LELAKI MESYUM INI?

1261 Words
Seera berjalan menemui sosok Pak Adul, Senyuman Pak Adul terlihat dari jauh dan saat Seera melangkah lebih dekat, terlihat Pak Adul membuka pintu belakang kemudi. "Seera mau duduk di samping Bapak saja." Kata Seera yang ingin duduk di samping Pak Adul. "Tidak Usah di depan, Seatbelt nya macet. Di belakang saja." Ujar Pak Adul dengan sedikit memaksa, Seera memiringkan wajahnya, lalu terlihat berpikir. 'Ya, Tuhan nanti mereka akan menyangka bahwa diriku adalah anak orang kaya. Aku tidak mau.' Lirihnya membatin. "Ayo Seera, kamu sudah terlambat." Ajak Pak Adul yang masih berdiri memegang pintu mobil tersebut. Fyuuhhhh. Seera membuang nafasnya kasar, "Baiklah, tetapi tidak di masukan kedalam Lobby kampus ya." Pinta Seera, Pak Adul mengangguk namun tidak dengan kenyataan nya. Ia akan membawa Seera hingga menuju Lobby kampus dan semua ide Gila ini adalah Ide dari Starla sahabatnya, Ia semakin senang saat melihat Seera bahagia, apalagi Universitas Samudera Wijaya terkenal sangat bergengsi. Seera pun masuk kedalam mobil, dan Pak Adul terlihat menyusul untuk masuk setelah memastikan Seera duduk dengan nyaman. Pak Adul berucap, "Baiklah Nona Seera, Kita berangkat sekarang ya. Pastikan bahwa Nona duduk dengan sangat baik, saya tidak mau Nona lecet sedikitpun." Kalimat itu mengundang gelak tawa dari bibir Seera, "Pak Adul kok Lucu sih. Baiklah, Seera sangat nyaman, tetapi lebih nyaman lagi jikalau Seera duduk di samping Ayah Seera sendiri." Balasnya, Pak Adul memang sangat menyayangi Seera juga menyayangi Starla. Dan Jika saja maut tidak memisahkan Pak Adul dan anaknya, mungkin usia anaknya tidak jauh berbeda dengan Usia Seera. Pak Adul mulai menginjak Pedal Gas pada kendaraan tersebut, selama perjalanan, Seera tak henti berbincang dengan Pak Adul. bahkan, Pak Adul di buat heran oleh kelakuan Seera. Tak sedikit pun semangatnya berkurang, bahkan semangat Seera dalam menimba ilmu mendapatkan 4 jempol sekaligus. Sampailah mereka tepat di depan pintu gerbang Utama Universitas Samudera Wijaya, Seera terdengar meminta Pak Adul untuk berhenti. namun Pak Adul terlihat tidak mendengar permintaan yang di ucapkan oleh Seera sendiri, "Pak, Please. Sudahlah jangan masuk ke area Lobby." "Sudah Nak, Bapak tidak mau kamu capek." Ucapnya, "Apalagi sedari pagi kamu sudah bekerja, anggap saja ini sebuah bukti dukungan bapak untuk mu.' Sambung Pak Adul. Seera menghela nafasnya kembali, " Ya sudahlah." Hanya itu yang dapat Seera katakan. Sampailah Seera di depan Lobby kampus tersebut, Pak Adul pun keluar lalu membukakan pintu untuk Seera. "Silahkan Nona, semoga hari mu sangat baik." "Pak Adul, ngapain begini. Duh, lihat mereka melihat dan memperhatikan Seera kan." Keluhnya sembari setengah berbisik, Pak Adul tersenyum. "Tidak apa-apa, Nanti hal ini terwujud oleh Seera. Pak Adul tunggu kesuksesan Seera." Ucap Pak Adul membalas. "Terima kasih Pak Adul." Pak Adul mengangguk pelan, Ia kembali masuk ke dalam kendaraan itu dan berlalu pergi. Saat Seera membalikkan tubuhnya, Ia terkejut dengan kehadiran Elvan. "Halo Nona gadis Limusin." Sapa Elvan, Seera terdiam. "Nama ku Seera Aulia Yasemin, bisakah memanggilku Seera saja?" Tanya Seera dengan wajah yang ketus. Elvan tersenyum, "Yes! aku tahu nama mu Seera, bukankah kemarin Aku memanggil mu dengan nama Seera?" Tanya Elvan kepada Seera dengan salah satu alis terangkat. Seera memaksakan senyuman, "Mm, Baiklah Tuan Elvan. bisakah kamu tidak menghalangi langkah kaki ku?" Tanya Seera kembali. "Ups, Sorry. Silahkan." Tanpa berbasa-basi, Seera pun melewati dimana tubuh Elvan berdiri dan Elvan terlihat mengikuti langkah kaki Seera. Seera tahu jika Elvan sedang mengikuti dirinya dan Seera segera menghentikan langkah kakinya kembali, Ia membalikkan tubuhnya dan Elvan terkejut saat melihat wajah Seera tidak jauh dengan wajah dirinya. Karena sedari tadi, Elvan berjalan dengan sedikit menundukkan pandangan nya. Seera menatap nya, Ia pun terlihat menarik nafasnya dengan kasar. lalu, "Apa kamu mau berjalan lebih dulu? silahkan." Titah Seera. "Mm, Tidak. Aku mau mengajak mu ke kantin untuk sekedar berbincang dan meminum kopi dengan santai." Ujar Elvan, Seera menggelengkan kepalanya. Ia mengatupkan kedua tangan nya itu, "Maaf aku tidak memiliki waktu untuk bersantai. selamat tinggal." Seera pun kembali melanjutkan langkah kakinya untuk menuju Ruangan Pribadi Bani, Dan Elvan terlihat menaikkan kedua bahunya lalu terlihat senyuman seringai di wajahnya. Sepertinya Elvan menyukai gadis Limusin ini, Oh Tentu saja, dia sangat berbeda dengan gadis-gadis yang berada di kampus itu. Dan di tempat berbeda, Nara baru saja sampai. Seorang gadis dengan gaya sensualnya terlihat mencegah langkah kakinya, "Nara, Bisakah kita berbincang sebentar?" Tanya gadis itu, Nara mengerutkan dahinya. kedua alisnya bertaut kecil, "Malam itu membuat aku tidak bisa melupakan mu! dan Aku mau lebih dekat dengan mu." Ucap Amora gadis peranakan belanda yang sempat tidak sengaja mendapat kecupan maut dari Nara yang sedang mabuk. Namun sayang, Nara sama sekali tidak mengingat gadis itu. "Omong kosong apa ini? Siapa kamu? Aku sama sekali tidak mengenal mu!" Tukas Nara dan terlihat melewati tubuh dimana gadis itu berdiri, Amora tidak tinggal diam, Ia mengejar langkah Nara dengan langkah kecilnya. "Nara, Please. beri aku kesempatan." Pinta Amora dengan mata yang mulai mengembun, Nara melirik sedikit kearahnya. Ia menggeleng kecil, lalu terlihat memberikan sebuah sorot mata risih akibat apa yang Amora katakan. 'Nara.... ' Lirih Amora memanggil, 'Aku mencintaimu.' sambung Amora tanpa rasa malu. Nara tetap berjalan tanpa menghiraukan sosok Amora, Ia pun berhasil menemukan Elvan yang duduk dengan ponsel yang sedang Ia mainkan di tangan nya. "Van, semalam Loe kemana?" Tanya Nara. Elvan tetap fokus dengan permainan yang berada di dalam ponselnya, Nara yang tidak mendapatkan jawaban pun terlihat merampas ponsel milik Elvan. "Ah Nar, berikan ponsel Gw!" "Enggak ada! Loe semalam kemana Hmm? Gw butuh Loe, Loe malah gak ada." Protes Nara sembari tetap menggenggam ponsel sahabat kecilnya itu. "Gw ketemu Nyokap, kebetulan Nyokap lagi ke Jakarta. Kenapa? Loe berantem lagi sama Tuan Himawan?" Tanya Elvan sembari berhasil merampas kembali ponsel miliknya... Nara mencebikkan bibirnya, "Bukan hal yang aneh kalau ada perdebatan di dalam rumah Gw, makin gak betah aja, apalagi Karen ada di rumah bareng Bokap sama Kak Nay." "Hah? Bini Bokap Lo ikut pulang?" Nara mengangguk pelan, "Ya udah, Gw mau ke ruangan Kak Bani dulu." "Eh ngapain Nar?" Tanya Elvan, "Gw ikut boleh gak?" sambung Elvan bertanya. "Gak Perlu. Ada hal penting, Loe tunggu gw di kelas ya. Bentar aja kok." Elvan menganggukkan kepalanya. Nara berjalan menuju ruangan Kakak Iparnya, dan sesampainya di sana Nara segera mengetuk pintu ruangan kakaknya itu dari luar. Ia sedikit membuka pintu ruangan Bani, “Masuklah Nara.” Nara masuk dan di sana Ia melihat seseorang gadis duduk membelakanginya, Nara sudah tahu bahwa akan ada seorang mahasiswi yang mendapatkan Nilai statistika tertinggi yang akan menjadi seorang guru dalam membimbingnya belajar. “Nara, Ini Seera. Teman yang akan memberikan bimbingan belajar untuk mu.” Ucap Bani, Seera pun menoleh kearah Nara dan Nara melihat bahwa orang yang bertugas untuk membimbingnya adalah gadis yang sudah dua kali terlibat pertengkaran dengan nya, “Loe?” Tanya Nara dan Seera juga terkejut saat melihat sosok mahasiswa yang akan mendapatkan bimbingan belajar darinya. “Kalian sudah saling mengenal?” Tanya Bani, mereka saling menatap satu sama lain. Nara menatap dengan di selipi seringai senyuman nya, namun Seera menatap dengan penuh kebencian. Namun apalah daya, Pak Bani yang sangat Ia hormati sudah meminta dengan sangat untuk membuat Nilai Nara lebih baik dan Seera sudah terlanjur menyetujui permintaan Pak Bani. “Ya Tuhan matilah aku, ternyata lelaki m***m ini adalah adik dari Pak Bani. Bagaimana caranya aku menolaknya.” Gumam Seera di dalam hatinya. Dan Nara pun bergumam, “Ternyata gadis ini salah satu mahasiswa terbaik kampus ini, cukup membuatku tertegun dengan apa yang baru saja aku ketahui. Baiklah gadis, kau membuat ku kesal sore itu, lalu tadi pagi kau pun sudah membuat ku suka bermain-main dengan mu. Kita lihat saja, apakah kamu mampu membuat nilai ku naik, aku akan membuat tantangan besar untuk mu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD