Kesedihan Seera juga Amarah Nara

1401 Words
Seera berlari sekuat tenaga untuk mencari keberadaan Yasemin, Ia mengelilingkan pandangan matanya. Hatinya begitu sangat mencemaskan Yasemin. Mata yang mulai mengembun, dengan nafas tersengal Ia tak henti mencari keberadaan Yasemin. Kejadian 10 tahun yang lalu membuat Yasemin merasa sangat menderita dan Seera memahami hal itu, itulah yang membuat Seera rela menggantikan posisi Ayahnya dalam menanggung beban kehidupan Ibunya. TPU besar Ereveld menjadi tempat peristirahatan terakhir Raka Savier Eijas, yang mungkin usianya saat ini sudah menginjak 30 tahun. Ia satu-satunya kakak kandung Seera, Ia meninggal dengan menjatuhkan dirinya dari lantai tiga rumah megah keluarga Seera terdahulu. Dan kematian sang kakak, membuat Ibunya mengalami guncangan yang sangat hebat. Ia melangkah, satu demi satu langkah Ia lakukan untuk menemukan sang Ibu. Namun dari kejauhan, makam sang Kakak tidak jua ia temukan Ibunya. “Mama…” Lirihnya saat mencari sang Ibu, air mata nya sudah deras membasahi pipi merah miliknya. Sampailah Seera tepat di hadapan pusara kakak nya, “Kakak… Apakah kau melihat mama?” Tanya Seera bermonolog, Ia tak henti menyeka air matanya. “Ini salah ku, sedari kemarin ia selalu mengajak ku untuk menemui kakak.” Sambung Seera kembali. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, Udara terasa segar bahkan terik matahari sudah tidak seterik siang tadi. Namun entah mengapa, Ia tak merasakan udara segar itu. Ia meratapi perasaan bingung dalam mencari ibunya, “Dimana aku harus menemukan Mama.” Tanya nya seorang diri kembali. “Ma-ma di sini Seera.” Ucap Ibunya dari arah belakang, Seera membalikkan tubuhnya. Tubuh Ibunya begitu lemah, mungkin karena sudah berjalan jauh dari rumah hingga ke makam tersebut. Keringat bercucuran, lutut nya pun sudah tidak mampu menopang berat tubuhnya walaupun terlihat kurus. “Ya Tuhan Mama..” sahut Seera yang segera menyeka keringat yang bercucuran di dahi ibunya, Ia mendudukkan ibunya itu di samping makam kakaknya. Seera benar-benar merasa bersalah, namun harus bagaimana lagi. Seera sibuk dengan pekerjaan nya juga sibuk dengan segudang tugas dari kampusnya. Bahkan Ia juga selalu berusaha mengerjakan pekerjaan rumah saat ia tidak mampu membayar Bi Mina. “Berjanjilah untuk tidak bepergian seorang diri, Mama bisa meminta antar pada Bi Mina. Dan Seera akan memberikan uang untuk perjalanan mama.” Bentak Seera dengan raut wajah kesal, “Bagaimana jika sesuatu terjadi pada mama, bagaimana jika Seera kehilangan mama. Dengan siapa Seera akan hidup?” Seera menangis dan segera memeluk tubuh lemah Ibunya. “Please jangan lagi berulah mama, Seera tidak mau kehilangan siapapun lagi. Cukup kakak yang pergi.” Kata Seera kembali, Ibunya mengangguk dengan pelan. “Ma-af kan ma-ma See Ra.” Imbuh Yasemin kepada anak gadisnya itu, Seera mengangguk. Ia melepaskan pelukan nya pada tubuh sang Ibu, Ia menyeka air mata Ibunya. “Seera sudah memaafkan mama, maafkan Seera juga ma.” Ungkap nya sembari mengecup pipi serta kening Ibunya, tak puas dengan hanya mengecup pipi serta keningnya, ia pun mengecup kedua mata Yasemin yang masih menyimpan sisa air mata. “Ya sudah, Mama sekarang bicara dengan kakak ya. Seera tunggu di belakang Mama.” Yasemin menganggukkan kepalanya, Ia pun membantu Ibunya untuk segera bangkit dan merangkul tubuh Ibunya untuk berdiri di samping pusara sang kakak. “Bagaimana tidak aku membenci mu Tuan Eijas, kau telah membuat semuanya hancur. Kau membuat ibuku hancur, kakak ku pergi dan kehidupan masa kecil ku suram dan kelam. Aku berani bersumpah pada Tuhan bahwa aku sangat membenci dirimu Tuan Eijas. Andai aku tidak lahir dari darah dirimu, mungkin aku sudah bahagia. Itulah yang membuat aku enggan memakai nama mu di belakang nama diriku. Semua karena aku membenci mu.” Gumam Seera dalam hati. Sementara di Mansion Himawan Wiajaya, terlihat Nara baru saja pulang. Ia terlihat menyapa Bani dan Naya yang juga baru saja datang, “Hay kak, kakak baru pulang juga?” Tanya Nara. “Iya, tetapi kita mau pergi lagi Nar.” Sahut Naya. “Loh kemana?” “Kita mau bertemu Dokter Evelyn.” Sahut Bani menjawab pertanyaan adik Iparnya. “Oh mau cek kandungan lagi?” Naya mengangguk, begitupun Bani. Sudah 10 tahun menikah, namun Naya dan Bani belum jua di karuniai anak dan mereka tidak pernah pantang menyerah walaupun sudah melakukan Program IVF sebanyak 3 kali dan semuanya gagal total. “Ya udah, Nara doakan kali ini berhasil. Nara udah rindu nih ingin punya keponakan,” ucap Nara yang terlihat berusaha memberikan sedikit harapan untuk kedua kakaknya, “rindu godain maksudnya, kan seru. Lebih baik berdebat sama keponakan sendiri di bandingkan sama Daddy sendiri.” Sambung Nara. “Nar.. Jangan mulai Ah. Nanti Daddy datang, malah ada boom lagi.” Pekik Naya dengan suara Khasnya. “Rumah ini gak akan seru kalau gak ada Boom,” mendengar suara mobil Ayahnya itu, Nara pun melanjutkan pembicaraan nya itu. “Sebentar lagi Boom nya datang.” “Syut ah! Sudah sana masuk.” Titah Naya kepada adik satu-satunya itu. Tak lama kemudian, Himawan datang beserta Karen. Dan sebelum Himawan masuk, Nara sudah terlebih dahulu pergi menuju kamarnya. “Sore Dad..” sapa Naya bersama Bani. “Sore sayangnya Daddy, adik mu sudah pulang?” Tanya Himawan. “Sudah, dia lagi di kamarnya.” Sahut Naya, “Kita juga mau keluar lagi Dad.” Sambung Naya. “Oh Ya, kalian mau kemana?” Himawan bertanya pada anak sulungnya itu. Naya tersenyum, Ia beralih menatap wajah suami yang sangat Ia cintai. “Kita mau ke dokter Evelyn Dad.” Timpal Bani yang beralih mengambil sebuah jawaban dari pertanyaan Ayah mertuanya. “Oh, ya sudah. Tetapi jangan lupa ya saat makan malam kalian pulang, Daddy sudah lama tidak makan malam dengan kalian juga adik kalian.” Sahut Himawan. Setelah melakukan perbincangan dengan anak juga mantunya, Himawan memilih untuk menghampiri ruang kerjanya yang berada di dalam Mansion miliknya. Karen terlihat duduk di atas sofa ruang keluarga bersama Naya dan Bani yang juga masih duduk di sana. “Kalian ini ke 4 kali melakukan Program ya?” Tanya Karen kepada Naya dan Bani. Dengan raut wajah yang ragu Naya pun mengangguk pelan sebagai jawaban untuk pertanyaan Karen. “Gak lelah?” Tanya Karen, raut wajah angkuh Ia berikan untuk Putri sambungnya. Sebenarnya usia mereka tidak jauh berbeda, bahkan dulu Karen salah satu teman Naya dalam dunia model dan sosok gadis miskin yang mendapatkan sebuah perlakuan khusus dari Ibu kandung Naya dan Nara. Hingga skandal itu terjadi, dimana Karen menggoda Himawan dan terjadi lah sebuah perselingkuhan. Mendengar pertanyaan Karen, Bani yang tidak ingin Istrinya merasa terganggu pun memilih untuk segera mengajak Istrinya pergi. “Kita tidak akan pernah lelah, Iya kan sayang?” Tanya Bani, Naya mengangguk ragu. Raut wajah kesal dan marah bercampur aduk, namun Naya salah satu orang yang memiliki sifat selalu mengalah dan tidak menyukai sebuah perdebatan. Sifatnya persis dengan Ibunya, “Sayang, sepertinya Jakarta macet ya jam segini. Lebih baik kita pergi sekarang saja,” ajak Bani, Naya menghela nafas nya dan kembali mengangguk tanda Ia menyetujui ajakan Bani. Karen tersenyum puas melihat raut wajah putri sambungnya, “sampai kapan pun, kau tidak akan pernah menjadi sosok Ibu Naya. Lihatlah nanti.” Gumam nya dengan mata mendelik licik. Dan di dalam kamar, Nara yang sudah mandi itu terlihat bersiap untuk mendatangi sebuah tempat kebugaran. Ia memang sangat aktif dalam menjaga kondisi tubuhnya, selain senang berolah raga, Ia selalu menggunakan sesi olahraga sebagai obat ampuh menanggulangi stress di dalam dirinya. Ia keluar dari dalam kamar dan segera menuruni setiap anak tangga itu. Namun saat Ia akan bergegas keluar, suara Karen memanggilnya. “Nara..” Nara menoleh dengan sorot mata yang terlihat sinis, Karen berjalan menghampiri Nara. Setelah sampai di hadapan Nara, Ia berdiri dengan tatapan yang membuat Nara tergoda. Ia mencoba meraih d**a bidang Nara, “Jangan pernah menyentuh ku, aku tidak sudi di sentuh oleh wanita tidak tahu diri seperti mu!” Tegas Nara kepada Karen. Karen tidak menanggapi nya dengan rasa takut, Justru Ia semakin tergoda dengan sosok anak sambungnya. “kalimat mu sungguh menggoda diriku NataNara Wijaya.” Ucap Karen dengan desah manja nya, Nara begitu jijik dengan sosok Ibu sambungnya. Tangan Nara terlihat menepis tangan Ibu sambungnya, tatapan nya tajam. “Aku bukan Nara yang usianya saat itu baru 12 tahun, kau tidak akan bisa lagi menyentuh ku. Wanita sialan!” Ia membuang kasar tangan Karen, lalu memilih berlalu pergi dan Karen kembali tersenyum puas karena sudah berhasil membuat kedua anak sambungnya merasa kesal. ”Nara, Naya. Kalian tidak akan betah tinggal di Mansion ini. Mansion ini hanya milik, Karen Wijaya. Paham.” Ucap Karen dengan raut wajah angkuh dan dagu yang mendongkak tinggi keatas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD