Arsen. Nama itu jelas masih terngiang di telinga Rosi sebab pria itu semalam sempat mengatakannya ketika Rosi meninggalkannya dan masuk ke dalam mobil. Siapa sangka jika pria bernama Arsen muncul kembali dan duduk menjadi peserta meeting siang ini. Dan anehnya, Rosi baru melihat pria ini sekali ini ada di kantornya. Karena yang Rosi tau, meeting tender kali ini diikuti oleh beberapa mitra yang telah lama bekerjasama dengan Adinata Group.
Tak ingin konsentrasinya buyar, Rosi berdehem, membuang pandangan meski tatapan mereka sempat bertemu sesaat.
Dan meski hanya sesaat, tapi cukup membuat jantung Rosi berdetak tidak normal.
Untung saja Mega segera menarik kursi di sampingnya.
"Silahkan duduk, Bu Rosi."
Rosi tersentak. "Oh, iya. Terima kasih."
Dengan berusaha terlihat normal, Rosi berjalan menuju kursi yang sudah disiapkan untuknya.
Meski begitu, ia bisa merasakan tatapan seseorang yang terus mengikutinya.
Siapa lagi jika bukan Arsen.
Sialnya, pria itu duduk tepat di seberang meja meeting. Posisi yang membuat Rosi sulit menghindari keberadaannya.
Bahkan setiap kali ia mengangkat kepala, matanya berpotensi bertemu dengan pria tersebut.
Dan itu bukan kabar baik. Sama sekali bukan.
Karena semakin sering melihat Arsen, semakin banyak pula potongan-potongan kejadian semalam yang muncul di kepalanya.
Bagaimana ia mabok air putih di klub malam dan lebih gilanya lagi tentang percakapan konyol mereka yaitu penawaran pernikahan yang keluar begitu saja dari mulutnya.
Itu sungguh memalukan.
Kalau saja ada mesin waktu, Rosi ingin kembali ke waktu semalam dan membekap mulutnya sendiri sebelum melakukan semua kebodohan tersebut.
"Bu Rosi?"
Suara salah satu staf membuatnya kembali fokus.
"Ya?"
"Kita mulai sekarang?"
Rosi mengangguk cepat. "Silahkan."
Meeting pun dimulai.
Presentasi demi presentasi dipaparkan di layar besar. Beberapa perusahaan konstruksi dan properti yang menjadi kandidat pembangunan gudang baru serta mess karyawan menjelaskan proposal mereka masing-masing. Biasanya Rosi sangat fokus dalam rapat seperti ini.
Ia terkenal kritis dan detail.
Namun hari ini pikirannya setengah mengembara. Sesekali matanya tidak sengaja melirik ke arah Arsen.
Dan setiap kali itu terjadi, pria tersebut tampak tenang mendengarkan presentasi tanpa menunjukkan ekspresi berlebihan.
Sangat profesional. Dan itu membuatnya semakin malu.
"Bu Rosi?"
Mega menyenggol pelan lengannya.
Rosi langsung tersadar. "Ya?"
"Kita sedang membahas estimasi anggaran pembangunan."
"Oh."
Mega menatapnya curiga.
Rosi pura-pura membuka dokumen di depannya.
Beruntung tidak ada yang menyadari bahwa direktur marketing Adinata Group sedang kehilangan fokus karena seorang pria.
Setelah hampir dua jam diskusi berlangsung, akhirnya tibalah sesi akhir.
Tim penilai internal perusahaan mempresentasikan hasil evaluasi seluruh proposal yang masuk.
Ruangan mendadak hening.
Semua peserta menunggu hasilnya.
"Setelah mempertimbangkan aspek biaya, efisiensi, kualitas material, pengalaman proyek, dan jangka waktu pengerjaan."
Salah satu anggota tim penilai membuka dokumen di tangannya.
"Maka pembangunan gudang baru dan mess karyawan Adinata Group diberikan kepada AGD. Abraham Group Development."
Tepuk tangan langsung terdengar di dalam ruangan. Rosi ikut bertepuk tangan meski pikirannya masih sedikit terkejut.
Abraham Group Development.
