2. Kabar Pertunangan Bikin Sakit Hati

1123 Words
"Selamat pagi, Bu Bos." Sapaan yang datangnya dari sosok wanita cantik berpakaian rapi dengan blazer krem dan rok span. Namanya Mega. Perempuan berambut pendek sebahu yang ditangannya penuh dengan beberapa map serta tablet yang berisikan jadwal kerja. "Pagi, Meg," balas Rosi, menoleh pada asistennya yang kini mengikutinya masuk ke dalam ruangan. Iya. Mega adalah sekretaris pribadi Rosi sekaligus sahabat baik wanita itu. Mega mengernyit menelisik penampilan sang atasan yang kurang fresh. “Kok tumben masih pagi wajahnya sudah kusut begitu?" Rosi hanya mendesah lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi kerja. Mega terkekeh pelan sebelum membuka tablet di tangannya. “Oh ya, Ros. Jangan lupa nanti siang kita ada meeting terkait pembangunan gudang baru sama mess karyawan.” Rosi langsung memejamkan mata. “Harus aku ya?” “Loh iya,” jawab Mega cepat. “Kan Om Adi sudah menyerahkan semuanya ke kamu.” Rosi kembali menghela napas panjang. Benar juga. Sejak dirinya resmi terjun sepenuhnya dalam perusahaan, sebagian besar operasional perusahaan memang sudah dipercayakan kepadanya. Dulu Rosi hanya manager marketing. Namun karena performanya bagus dan ide-idenya berhasil menaikkan penjualan produk kosmetik Adinata Group secara signifikan, posisinya naik menjadi direktur marketing dalam waktu relatif cepat. Dan jujur saja itu melelahkan. Apalagi belakangan masalah pribadinya ikut berantakan. “Iya juga,” gumamnya akhirnya. “Ya sudah. Nanti tolong siapkan apa saja yang harus kita bawa ke meeting.” “Siap, Bu Bos.” Mega memberi hormat bercanda. Rosi terkekeh kecil meski lemah. “Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya Mega lagi. Rosi menggeleng pelan. “Nggak ada.” Ia berhenti sejenak lalu kembali memijit pelipisnya. “Eh tapi kalau boleh ngerepotin bentar, tolong bikinin saya kopi deh. Kepala saya pusing banget.” Mega mengangguk. “Baik.” Namun sebelum pergi, ia memperhatikan wajah sahabatnya lebih lama. “Eum, kalau boleh tahu wajahmu kok kusut begitu? Ada masalah?” Pertanyaan itu membuat Rosi diam beberapa detik. Lalu menjawab singkat. “Selena.” Satu nama itu langsung mengubah ekspresi Mega. “Kenapa dengan Selena?” tanyanya cepat. “Semalam jadi datang ke pesta ulang tahunnya?” Rosi tertawa hambar. "Ya, jadi.” Ia bersandar lemas di kursinya. “Dan saya menyesal kenapa nggak ngajakin kamu. Setidaknya kalau ada kamu, saya nggak terlihat terlalu menyedihkan.” Mega langsung berjalan mendekat sebab penasaran. “Apa yang terjadi?” Rosi menatap langit-langit ruangan beberapa detik sebelum menjawab pelan. “Selena dan Vito beneran selingkuh.” Hening. “Mereka bahkan terang-terangan mengakui hubungan terlarang mereka selama ini," Rosi melanjutkan ucapannya dengan nada bergetar. “Sialan!” umpat Mega spontan. Rosi tertawa kecil. Tapi tawanya kosong. “Menyedihkan sekali kan nasib saya ini?” “Nggak! siapa bilang,” bantah Mega cepat. “Kamu pasti bisa mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari Vito.” Rosi memejamkan mata. Nggak tau apa yang akan terjadi selanjutnya dengan masa depannya. “Jangan sedih,” lanjut Mega lembut. “Tunggu sebentar saya buatkan kopi.” “Makasih, Meg.” Mega keluar dari ruangan, meninggalkan Rosi sendirian dengan pikirannya sendiri. Dan itu buruk. Karena begitu sunyi datang, bayangan semalam kembali menghantui. Sungguh, Rosi hampir tidak mempercayai jika kekasih dan sepupunya sendiri tega mengkhianatinya sejauh ini. ••• Siang datang begitu cepat ketika Mega kembali masuk ke dalam ruangan Rosi. Tidak hanya untuk mengingatkan sang atasan akan jadwal meetingnya setelah ini tapi juga ada sesuatu yang harus Mega berikan. "Ros, ini tadi ada undangan buat kamu." Rosi mengernyit. "Undangan apa?" Mega meletakkan undangan tersebut di atas meja kerja Rosi. "Undangan pertunangan Vito dengan Selena," ucap Mega lirih sembari memperhatikan ekspresi terkejut dari Rosi. Wanita itu mengambil undangan tersebut lalu membacanya sekilas. "Akhirnya hubungan mereka diresmikan juga." "Ros, kamu nggak papa kan?" Rosi mencoba tersenyum. "Nggak. Saya nggak papa. Justru saya harus bersyukur sebab sebelum saya benar-benar melangkah lebih jauh menjalin hubungan bersama Vito, Tuhan sudah mengingatkan saya bahwa Vito bukanlah pria yang baik untuk menjadi suami saya." "Iya. Kamu benar. Yang sabar ya, Ros" "Its okay. Saya beneran nggak papa kok, Meg. Kamu tenang saja. By the way, kita jadi meeting?" "Jadi dong. Apa Bu Bos sudah siap?" tanya Mega memastikan. Rosi menarik napas panjang. Mencoba menegakkan kembali harga dirinya yang sejak semalam terasa diinjak-injak. "Iya. Saya siap." Melihat tatapan Mega yang seolah tidak percaya, Rosi kembali berkata. "Saya beneran nggak apa-apa, Mega. Jangan melihat saya seperti itu." Mega menatapnya ragu. "Kamu yakin?” “Kita tetap meeting.” Rosi berdiri dari kursinya lalu merapikan blazer putih yang ia kenakan. “Saya harus tetap profesional, bukan?” Mega tersenyum tipis meski masih khawatir. “Ya, baiklah kalau begitu. Lima belas menit lagi meeting akan dimulai." Rosi mengangguk pelan. Namun setelah Mega keluar lagi, perempuan itu langsung memejamkan mata kuat-kuat. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Sakit. Ternyata mendengar kabar pertunangan itu jauh lebih sakit daripada yang ia bayangkan. Vito benar-benar serius dengan Selena. Dan bodohnya sebagian kecil hati Rosi masih terluka karenanya. Perempuan itu tertawa kecil. Menertawakan dirinya sendiri. “Payah banget sih kamu, Ros!" Rosi menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak. Dia tidak boleh terlihat menyedihkan di depan orang lain terutama di hadapan Vito dan Selena. ••• Lima belas menit kemudian, Rosi dan Mega berjalan berdampingan menuju ruang meeting utama di lantai tujuh. Langkah heels mereka beradu dengan lantai marmer mengkilap sepanjang lorong perusahaan. Mega beberapa kali melirik diam-diam ke arah Rosi. Sahabatnya itu terlalu diam. Tidak ada ocehan khas Rosi. Tidak ada keluhan random. Tidak ada ekspresi jutek menyebalkan yang biasanya muncul saat menjelang meeting. Yang ada hanya wajah yang terlalu tenang. Dan justru itu membuat Mega makin khawatir. “Ros,” panggilnya pelan. “Hm?” “Kamu yakin kuat?” Rosi tetap berjalan lurus ke depan. “Saya nggak selemah itu.” “Tapi?" “Meg.” Rosi menoleh sebentar lalu tersenyum tipis. “Saya serius nggak papa.” Mega menghela napas. Ia tahu persis sifat Rosi. Kalau perempuan itu sudah mempertahankan gengsi, maka sulit membuatnya mengaku sedang hancur. Akhirnya Mega memilih diam. Mereka terus berjalan hingga tiba di depan ruang meeting besar. Mega membuka pintu ruang meeting lebih dulu. “Silakan, Bu Bos.” Rosi melangkah masuk. Beberapa klien sudah hadir dan duduk di kursinya masing-masing. Ada yang berbincang santai, ada yang sibuk membuka laptop, dan beberapa lainnya berdiri menyambut mereka dengan sopan. “Selamat siang, Bu Rosi.” “Siang.” Rosi membalas profesional meski kepalanya sebenarnya masih penuh kekacauan. Namun, mendadak langkahnya berhenti. Kedua netranya langsung jatuh pada sosok pria yang duduk santai di salah satu kursi ruang meeting. Pria itu mengenakan setelan hitam formal yang membuat auranya semakin mahal dan berwibawa. Rambutnya tertata rapi, rahangnya tegas, dan mata tajam itu menatap langsung ke arahnya. Deg. Jantung Rosi hampir meloncat keluar. Bagaimana mungkin dia bertemu lagi dengan pria tak dikenal yang semalam ia minta untuk menikahinya. 'Mampus kau, Rosi!'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD