Setelah pertemuan itu terjadi, Bani pun segera meminta Seera untuk melakukan tugasnya sebagai seorang pengajar untuk Nara. Kebetulan hari ini Seera tidak memiliki jadwal kelas, Seera mengajaknya ke sebuah taman yang berada di dalam lingkungan kampus tersebut. Tanpa mengatakan apapun, Ia pun duduk dan tidak menyuruh Nara untuk duduk di hadapan nya. Nara berdiri dengan keadaan canggung, dan Seera terlihat mengeluarkan alat tulis serta buku miliknya.
Nara memilih untuk meninggalkan Seera, namun baru saja dua langkah meninggalkan Seera. Perkataan Seera pun memekik dirinya, “Terserah kamu tidak mau belajar, aku tinggal balik lagi ke ruangan Pak Bani dan mengadukan kamu!” Nara membalikkan tubuhnya kembali, Ia membuang nafasnya dengan kasar.
“Kamu tidak menyuruh ku duduk, lalu untuk apa aku disini.” Ucap Nara dengan sedikit nada yang Ia tinggikan, Seera merotasi bola matanya. Lalu sedikit mencebikkan bibirnya, “Untung saja kita belajar di tempat umum, kalau di dalam kamar hotel ku…” Kalimat Nara terhenti saat Seera membulatkan bola matanya.
“Ups Sorry, tenang rahasia mu sebagai House keeping aman bersama ku.” Seera semakin kesal dengan tingkah lelaki yang menurutnya sangat menyebalkan.
“Terserah, aku tidak peduli jika kamu mau menyebarkan apa pekerjaan ku.”
Mendengar ucapan Seera, Nara menggigit bibirnya tanda Ia menahan sebuah amarah. Entah mengapa baru kali ini Ia menemukan sosok gadis yang sama sekali tidak terpesona dengan ketampanan nya, dan Seera termasuk gadis yang terlihat begitu berani kepadanya.
“Duduklah Tuan kaya. Kau mau Nilai Statistikan baik kan? Ikuti aku, kalau tidak, aku tidak akan bertanggung jawab jika kau tidak bisa mengikuti ujian Statistika!” Nara menajamkan matanya itu, Ia benar-benar tidak mengerti dengan sosok gadis pemberani ini. Ia sama sekali tidak mengagungkan dirinya, atau mungkin Seera tidak tahu siapa Nara di kampus ini.
Tanpa menunggu Seera memerintahnya lagi, Nara pun duduk tepat di samping Seera. Namun hal mengejutkan membuat Nara begitu semakin sangat kesal kepada sosok gadis bernama Seera itu, Ia bangkit dari duduknya dengan rotasi mata yang membola.
“Kenapa?” Tanya Nara pada Seera.
Seera menaikkan dagunya, lalu melihat bangku kosong di hadapan nya.
“Apa tidak melihat kursi kosong di hadapan ku?” Tanya Seera pada Nara.
Nara menatap nya lekat, lalu beranjak dan berdiri di hadapan nya. Nara berucap dengan nada yang sangat ketus, “Kau tidak lihat aku punya mata?” Tanya Nara dengan menunjuk kedua matanya yang begitu indah di mata para gadis. Seera mendelikkan matanya, “Kau mau mengajari ku apa tidak hmm?” bentak Nara kembali.
“Wasting Time!” celetuknya.
“kamu Justru yang sudah membuang waktu ku!” teriak Seera.
“Lalu?” Tanya Nara.
Seera yang sudah tersulut emosi dan tidak menyukai perdebatan itu pun memilih membereskan barang-barang nya, Ia pun terlihat berlalu pergi meninggalkan Nara. Nara mengejarnya, lalu meraih lengan milik Seera dan menariknya. Nara benar-benar begitu bersikap kasar, mata Seera menatap tajam dan mata Nara tak kalah tajam nya.
Seera mencoba melepaskan cengkraman tangan Nara yang terasa begitu sakit, “Aku akan mengadukan kamu pada Pak Bani!” tegas Seera yang juga berhasil melepaskan cengkraman Nara. Seera melanjutkan langkah kakinya itu, namun Nara tidak menyerah, Ia tidak mau jika Seera mengadukan dirinya pada Kakak Ipar yang mungkin sangat Ia takuti.
Ya, Albani Irawan salah satu orang yang sangat Nara takuti. Semua karena Bani yang tidak pernah memarahi. Kalau begitu mengapa takut?
Jawaban nya karena hanya Bani yang membuat Nara nyaman, dan jika terjadi sebuah perdebatan di antara Nara dan Daddy nya. Hanya Bani lah yang selalu membela dan membuat Daddy nya mengalah, Bani menjadi sahabat nya semenjak kematian Ibunya. Dan semenjak itupula, kehidupan Nara yang hancur mula di perbaiki oleh sosok Kakak Iparnya.
“Seera!” panggil Nara, “Baiklah aku akan menuruti mu!” sambung nya seraya sedikit memohon kepada Seera.
“Seera, Please hentikan langkah kaki mu.” Pinta Nara yang melihat Seera sudah memasuki lorong dimana ruangan Bani berada.
Seera enggan mendengar, dan Nara memutuskan untuk menyabotase langkah kaki dari Seera.
“Stop Please!” lirih Nara meminta, baru kali ini Nara terlihat memohon pada sosok gadis yang mungkin baru saja Ia kenal. Nara menatap wajah Seera yang terlihat masih menekan emosinya, “Oke, Gw minta maaf.”
“Gak!”
“Ya Tuhan keras kepala sekali gadis house keeping ini.” Lirih Nara mengeluh sembari memegang kepalanya, Nara terlihat menatapnya kembali.
“Apa yang harus gw lakuin supaya Loe mau maafin Gw hmm? Tanya Nara kepadanya.
‘Oke, baiklah. Satu, gak perlu gw Loe! Karena gak sopan. Kedua, ada jadwal untuk belajar dan setiap kelas yang sudah di jadwalkan harus kamu datangi. Dan yang terakhir, setiap sesi belajar. Aku akan memberi mu tugas untuk kamu kerjakan di rumah. Dan esok saat bertemu, kamu harus setor tugas kamu sama aku.”
“Setuju? Ya lanjut, tidak setuju? Abaikan saja.” Lanjut Seera sembari menatap lekat wajah Nara.
Teringat sebuah nasihat yang sempat di berikan oleh Bani kepadanya, Ia harus bisa membuktikan bahwa dirinya masih mampu menjadi sarjana sesuai keinginan Daddy nya. Ia pun dengan sangat yakin tidak mampu mencari pekerjaan untuk gaya hidupnya saat ini, dan Bani mengatakan bahwa Nara harus membuktikan bahwa Nara adalah anak yang tangguh dan memiliki daya pikir yang dewasa.
“Gimana?” Tanya Seera kembali.
“Oke, Deal.” Nara meraih tangan Seera dan menjabat tangan Seera sebagai tanda setuju akan apa yang Seera ajukan.
“Target kita nilai kamu ujian saat ini adalah B atau B+. kalau sampai A, bahkan A+ itu akan sangat bagus.” Ucap Seera menyusul.
“Baiklah. Jadi sekarang Loe mau ajari gw lagi?” Tanya Nara.
“Loe?”
“Ups Sorry, maksud nya.. kamu mau ajari aku saat ini?” Tanya Nara.
Sebuah dering Ponsel membuat mereka terganggu, Seera pun meraih ponselnya.
“Iya Bi Mina?”
“Seera, Ibu mu tidak ada di rumah.” Ucap Mina yang juga orang yang selalu membantu Seera dalam mengerjakan tugas rumah nya.
“Loh mama emangnya kemana?” Tanya Seera sembari melangkah menjauh dari sosok Nara.
“Tidak tau, bisakah kamu pulang sekarang?” Tanya Mina.
Seera yang begitu mengkhawatirkan Ibunya pun memilih untuk mengiyakan permintaan Mina, Ia menutup panggilan Mina dan Ia tahu betul kemana Ibunya pergi. Seera melirik kearah Nara, “Besok kita mulai belajar, ada hal penting yang harus aku selesaikan. Bye.” Ucap Seera sembari berlari meninggalkan Nara.
Nara menggelengkan kepalanya, “Wanita Aneh, untung saja kau mengajari ku melalui Kak Bani. Jika melalui Daddy atau Kak Naya sudah pasti aku akan mencekik mu!” Gumam Nara yang masih saja merasa kesal dengan tingkah Seera yang begitu keras kepala melebihi mak-mak yang memesan paket.
Hehe…
Di tempat berbeda, seorang pengusaha terkaya di Indonesia yang juga memiliki beberapa anak perusahaan di Eropa pun terlihat duduk dengan menyilangkan kakinya.
“Bagaimana Proyek pembangunan Menara Samudera untuk perusahaan Nara nanti?” Tanya nya pada salah satu orang kepercayaan nya.
“Masih dalam pembangunan Tuan Him, semua sangat bekerja dengan baik. Namun, Pembangunan Menara Samudera Residence lah yang mengalami beberapa kendala. Hanya saja, kami dapat melewati seluruh kendala itu. Dan untuk saat ini aman Tuan Him.” Sahut Arnold, orang kepercayaan Himawan Wijaya.
“Saya ingin saat Nara berulang tahun ke 22 tahun semua selesai, Perusahaan menara Samudera akan saya jadikan sebagai hadiah untuk nya dan sebagai tantangan nya perusahaan itu serta Apartemen yang saya bangun harus bisa Ia kelola dengan baik. Dan Itu akan menjadi salah satu Modal untuk Nara membuktikan bahwa dia memiliki kecerdasan dalam berbisnis seperti Saya.”
Karen, Ibu tiri Nara memutar rotasi bola matanya malas. Apa yang di lakukan oleh Himawan membuat tubuhnya gerah karena merasa kepanasan.
“Honey, jangan terlalu memanjakan Nara. Dia sosok anak yang keras kepala, dan kamu harus bisa membuat nya sedikit lemah.”
“Maksud mu? Apa yang aku miliki akan menjadi milik Nara ataupun Naya. Jika mereka lemah, mereka bukanlah anak ku!”
pekiknya, “Ingat Karen, aku menikahi mu tidak untuk membuat masalah dengan anak ku. Cobalah dekati dia, siapa tahu kalian bisa menjadi dua orang sahabat.” Lanjut Himawan, Karen terdiam, menurut nya tidak ada kalimat lagi yang akan membuatnya terdiam. Dan lebih baik Karen lah yang mengalah.
Ya, Himawan saat ini benar. Akan tetapi jika berbicara langsung dengan Nara, Ia akan menjadi serigala yang sedang mengaum dan membuat Nara merasa jika Daddy nya ini adalah musuhnya.
“Oh Ya Arnold, tolong satu lagi. Tolong temui Faysal, dan tanyakan mengenai perkembangan Hotel Samudera Wijaya. Aku mau laporan mengenai semuanya yang menyangkut Hotel Ibu ku ada di meja ku esok pagi.” Ucap Himawan, Arnold menganggukkan kepalanya. Himawan pun meminta Arnold untuk keluar dari ruangan nya, Ia melirik kan matanya kearah Karen. Ia meminta Karen untuk duduk di pangkuan nya, Karen model cantik Asuhan mendiang Istrinya kini menjadi Istri satu-satunya dan pernikahan mereka sudah terjalin selama 10 tahun lamanya.