embun. Mungkin ini cara terbaik bagi kita berdua. Kamu bisa tetap tinggal di sini, dan... semua akan berjalan seperti biasa." Aku terdiam. "Seperti biasa? Kamu sungguh yakin semua akan tetap sama?" Mas Awan mengangguk, tanpa benar-benar menatap mataku. "Embun, kita sudah bertahun-tahun bersama. Aku pikir kamu akan memahami ini." Aku menggeleng pelan, hatiku hancur berkeping-keping. "Memahami apa, Mas? Memahami bahwa aku tidak cukup untukmu?" "Bukan begitu, Embun..." jawabnya lemah. Tapi tidak ada penjelasan lebih lanjut. Hanya kesunyian yang semakin menyesakkan. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga. Dan aku segera bangkit, merasa tak kuat lagi berada di ruangan itu. "Siapa perempuan itu?" Semua orang terdiam dan saling berpandangan. Aku masih menunggu jawaban hingga akhirnya Mas Awan membuka suara. "Dia--" "Siapa, Mas?" "Nayla, anaknya sahabat ibu yang baru pulang dari sekolah di luar negeri." Aku menatap seluruh keluarga Mas Awan dengan geram. Namun, mereka memandangku seakan lebih tahu tentang perasaanku daripada aku sendiri. "Berarti pendidikannya tinggi?" "Oh, iya. Nayla sekarang mengajar sebagai dosen." "Kalau memang berpendidikan tinggi, kenapa bisa merebut suami orang?" tanyaku ketus. Kulihat ada amarah di wajah ibu mertua. Tentu saja dia tak terima jika aku mencela calon menantu barunya. "Jangan menghina orang lain, Embun." "Bukannya kalian juga suka menghinaku?" balasku geram. Entah kekuatan darimana sehingga aku berani menjawabnya. Padahal aku sedang dikeroyok oleh mereka. "Lebih baik kamu restui Awan untuk menikah lagi. Jangan banyak drama seperti ini," bujuk Mbak Rima. "Maaf aku nggak bisa." "Tanpa restumu Awan tetap akan menikah. Apalagi calon istrinya uang baru lebih baik," sindir mertuaku. "Kalau begitu kenapa kalian terus membujukku? Kenapa tidak langsung menikahkan Mas Awan?" tantangku. "Dasar kamu ya--" Ibu mertua hendak menamparku tetapi tangannya ditepis oleh bapak mertua. Tatapannya penuh amarah. Nanun, aku membalas dengan hal yang sama. Aku memang yatim piatu yang dinikahi Mas Awan dan diberikan segala macam fasilitas. Namun, tak sepantasnya mereka memperlakukan aku seperti ini. "Permisi!" Dengan langkah cepat, aku meninggalkan ruangan itu, membiarkan air mataku mengalir tanpa henti. Suara bisik-bisik masih terdengar samar dari dalam ruangan. Kata-kata seperti "egois," "tidak mau mengerti," dan "demi Awan" terus mengusik telingaku. Aku menutup pintu di belakang. Mencoba mengusir semua bayangan dan rasa sakit yang membakar dadaku. Tangisku tumpah runah di kamar. Selama ini aku sudah mengalah, meninggalkan pekerjaan demi menjadi ibu rumah tangga. Namun, ternyata ini balasannya. "Apakah aku begitu tidak berharga sampai mereka berpikir aku harus berbagi suami?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD