Aku menatap Mas Awan yang duduk di sofa, wajahnya tampak asyik dengan ponsel. Sudah lama aku menunggu saat ini, momen untuk berbicara dan mengutarakan perasaannya.
Dengan hati-hati, aku duduk di samping Mas Awan. Sebelum berbicara aku menghela napas untuk menenangkan diri.
"Mas, aku... aku ingin bicara," ucapku pelan, memecah keheningan yang menyesakkan.
Mas Awan melirikku sekilas, lalu meletakkan ponselnya dengan enggan.
"Bicara apa, Bun? Aku lagi capek, nih."
Aku menahan diri, berusaha tidak terganggu oleh nada malas Mas Awan.
"Aku cuma ingin kamu dengar sebentar saja. Tentang... perasaanku selama ini." Aku menghela napas menatap suamiku dengan tatapan datar.
"Oke, jadi masalahnya apa lagi?"
Aku menggigit bibir, mencoba merangkai kata.
"Aku merasa keluarga kamu, mereka... selalu memandang rendah aku. Setiap kali ada acara, aku dijadikan bahan olokan karena aku belum hamil. Rasanya aku seperti tak dianggap di antara mereka."
Mas Awan menanggapi keluhanku dengan mengangkat bahu.
"Mereka cuma bercanda, Bun. Kamu aja yang mungkin terlalu sensitif."
"Tapi, Mas," suaraku mulai bergetar, menahan emosi yang sudah lama kupendam.
"Rasanya sakit, setiap kali mendengar mereka bicara seperti itu. Aku sudah berusaha keras, tapi sepertinya mereka tidak melihat aku sebagai bagian dari keluarga ini. Kamu... kamu tahu bagaimana rasanya, kan?"
Awan menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Bun, coba kamu terima aja. Itu udah nasib kita. Aku juga nggak bisa berbuat apa-apa."
Aku tertegun. "Jadi, kamu juga merasa ini... hanya nasib yang harus aku terima?"
"Iya, Bun," jawab Awan datar. "Kalau kita memang belum bisa punya anak, ya harus sabar, nggak perlu dipikirin terus-terusan. Nanti juga mereka bakal capek sendiri, kok."
Aku menatap Mas Awan, merasa semakin jauh dari dukungan yang aku harapkan.
"Awan, aku butuh kamu di sampingku. Aku butuh kamu untuk membelaku, untuk berdiri di pihakku."
Sayangnya, aku harus menelan kekecewaan lagi. Mas Awan malah tampak bosan mendengarkan keluh kesahku.
"Bun, aku capek kalau harus debat terus sama keluarga. Yang mereka omongin itu nggak ada yang serius. Kamu yang terlalu baper."
"Jadi, menurutmu aku yang salah?"
Aku menunduk dengannsuara hati yang begitu getir. "Aku yang salah karena merasa sakit hati setiap kali mereka memperlakukan aku seperti ini?"
"Bun, sudahlah. Jangan terlalu dibesar-besarkan," jawab Mas Awan dengan nada dingin.
"Mungkin memang ada benarnya, kamu terlalu ambil hati. Mereka nggak ada niat jahat, kok."
Aku terdiam dengan mata berkaca-kaca.
"Mas, mereka bukan cuma bercanda. Mereka terang-terangan bilang kalau aku tak pantas di sini. Kamu tahu aku sudah melakukan berbagai usaha untuk bisa punya anak. Berulang kali terapi, obat-obatan, sampai doa yang aku panjatkan... Tapi tetap saja, mereka terus menyalahkanku."
Lagi-lagi Mas Awan hanya mengangkat bahu, seperti tak peduli. Hal itu membuatku sakit hati sekaligus geram. Aku seperti istri yang tak penting di baginya.
Mas Awan lebih rela ribut denganku, daripada menegur sikap adik-adiknya yang kurang sopan.
"Ya udah, terima aja, Bun. Hidup itu kadang nggak sesuai harapan."
Aku menahan napas, kecewa yang semakin dalam menguasainya. "Jadi, kamu sama sekali nggak merasa perlu membelaku?"
"Aku nggak mau masalah makin besar, Bun."
Mas Awan menjawab tanpa emosi. "Lebih baik kamu belajar menerima aja keadaan ini."
Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Teganya Mas Awan mengatakan hal itu kepadaku.
"Kamu benar-benar nggak peduli, ya? Semua ini nggak ada artinya buatmu?"
Awan tertawa kecil, nada suaranya penuh ejekan.
"Bun, kamu ini terlalu rumit. Hidup nggak usah terlalu dipikirkan. Kalau kamu terus begini, kamu malah makin stres sendiri."
Aku merasa hati ini seperti diremas. Semua keluhan dan rasa sakitku hanya dianggap lelucon oleh suami sendiri.
"Mas, aku butuh dukungan kamu. Setidaknya aku ingin tahu kalau kamu ada di pihakku."
Mas menghela napas lagi, tampak semakin malas mendengarkan.
"Sudahlah, Bun. Kalau kamu nggak bisa terima kenyataan, mungkin kamu harus cari cara sendiri untuk nggak tersakiti."
"Cari cara sendiri?" Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Apa maksudmu?"
Awan mendesah, tampak jengkel. "Ya, kalau kamu nggak bisa bahagia dengan keadaan yang sekaranf, mungkin memang kita udah nggak cocok. Aku juga capek kalau kamu terus mengeluh soal ini."
Aku terhenyak. Kata-kata Mas Awan seperti petir di siang bolong, menyambar semua harapan yang masih tersisa di hatiku.
"Jadi... kamu berpikir untuk meninggalkan aku. Mas?"
Mas Awan mengangkat bahu.
"Aku nggak bilang begitu. Tapi kalau kamu terus seperti ini, ya siapa yang tahan, Bun? Kita semua punya batas kesabaran."
Aku menggigit bibir, menahan air mata yang mulai menetes.
"Mas, aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu. Karena aku ingin mempertahankan pernikahan kita."
Mas Awan mengalihkan pandangannya, seolah tak ingin melihat wajahku yang penuh kesedihan.
"Bun, aku nggak tahu apa yang kamu harapkan dari semua ini. Yang jelas, aku nggak mau ribut. Kalau kamu nggak bisa menerima kenyataan, aku nggak bisa bantu lebih dari ini."
Aku tak bisa lagi menahan tangis. Suami, orang yang seharusnya menjadi tempatku bersandar, justru memilih menghindar dan bersembunyi di balik alasan-alasan yang menyakitkan.
Aku merasa kesepian, sangat kesepian. Bahkan ketika orang yang aku cintai duduk di sampingku.
Aku menghapus air mata dengan tangan gemetar, mencoba mengendalikan diri.
"Mas Awan, apa kamu pernah... sekali saja benar-benar mencintaiku?"
Mas Awan terdiam, tidak langsung menjawab. Pandangannya tertuju ke lantai, seolah mencari jawaban yang bahkan tak bisa ia temukan.
Aku menatapnya, berharap ada jawaban yang bisa menguatkan hati. Namun, saat Mas Awan akhirnya mendongak, hanya ada kebisuan di antara kami.
"Mas... jawab aku."