Aku duduk di depan cermin, mengingat kata-kata dokter Satria tentang menjaga kesehatan mental. Saat itu, ia mengatakan bahwa hidup yang penuh tekanan membutuhkan keseimbangan.
Bahwa melakukan sesuatu yang kusukai bisa membantu mengalihkan pikiranku. Kupandangi wajahku di cermin, wajah yang sudah terlalu lama menyimpan kesedihan.
"Kamu harus bangkit, Embun. Mulai dari sesuatu yang kecil saja," kataku mencoba memotivasi diri.
Aku lalu teringat produk skincare yang selama ini kupakai. Banyak teman-temanku yang memuji hasilnya. Beberapa dari mereka bahkan bertanya tentang produk apa yang kupakai.
Rasanya ide ini cukup bagus untuk dicoba. Siapa tahu ini bisa jadi jalan untuk membangun kembali semangatku.
Tanpa berpikir panjang, aku mengambil ponsel dan mulai membuka akun media sosial lama yang sempat vakum. Aku menghapus foto-foto bersama Mas Awan dan mengganti foto profile.
Sekarang akunku khusus untuk berjualan skincare. Setelah memilih beberapa foto terbaik, aku mulai mengunggahnya dengan caption yang jujur tentang hasil pemakaian produk itu di wajahku.
Tak lama kemudian, ponselku berdering. Rupanya, pesan dari seorang teman lama, Lia.
"Bun, kamu mulai jualan skincare? Aku lihat fotomu di i********:! Mukamu glowing banget."
Aku tersenyum, sedikit tersipu. "Iya, Li. Lagi coba-coba aja, buat nambah kegiatan. Selama ini kan aku suka pakai produk ini, jadi kenapa enggak sekalian aku jual?"
"Good idea, Bun! Kamu pasti bisa. Lagian, kulit kamu kelihatan sehat banget. Aku pasti bakal jadi pelanggan pertama deh!"
Aku tertawa, merasa sedikit lega.
"Makasih, Li. Doain aja ya semoga berhasil."
"Pasti! Oh ya, kamu mau live juga enggak? Biasanya kalau jualan skincare, live tuh bisa menarik pembeli lebih banyak."
Aku terdiam sesaat. Melakukan live? Aku bukan orang yang terbiasa tampil di depan kamera, tapi kupikir, tidak ada salahnya mencoba. Mungkin bisa menjadi pengalaman baru yang menyenangkan.
Aku menelan ludah, lalu mengetik balasan. "Live ya? Hmm, kayaknya ide bagus, Li. Aku coba, deh!"
"Good luck, Bun! Kasih tahu kalau kamu mau live, biar aku nonton dan dukung!"
Setelah berbincang dengan Lia, aku langsung menyiapkan beberapa produk dan menentukan tempat yang nyaman untuk melakukan live pertama. Rasanya sedikit gugup, tapi aku yakin ini langkah pertama yang baik.
Beberapa jam kemudian, setelah semua siap, aku akhirnya menekan tombol "Mulai Live."
"Halo semuanya!" sapaku dengan nada ceria, meski dalam hati masih terasa canggung.
"Aku Embun, dan ini pertama kalinya aku live untuk berbagi pengalaman soal skincare yang selama ini aku pakai."
Beberapa komentar langsung muncul. Ada yang menyemangatiku, ada yang penasaran dengan produk yang kupakai.
"Jadi, aku pakai produk ini sudah beberapa bulan. Awalnya kulitku kusam dan berjerawat, tapi setelah rutin pakai, wajahku jadi lebih cerah," jelasku sambil menunjukkan foto before-after hasil pemakaian produk tersebut.
Beberapa orang bertanya di kolom komentar.
"Apa produk ini cocok untuk kulit sensitif, Mbak Embun?"
Aku tersenyum dan menjawab, "Iya, aku juga punya kulit sensitif, jadi awalnya agak ragu. Tapi, ternyata ini cocok banget di kulitku. Kuncinya adalah pemakaian yang konsisten, jangan terlalu berlebihan."
Komentar-komentar terus mengalir, dan aku merasa makin nyaman. Sesi live-ku ternyata cukup ramai, bahkan ada yang sudah langsung bertanya cara pembelian produk.
Selama kurang lebih satu jam, aku membahas manfaat produk, cara pakai, dan hasil yang kualami. Saat live hampir berakhir, beberapa pesan langsung masuk ke akun media sosialku, menanyakan stok dan harga produk.
Setelah menutup live, ponselku kembali berbunyi. Kali ini panggilan dari Lia.
"Halo, Bun! Wah, keren banget live-mu tadi! Kamu kelihatan sangat percaya diri!" ucap Lia antusias.
Aku tersenyum senang, meski masih merasa canggung. "Makasih, Li. Awalnya aku nervous banget, tapi lama-lama seru juga ya."
"Iya, kamu cocok banget jadi influencer, Bun! Kulitmu kan bagus, pasti banyak yang tertarik buat beli dari kamu."
Aku terdiam sesaat, merasa harapan dan semangat baru mulai tumbuh.
"Aku cuma mau fokus dan coba menikmati apa yang aku lakukan, Li. Rasanya menyenangkan bisa berbagi dan melihat orang lain tertarik dengan apa yang kubagikan."
"Benar, Bun. Lagian, kalau kamu sibuk, kamu enggak akan terlalu mikirin masalah lain. Jadi fokus aja sama ini, kamu pasti bisa sukses."
Aku mengangguk meski tahu Lia tak bisa melihatnya. "Iya, Li. Makasih banget buat dukungannya. Aku jadi makin semangat."
Setelah mengakhiri panggilan, aku melihat ponselku lagi dan mulai membalas beberapa pesan pelanggan baru. Ternyata, banyak yang tertarik dengan produknya, dan aku bahkan mendapat pesanan pertama.
Malam itu, aku tidur dengan hati yang lebih tenang. Meski semua masalah belum selesai, aku merasa sudah menemukan sedikit harapan dalam langkah kecil ini.
"Aku bisa, aku pasti bisa," gumamku sebelum menutup mata.
***
Aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan hampir tengah malam. Suara detik jam terdengar semakin keras di tengah kesunyian ini. Mas Awan belum pulang, dan hatiku tak karuan.
Sudah lama aku menunggu, berharap Mas Awan akan datang dan mungkin mau berbicara denganku-mungkin mencoba menjelaskan atau sekadar mengobrol seperti biasanya.
"Tuhan... kenapa Mas Awan tidak pulang juga?" bisikku pada diri sendiri, mencoba menenangkan hatiku yang semakin gelisah.
Kupikir mungkin dia marah. Marah karena aku tak sepenuhnya mendukung rencananya menikah lagi. Aku menunduk, merasa ada sesak yang mengganjal di d**a.
Aku tahu aku tak berhak menolak, tapi... bukankah wajar jika aku merasa sedih? Aku hanya ingin mempertahankan apa yang selama ini ada di antara kami.
"Mungkin... Mas Awan tak mau lagi bicara denganku," gumamku lirih, mencoba mengusir rasa sakit itu.
Aku melirik ponselku, masih tak ada pesan atau telepon dari Mas Awan. Biasanya, kalau dia terlambat pulang, setidaknya dia akan memberi kabar. Namun, malam ini hanya hening yang menyelimuti.
Mataku mulai terasa berat. Rasa kantuk datang menghampiri, tapi hatiku masih ingin menunggu.
"Apa aku harus terus menunggu? Atau... biarkan saja," bisikku pada diri sendiri, mulai mempertimbangkan untuk tidur.
Namun, hatiku tak bisa begitu saja melepaskan harapan. Aku masih ingin dia pulang, masih ingin melihat wajahnya meski sebentar. Berbagai pikiran mulai berlarian di kepalaku, berusaha mencari alasan kenapa dia belum pulang.
"Sudah larut malam, mungkin dia... terlalu sibuk dengan pekerjaannya?" pikirku, mencoba menenangkan diri dengan pemikiran positif, meski hatiku tahu itu hanya alasan.
Tak lama kemudian, tubuhku mulai lelah. Aku menyandarkan kepala ke bantal di sofa dan memejamkan mata, berharap Mas Awan segera pulang dan membangunkanku. Namun, tanpa kusadari, kantuk benar-benar menguasai. Dan akhirnya aku tertidur sendirian di ruang tamu.
Dalam keheningan malam, yang tersisa hanyalah kesepianku, menanti seseorang yang mungkin tak akan datang malam ini.