Aku duduk di meja kecil di sudut kamar, membuka laptop dan mengalihkan perhatian ke tutorial yang ada di layar. Rasanya seperti dunia ini begitu luas, penuh dengan kemungkinan yang menunggu untuk dijelajahi.
Aku menatap langkah-langkah yang dijelaskan dalam video itu dengan seksama. Sekarang, aku bukan hanya duduk diam, berlarut-larut dalam perasaan kecewa dan kehilangan. Aku mulai bergerak. Perlahan, namun pasti.
Dengan modal kecil yang kukumpulkan dari uang jajan dan beberapa simpanan, aku akhirnya memutuskan untuk mencoba sesuatu yang berbeda.
Aku tahu aku butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiranku dari rutinitas yang makin menyesakkan. Dan skincare-produk perawatan wajah-terlihat sebagai pilihan yang pas.
Selama ini aku selalu peduli dengan kesehatan kulit. Mungkin inilah waktunya untuk mencoba menjadikan itu sebagai sesuatu yang lebih.
Aku mulai mencari owner skincare yang aku pakai karena produk yang mereka memiliki kualitas yang bagus, dan sudah teruji POM. Setelah itu aku menghubungi mereka dan mulai bergabung sebagai reseller.
Aku tahu, ini bukan jalan mudah. Aku tidak memiliki pengalaman di dunia usaha, tetapi aku siap belajar.
"Baiklah, Embun. Ini kesempatanmu," ucapku pada diri sendiri, menutup laptop dan mengambil ponsel.
Aku membuka akun Instagramku, membuat sebuah postingan pertama yang menjelaskan bahwa aku mulai menjual produk skincare dengan sistem pre-order. Dengan sedikit cemas, aku menandai beberapa teman-teman dekatku yang kutahu tertarik dengan produk-produk kecantikan.
Tak lama kemudian, pesan masuk satu per satu. Beberapa teman mulai menanyakan lebih lanjut mengenai produk yang aku tawarkan.
Awalnya, rasanya aneh. Aku belum terbiasa berbicara tentang produk ini. Apalagi dengan harga yang bisa dibilang cukup mahal dibandingkan produk skincare lain yang mereka kenal.
"Embun, ini beneran jualan skincare? Aku kira kamu cuma main-main aja," tulis Lia, teman kuliahku yang sudah lama tak kuhubungi.
Aku tertawa kecil. Tentu saja, mereka menganggapku hanya bercanda. Aku tidak bisa menyalahkan mereka. Mereka tidak tahu bahwa di balik ini semua, aku merasa ada harapan yang ingin kutemukan kembali.
"Serius kok, Li! Kalau mau coba, nanti aku kasih sample ya. Produk ini beneran bagus, aku udah cobain sendiri," balasku, mencoba terdengar meyakinkan.
Lia pun menjawab, "Oke, aku coba deh! Tapi kalau nggak cocok gimana?"
Aku menatap layar ponselku, sedikit ragu. "Tenang aja, nggak cocok nggak masalah. Coba aja dulu. Aku cuma butuh feedbacknya."
Beberapa hari setelahnya, respons dari temanku, Lia, datang.
"Bun, aku udah coba produkmu. Wajahku jadi lebih cerah loh! Enak banget dipakai, aku suka deh. Pasti beli lagi."
Senang rasanya mendengar komentar positif itu. Meskipun tidak banyak, namun itu adalah langkah pertama yang memberi harapan baru. Ternyata, produk yang aku pilih bisa diterima dan disukai.
Ini bukan hanya soal mendapatkan uang, tapi juga tentang mencoba hal baru dan menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa melakukan sesuatu.
Sayangnya, tidak semuanya mendukung langkahku ini. Keluarga Mas Awan, terutama ibu mertuaku, tampaknya tidak terlalu peduli. Mereka menganggap ini hanya sebuah permainan belaka. Tidak ada yang serius.
"Embun, kamu itu cuma jualan skincare? Itu kan cuma buang-buang waktu. Apa nggak ada kerjaan yang lebih bermanfaat?" kata ibu mertuaku suatu pagi saat aku sedang mengemas paket untuk dikirim.
Aku menahan napas, berusaha tidak tersinggung.
"Tapi, Bu, aku merasa ini adalah kesempatan buat belajar dan berkembang. Kalau nggak dicoba, gimana tahu bisa berhasil?"
"Lebih baik bekerja kantoran seperti Nayla. Sudah pasti dapat gaji dan asuransi kesehatan," sindir mertuaku.
Astagfirullah.
Aku mengucap istigfar berulang kali. Jika saja tak menghormati sebagai orang yang lebih tua, mungkin sudah kuremas mulutnya.
"Saya lebih nyaman berjualan, Bu. Semoga ada rezekinya."
Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepala.
"Ya sudah, kalau kamu mau teruskan, terserah. Tapi jangan sampai merugikan diri sendiri."
Aku merasa sedikit kecewa, tetapi aku tidak ingin menyerah. Setiap kali mendengar komentar negatif dari keluarga Mas Awan, aku semakin merasa bahwa ini adalah langkah yang tepat.
Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa sukses meskipun tanpa dukungan mereka.
Hari-hari berlalu, dan aku semakin sering menerima pesanan dari teman-temanku. Mereka mulai merekomendasikan produk ini kepada orang lain. Penjualanku mulai meningkat meskipun tidak besar.
Aku merasa semakin bersemangat. Bahkan aku mulai mencoba untuk mempelajari lebih banyak tentang produk skincare dan cara pemasarannya.
"Ayo, Bun! Semangat! Ini peluangmu!" seruku dalam hati setiap kali aku melihat notifikasi baru dari pelanggan yang bertanya tentang produk.
Suatu pagi, saat aku sedang mempersiapkan paket untuk dikirim, Mas Awan, suamiku, masuk ke ruang tamu dan melihatku sibuk mengemas barang.
"Kamu lagi ngapain, Bun?" tanya Awan dengan nada datar.
Aku berhenti sejenak, lalu tersenyum. "Lagi kirim produk skincare. Ada beberapa orang yang pesan. Aku mulai jualan, kan?"
Mas Awan hanya menatapku, lalu mengangguk. "Hmm... kalau itu buat kamu senang, ya sudah. Tapi jangan terlalu berharap banyak."
Aku merasa sedikit terluka dengan kata-kata Awan, meskipun aku tahu dia tidak bermaksud buruk. Aku sudah terbiasa dengan sikap apatisnya.
Aku mencoba untuk tidak terlalu peduli. Namun, dalam hatiku, ada keinginan besar untuk menunjukkan bahwa aku bisa lebih dari sekadar istri yang hanya duduk di rumah.
Hari-hari berikutnya berlalu, dan aku mulai mendapatkan lebih banyak feedback positif dari teman-temanku yang sudah mencoba produk. Rasanya, seperti ada sedikit cahaya di ujung terowongan yang gelap.
Aku tidak lagi merasa seperti orang yang terperangkap dalam rutinitas yang menyesakkan. Aku menemukan tujuan baru, sesuatu yang bisa aku banggakan.
Namun, meskipun aku merasa bersemangat, aku tidak bisa menutup mata pada kenyataan. Mas Awan tampak acuh tak acuh dan aku masih merasa terasing dengan suami sendiri. Tetapi, aku bertekad untuk terus melangkah, tidak peduli apa yang orang katakan.
"Ini hanya permulaan, Embun. Kamu pasti bisa," kataku pada diri sendiri, menatap layar ponsel yang menunjukkan notifikasi dari pelanggan yang kembali memesan produk.
Aku tahu, perjalanan ini tidak akan mudah. Tetapi satu hal yang aku sadari-aku tidak akan pernah menyerah.
Di balik setiap penolakan, ada kekuatan untuk bangkit. Dan aku sudah memulainya.