Jadi Arsen adalah bagian dari perusahaan tersebut dan Rosi baru tau. Selama ini yang Rosi kenal bukan Arsen melainkn orang lain yang menjadi pimpinan perusahaan tersebut. Lantas, kok bisa tiba-tiba berubah?
Padahal perusahaan properti tersebut cukup besar dan memiliki reputasi yang sangat baik. Mustahil jika Rosi tidak tahu jika mereka ada pergantian kepemimpinan tanpa memberitahu terlebih dahulu.
Namun,. lagi-lagi Rosi disadarkan akan lamunan ketika seorang pria berusia tiga puluh tahunan berdiri dan berbicara. Pria tersebut sudah Rosi kenal memang sering ikut meeting bersama sang pimpinan.
"Saya Dimas, asisten sekaligus penasihat Abraham Group Development. Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih sudah mempercayakan proyek ini kepada perusahaan kami. Dan yang kedua, saya ingin memperkenalkan CEO perusahaan yang selama ini memang berada di luar negeri. Beliau adalah Mister William Arsenio."
Arsen menatap satu per satu sembari tersenyum. Lalu, Dimas kembali melanjutkan. "Dan untuk proyek kali ini, Mister William yang akan meng-handle nya sendiri. Sebab Pak Hendri yang tak merupakan Dirut perusahaan sekaligus paman dari Mister William, sedang mempersiapkan masa pensiun. Mister Wil ini baru pulang beberapa waktu lalu dan mulai mengambil alih perusahaan secara penuh." Dimas melanjutkan penjelasannya.
"Karena itu banyak mitra yang belum mengenal beliau secara langsung."
Semua tanda tanya yang sempat muncul di kepala Rosi akhirnya terjawab.
Pantas saja ia tidak pernah melihat Arsen sebelumnya dalam lingkup bisnis. Padahal dunia usaha Indonesia tidak terlalu luas, apalagi untuk kalangan keluarga konglomerat. Ternyata pria itu memang baru kembali dari luar negeri.
"Mister Wil punya banyak pengalaman internasional," lanjut Dimas bangga.
"Beliau menangani beberapa proyek besar selama di Australia."
Deg.
Mendadak wajah Rosi terasa memanas. Kalau Arsen memang seorang CEO sukses yang baru kembali dari luar negeri, berarti semalam ia terlihat seperti perempuan gila di hadapan pria itu. Perempuan yang patah hati.
Mabuk air putih lalu malah menawarkan pernikahan.
"Bu Rosi?"
Suara Mega membuatnya kembali sadar.
"Ya?" jawab Rosi gugup.
"Apakah ada yang ingin Anda sampaikan atau tanyakan?"
Kepala Rosi menggeleng cepat. "Tidak. Semuanya sudah jelas."
Setelahnya meeting pun selesai. Satu per satu peserta meeting meninggalkan kursi masing-masing. Kecuali Arsen.
Mengetahui hal itu, lagi-lagi Rosi salah tingkah sendiri dan buru-buru beranjak berdiri. Akan tetapi Arsen berhasil menghentikan pergerakannya.
"Bu Rosi, bisa kita bicara sebentar?"
Rosi menatap Arsen, lalu menelan ludah kasar. Ia melirik Mega yang masih menunggunya. Kemudian menoleh pada Arsen. Dan selanjutnya kembali menatap Mega. Rosi berdehem sebentar sebelum berkata, "Meg, kamu duluan saja. Nanti saya nyusul. Saya masih ada hal yang harus dibahas dengan Ar__ , maksud saya Mister William." Hampir saja keceplosan menyebut nama Arsen.
Mega mengangguk lalu melirik Arsen.
"Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu."
Sepeninggalan Mega, mendadak ruangan terasa sunyi. Hening tak ada yang bersuara. Hingga Arsen yang lebih dulu membuka percakapan.
"Apa kabarnya Bu Rosi?"
"Saya... baik. Jauh lebih baik."
Arsen mengangguk. "Maaf jika saya mengganggu waktu kerja Anda. Sebenarnya saya hanya ingin bertanya satu hal pada Anda."
"Apa itu?"
Arsen mencondongkan tubuh lebih ke depan lalu berkata dengan nada yang tidak terlalu keras.
"Apakah penawaran Anda semalam masih berlaku?"