Sesuatu yang Tak Terduga

1245 Words
"Mas... jawab aku." Namun, rasa kembali kecewa menghantam d**a. Mas Awan malah pergi tanpa berkata apa-apa. Aku menghapus air mata, menelan kekecewaan itu. Sudah cukup aku menangis, bahkan suami sendiri tak peduli. *** Aku duduk di ruang praktik Dokter Satria dengan perasaan gugup. Rasanya sudah berulang kali aku duduk di ruangan seperti ini. Bertemu dengan dokter yang menawarkan berbagai solusi. Entah kenapa, pertemuan kali ini terasa berbeda. Mungkin karena aku sudah terlalu lelah. Atau mungkin karena tatapan penuh pengertian dari Dokter Satria yang menenangkan. Dokter Satria duduk di hadapanku, tersenyum lembut. "Selamat datang, Bu Embun. Saya sudah membaca riwayat kesehatan Ibu. Saya mengerti Ibu telah mencoba berbagai metode untuk memiliki keturunan." Aku mengangguk pelan, merasa dadaku sedikit berat. "Iya, Dok. Saya merasa sudah mencoba segalanya, tapi tetap tidak berhasil. Rasanya seperti ada yang salah dengan diri saya." Dokter Satria memperhatikan dengan penuh empati. "Saya bisa memahami gimana perasaan Ibu. Tekanan untuk memiliki anak sering kali sangat besar, terutama di lingkungan kita." Aku menarik napas panjang. "Betul, Dok. Bukan hanya keluarga, tetapi teman-teman, orang sekitar, semua seolah terus mengingatkan saya tentang hal itu. Saya merasa... seolah-olah gak berharga karena belum bisa memiliki anak." Dokter Satria mengangguk. "Perasaan itu wajar. Namun, saya ingin Ibu tahu bahwa nilai seorang wanita tidak ditentukan dari apakah ia bisa memiliki anak atau tidak. Kita semua berharga apa adanya." Kata-kata itu seperti embun pagi di tengah gurun. Selama ini, semua orang hanya menekanku untuk terus berusaha, tanpa mempertimbangkan perasaan dan kesehatan mentalku. Mendengar seorang dokter yang begitu bijak mengatakan hal ini membuat hatiku sedikit lega. Aku menatapnya danbmasih ragu. "Dok, apakah menurut Anda saya masih punya harapan?" "Tentu saja. Banyak opsi yang bisa kita coba. Namun, yang paling penting adalah Ibu menjaga keseimbangan mental dan emosional Ibu sendiri. Stres dan tekanan hanya akan membuat proses ini semakin berat." Aku menunduk, mencerna setiap kata yang ia ucapkan. "Saya... sering merasa sendirian dalam menjalani ini semua. Bahkan suami sendiri seperti gak memahami tekanan yang saya alami." "Perasaan itu gak salah. Kadang, pasangan atau keluarga memang gak bisa sepenuhnya memahami apa yang kita rasakan. Itulah sebabnya penting bagi Ibu untuk memiliki dukungan yang bisa membantu Ibu merasa lebih baik." Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang pertanyaanku berikutnya. "Lalu, apa langkah selanjutnya, Dok? Saya ingin berusaha, tetapi kadang saya takut ini akan sia-sia." "Kita akan membuat rencana yang sesuai dengan kondisi Ibu. Tapi, saya harap Ibu gak buru-buru. Ibu perlu waktu untuk fokus pada kesehatan mental terlebih dulu. Banyak wanita yang berhasil memiliki anak setelah mereka belajar mengurangi stres dan lebih menerima diri." Aku menghela napas panjang. "Kadang saya merasa lelah, Dok. Rasanya seperti saya terus berusaha, tapi gak ada hasilnya." Dokter Satria menatapku dengan tenang. "Saya paham. Tapi setiap langkah kecil yang Ibu ambil untuk merawat diri sendiri adalah bagian dari proses. Jangan remehkan upaya yang sudah Ibu lakukan." Kata-katanya membuatku merasa dihargai. "Makasih, Dok. Ini pertama kalinya ada seseorang yang memahami perasaan saya. Biasanya yang saya dapatkan hanyalah anjuran untuk mencoba ini-itu tanpa memperhitungkan kondisi saya." "Itu sebabnya, saya ingin Ibu mempertimbangkan pilihan yang membuat Ibu merasa nyaman. Kita bisa mencoba metode lain. Tetapi pada akhirnya, yang penting adalah kebahagiaan Ibu." Aku tersenyum tipis, mulai merasa lebih tenang. "Baik, Dok. Saya akan mencoba untuk gak terlalu keras pada diri sendiri." Dokter Satria mengangguk setuju. "Itulah langkah pertama yang penting. Saya yakin, dengan dukungan yang tepat, Ibu bisa menjalani proses ini dengan lebih ringan." Pertemuan itu berakhir dengan rencana sederhana untuk pemeriksaan lanjutan. Namun hal yang lebih berkesan adalah bagaimana ia memberiku dorongan mental. Sebelum aku melangkah keluar, Dokter Satria memanggilku lagi. "Bu Embun," katanya lembut. "Saya tahu mungkin ini sulit, tapi ada satu hal lagi yang ingin saya katakan." Aku menoleh, mendapati sorot matanya yang hangat namun penuh ketegasan. "Apa itu, Dok?" "Saya ingin Ibu mempertimbangkan metode yang mungkin belum pernah dilakukan." "Maksudnya?" tanyaku bingung. "Ada jalan lain yang mungkin bisa membuat Ibu mengandung walau kemungkinan berhasilnya itu kecil." Aku tertegun, penasaran dengan maksudnya. "Apa bisa?" "Bisa, tapi membutuhkanbiaya yang cukup besar, dan juga resiko gagal." "Apa itu, Dokter?" Dokter Satria tersenyum samar. "Saya belum bisa menjelaskan sekarang. Tapi saya yakin ini akan membuat Ibu merasa lebih tenang. Mungkin, di pertemuan selanjutnya kita bisa membahas program ini." Rasa penasaran merambat di benakku. Ada apa sebenarnya? *** Aku keluar dari ruang praktik dengan pertanyaan besar di kepala. Mungkinkah ini adalah jalan yang selama ini aku cari, sesuatu yang lebih dari sekadar mengupayakan kehamilan? Aku menghela napas panjang saat mobilku berhenti di tepi jalan. Di depan sebuah rumah makan kecil yang cukup ramai. Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada seseorang yang duduk di dekat jendela. Suamiku, Awan dan di depannya ada seorang wanita. Mereka tertawa bersama, begitu lepas dan hangat. Aku terpaku, membiarkan pemandangan itu meresap ke dalam pikiranku. "Mungkin itu hanya rekan kerja," bisikku pada diri sendiri, mencoba menenangkan hati yang sudah mulai berdebar tak keruan. "Mungkin mereka sedang makan siang biasa, membahas pekerjaan... atau... sesuatu yang penting?" Tapi suara tawa wanita itu begitu ceria, terdengar bahkan sampai ke tempatku berdiri. Ia menyentuh lengan Awan dengan cara yang... akrab. Terlalu akrab untuk seseorang yang hanya berstatus rekan kerja. Namun, aku memaksa diriku untuk tetap berpikir positif. "Aku harus mempercayai Mas Awan," ucapku pelan, lebih kepada diriku sendiri. "Bukankah dia hanya sedang bersosialisasi? Pekerjaannya memang mengharuskan banyak pertemuan dan berbicara dengan orang-orang. Dan wanita itu... mungkin dia teman lama yang tak sengaja bertemu." Sayangnya, kata-kata penghiburan itu terasa hampa. Apalagi ketika kulihat Awan tersenyum, menatap wanita itu dengan sorot mata yang lembut, sorot yang jarang sekali kuterima akhir-akhir ini. Senyum itu... seakan membawa kenangan masa lalu ketika kami masih saling mencintai dan menghargai satu sama lain. "Kamu hanya berpikir berlebihan, Embun," gumamku, berusaha menguatkan diri. "Tidak ada bukti bahwa dia... berselingkuh atau menyembunyikan sesuatu. Dia suamiku dan aku harus percaya padanya, bukan?" Tetapi hati ini menolak tenang. Ada getaran aneh yang perlahan menyeruak, mengusik hatiku dengan serangkaian pertanyaan yang selama ini coba kuabaikan. "Mengapa dia tidak pernah mengajakku makan bersama lagi seperti ini? Mengapa dia tampak lebih ceria bersama wanita lain daripada denganku?" Aku menggeleng, mencoba menepis pikiran buruk. "Awan pasti punya alasan," ujarku, menguatkan diri. "Aku tidak bisa langsung menuduhnya. Tidak adil untuknya jika aku membiarkan rasa cemburu ini menguasai logikaku." Ketika wanita itu menggeser kursinya mendekati Awan. Dan tangan mereka saling bertaut di atas meja, perasaanku kembali luluh lantak. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Aku berusaha mengendalikan perasaanku, mencoba menenangkan diri. Tetapi pemandangan itu seolah menghapus semua rasionalitasku. "Kau berlebihan, Embun. Mereka bisa saja membahas sesuatu yang serius, makanya dia terlihat lebih dekat," bisikku. Meskipun hatiku tahu bahwa alasan itu tidak cukup kuat. Tanganku mencengkeram kemudi dengan kencang, berharap rasa sakit ini mereda, tetapi nyatanya semakin mendalam. Sesak yang tak tertahankan memenuhi d**a. Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir pikiran-pikiran negatif. "Mungkin ini hanyalah kesalahpahaman yang kebetulan," ujarku lagi. Walaupun kata-kata itu terdengar lebih seperti penghiburan kosong. Di dalam hati kecilku, aku tahu ada yang tidak beres. "Apa yang harus kulakukan?" tanyaku pelan, berharap ada jawaban yang menenangkan. Kenyataannya, aku masih duduk di dalam mobil. Dan terpaku memandang ke arah jendela restoran itu, tidak mampu melangkah atau pergi. Lama aku menatap mereka, tanpa tahu harus berbuat apa. Dan di dalam hati yang paling dalam, terselip rasa takut yang tak mau kuakui. Takut bahwa hubungan kami mungkin tidak lagi sama. Bahwa Mas Awan bukanlah pria yang dulu pernah membuatku jatuh cinta. Pada akhirnya, aku menghela napas panjang dan menyandarkan kepalaku ke jok mobil, memejamkan mata sejenak. Satu pertanyaan kini memenuhi pikiranku, menggema tanpa henti. "Apakah aku cukup berharga di matanya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD