Keesokan harinya, Seperti biasa Seera akan melakukan aktifitas paginya. Ia bangun, mandi lalu membuat sarapan untuk Ibunya. Namun saat Seera melihat Ibunya yang masih tertidur, Seera pun melanjutkan sesi sarapan paginya seorang diri. Sebuah pesan teks masuk memenuhi Bar notifikasi miliknya, “Nomor siapa ini?” Tanya Seera seorang diri, tanpa menunggu lama Seera terlihat membuka pesan tersebut.
“Seera, saat kau sampai di dalam kampus. Tolong segera datang menemui saya di dalam ruangan pribadi saya, saya tunggu. Bani.” Seera terdiam, Ia sedikit menundukkan kepalanya lalu terlihat sedikit berpikir.
“Haah, apa Pak Bani akan mempertemukan mahasiswa itu? Siapa ya dia? Semoga saja baik seperti Angelin yang memiliki keinginan tinggi untuk mencapai nilai yang baik. Dan kabarnya dia sekarang ikut ujian statistika dengan sangat mudah.” Ucap Seera dengan senyuman tipis di wajahnya, Ia kembali menyantap sarapan nya itu. Seperti biasa, hanya nasi goreng tanpa telur kesukaan Seera dan walaupun hanya nasi goreng biasa, tetapi semangat Seera akan tercharger jika memakan nasi goreng alakadar buatan nya.
Setelah Ia rasa selesai, Ia pun segera bangkit dari kursi meja makan tersebut. Ia meraih tas gandong miliknya dan berjalan menuju kamar Ibunya kembali, “Seera pergi dulu ya Mah.” Ucap Seera sembari meraih tangan lemas Ibunya, Ia tidak lupa mengecup kening Ibunya. Cairan Alkohol yang sudah di minum oleh Ibunya pun tercium oleh hidung mancung Seera, “Ya Tuhan, sampai kapan ini?” batin nya sedih, Ia menghela nafas kasarnya dan setelah itu Ia terlihat mencoba untuk tidak memikirkan hal itu.
Seera keluar dari rumah sederhana nya itu, Ia tidak lupa mengunci kembali rumah nya lalu seperti biasa Ia akan melempar kunci rumahnya itu melalui jendela atas kamar Ibunya.
“Seera..” panggil Seseorang dari arah belakang, Seera yang sedang berusaha menaiki kursi kecil itu menoleh kearahnya. Aldi si pengusaha kecil buah segar itu memanggilnya, Seera berjalan menghampiri nya.
“Hai Aldi.” Sapa Seera.
“Hai, mau kuliah ya?” Tanya Aldi, Seera menggelengkan kepalanya.
“Tidak.” Jawab Seera singkat.
Jantung Aldi begitu berdetak lebih cepat jika melihat senyuman Seera, “Mau Aldi antar gak?” Tanya Aldi menyusul, Ia sengaja melewati rumah Seera dan berharap saat Ia melewatinya Seera keluar dari rumah miliknya. Seera kembali menggelengkan kepalanya, “Kok tidak mau Seer?” Tanya Aldi kembali.
“Kebetulan, Aku lebih senang memakai Bus. Kalau pakai motor, aku gak bisa menikmati kemacetan Ibu kota.” Sahutnya konyol, jika mendengar alasan yang di berikan Seera sudah pasti setiap orang menganggap aneh dengan jawaban nya. Namun itulah Seera, Ia selalu tidak menyukai sosok lelaki yang selalu meniliki wajah dan perawakan nya. Menurutnya sangat tidak sopan, namun Seera tidak mau menyinggung perasaan lelaki tersebut.
“Dah Aldi, Seera sudah telat. Jangan lupa segera buka toko buahnya. Siapa tahu hari ini hari keberuntungan Aldi.” Ujarnya sembari berjalan meninggalkan sosok Aldi, Aldi hanya menatap nya dengan senyuman yang terlihat begitu terpaksa.
‘Ya Tuhan, ijinkanlah Seera menjadi jodohku. Aku bisa mati jika dia di miliki orang lain.’ Pekik Aldi seorang diri.
Beberapa jam pun berlalu, Seera yang masih berada di dalam hotel terlihat sedang berjalan untuk membersihkan kamar terakhirnya.
“Seera bisakah mengganti tugas ku sebentar? Biar kamar terakhir mu aku bersihkan setelah aku beres dari Toilet?” Tanya Lala, Seera tersenyum dan mengangguk tanda Ia setuju. Setelah Itu, Seera pun berjalan menuju kamar VVIP 13 milik Nara. Seharusnya kamar itu Lala lah yang membersihkan namun, Seera menggantikan nya.
“Housekeeping.” Ucap Seera dengan kalimat yang lantang.
Nara yang berjalan dari dalam pun segera membuka pintunya, lagi dan lagi Nara membuka pintu dengan hanya memakai pakaian dalam dan kemeja yang terbuka seluruh kancingnya dan hal itu membuat Seera menutup mata.
“Maaf Tuan, saya mau membersihkan kamar.” Ucap Seera sembari menutup seluruh wajahnya.
Nara yang tidak menyadari bahwa itu Seera pun terlihat melengos meninggalkan Seera yang terdiam di depan pintu, dengan santainya Nara masuk kembali dan merebahkan diri kembali di atas tempat tidur.
“Tuan..” panggil Seera.
‘Ck. Apasih ini orang kaya. Kelakuan nya sangat menjengkelkan.’ Keluh Seera dengan mata yang terlihat mendelik kesal, Ia membatin sebal saat mendengar sosok Tuan di dalam tidak menyahuti dirinya.
“Tuan..” panggil Seera kembali.
“Masuklah, bersihkan saja kamar mandi dan ruang tengah kamar ini.” Teriaknya dari dalam, Seera yang terkejut saat mendengar sebuah bentakan dari penyewa hotel itu pun terlihat bergegas masuk dengan langkah yang sangat pelan. Ia tetap menutup matanya sedikit lalu masuk kedalam kamar mandi utama yang berada di dalam kamar tersebut.
Sembari menggosok kamar mandi tersebut, Ia mengoceh tiada henti. Ia begitu mengeluh kebiasaan para orang kaya jika menyewa hotel dimana Ia bekerja, ‘ya begitulah kalau mereka menyewa, seenak saja mengotori. Lalu membuka pintu dengan setengah telanjang, mata ku akan berdosa saat melihat itu. Ya Tuhan, buatlah aku yang memiliki hotel ini. Aku akan menjadi kaya namun tidak seperti orany kaya yang angkuh.’ Gerutunya tanpa lelah.
Nara yang dengan gampangnya melupakan sosok Housekeeping itu pun segera memasuki kamar mandi, kebetulan ada pembatas diantara toilet dengan bathtub juga Shower dimana berada. Nara terlihat berjalan menuju dimana Shower itu berada, Ia membuka seluruh pakaian nya dan terlihat berdiri di bawah guyuran Shower. Tanpa di duga, Seera yang baru saja selesai menggosok toilet itu keluar dan melihat sosok lelaki dengan tubuh Atletis mandi dalam keadaan telanjang. Nara menyadari kehadiran Seera.
Dan.. “Ahhhhkkkk…” teriak mereka secara bersama-sama.
Seera segera keluar dengan cepat dan tubuhnya terlihat gemetar menahan takut yang sangat amat dalam, lalu Nara? Nara terlihat menyelesaikan ritual mandinya. Ia meraih handuk agar dapat menutupi area Vitalnya lalu keluar dan melihat Seera dalam keadaan gemetar juga mata yang tertutup oleh kedua tangan nya.
“Ya Tuhan, aku tidak sengaja.. Ampuni aku…” Ujar Seera dengan komat-kamit khasnya.
Nara menepuk bahunya, dan hal itu sontak membuat Seera kembali terkejut. Seera berteriak kembali, “Maafkan Tuan, maafkan.” Ucap Seera sembari mengatupkan kedua tangan nya dan matanya masih dalam keadaan tertutup.
Nara yang menyadari bahwa dia adalah sosok gadis yang pada sore itu berdebat dengan nya pun memiliki rencana lain, Ia ingin membuat Seera takut. Dan sepertinya hal itu berhasil, “Kau akan aku hukum, Kau sudah melihat ku telanjang. Kali ini, aku yang akan melihat mu membuka pakaian mu.” Ucap Nara dengan begitu lantang.
Seera tak hentinya menggelengkan kepalanya, “Ampun Tuan, jangan. Saya masih Virgin. Lebih baik saya di pecat, adukan saja saya.” Balas Seera dengan mata yang masih tertutup.
“Waw, Virgin? Aku suka itu.” Seera semakin merasa ketakutan, Apalagi saat tadi membersihkan kamar mandi Seera tidak sengaja mendapati sebuah alat pengaman yang masih utuh tersimpan di atas toilet di dalam kamar mandi itu. Dan Seera beranggapan bahwa Tuan kamar VVIP 13 ini marah, karena sosok wanita bayaran nya tidak datang.
Batin nya bergumam, ‘Ya Tuhan, hancurlah aku. Ma, selamatkan Seera. Seera tidak mau menjadi santapan harimau lapar.’
“Ayo buka mata mu.” Perintah Nara kala itu, Seera tetap menutup mata nya rapat-rapat. Ia takut jika saat nanti Ia membuka matanya, sosok pria itu kembali menunjukkan tubuh telanjangnya.
“Tidak mau Tuan..” lirih Seera menolak.
“Buka mata mu, atau jika tidak. Aku akan memaksa mu.” Ancaman nya membuat Seera semakin takut, dan perlahan Seera pun membuka matanya itu.
Namun saat membuka matanya, Ia mengingat betul sosok pria yang melakukan perdebatan dengan nya. Ia terkejut, matanya membelalak.
“Kau masih ingat aku kan?” Tanya Nara dengan seringai di wajahnya, Seera menatap tajam Pria itu. Menurutnya Pria yang kemarin ia temui adalah Pria yang sangat keras kepala yang baru saja Ia temui di muka bumi ini, Nara memiringkan wajahnya, Ia melihat Seera dari atas kepala hingga ujung kaki miliknya.
Bibir Seera mengerucut, Ia terlihat mengepalkan tangan nya.
“Oh, rupanya gadis menyebalkan ini bekerja di sebuah hotel yang aku sewa?” pekik Nara kembali, Seera mendengus kesal.
“Aku tidak mau lagi membersihkan kamar mu, jorok dan sangat menyebalkan.” Gerundel nya sembari pergi meninggalkan Nara, Nara tersenyum saat melihat tingkah laku gadis bernama Seera itu.
Nara menggeleng kecil, “Dasar wanita menyebalkan, ku harap aku tidka bertemu lagi dengan nya.” Nara melanjutkan aktifitas mandinya itu, sedangkan Seera berjalan dengan tatapan yang begitu kesal.
“Uh, menyebalkan sekali. Sudah dua hari ini Aku di buat kesal oleh orang-orang kaya macam mereka.” Gerutu nya kembali, lala menghampiri nya.
“Kau kenapa Seera?” Tanya Lala.
Seera enggan menjawab, Ia menyimpan peralatan nya itu. Lalu masuk menuju ruang ganti, Ia berdiri di depan kaca yang terdapat Wastafel di bawahnya. Lalu menatap lekat wajah takutnya, “Sepertinya ini jam kerja terakhir ku Lala.”
“Lah kenapa?” Tanya Lala penasaran.
Seera menarik nafasnya, lalu membuang nya dengan perlahan.
“Ya Tuhan, aku sudah pasti di pecat Pak Faysal ini.” Keluh Seera kembali.
Lala menepuk bahunya pelan, “Apa kau melakukan kesalahan kembali?” Tanya Lala, menurut Seera sendiri hal yang Ia lalui tadi bukan lah kesalahan nya dan Seera terlihat menggelengkan kepalanya.
‘Ah, entahlah. Orang kaya pasti akan memanipulasi semuanya, dan aku pasrah.”
Lala begitu kesal dengan sahabat nya itu, Ia menarik tubuh Seera. Lalu sedikit membentaknya, “Sedari tadi kamu mengatakan, aku pasti akan di pecat, ah sudahlah ini hari terakhir kerja. Apa sih gak jelas banget!”
Seera pun menceritakan hal itu kembali, Lala yang tidak memiliki sikap seperti Seera sangat menyayangkan karena Seera bersikap takut saat melihat tubuh telanjang lelaki berparas tampan itu.
“Ya Tuhan, jika saja tadi perut ku tidak sakit. Aku lah yang akan mendapatkan bonus itu.”
Plak. Seera memukul keras keningnya.
“Seera, Ya Tuhan. Tidak sopan sekali orang ini…” celetuk Lala.
“Starla yang cantik, sudahi cerita ini. Aku muak mendengarnya. Kejadian yang sangat memalukan, menyebalkan pula.” Pekik Seera, Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu ruang ganti milik Seera dan Lala. Seera yang sudah berganti pakaian pun segera menghampiri seseorang itu, “Pak Adul, Ya Tuhan aku kira Pak Fay.”
“Kenapa sih kamu Seera? Kamu sudah terlambat menuju kampus.” Ucap salah satu supir hotel, “berangkatlah dengan ku, kebetulan arah ku melewati kampus mu.” Ajaknya.
Seera menggelengkan kepalanya, kejadian kemarin saat Ia memakai limusin saja begitu membuatnya takut akan orang-orang membicarakan dirinya dan kali ini Pak Adul berniat untuk menjemput Seera dan membawanya menuju kampus dengan mobil mewah Hotel.
“Tidak Pak, Seera pakai Bis saja.” Tolaknya dengan lembut.
‘Tidak, kau aku tunggu di depan. Aku tidak akan pergi jika kau tidak pergi dengan ku.” Seera pasrah, Pak Adul memang sudah menganggap Seera seperti anaknya sendiri. Ia begitu sangat menyayangi Seera, tak hanya Pak Adul. Manager Seera pun sangat menyayangi Seera, koki di dalam hotel pun tak kalah menyayanginya. Dan saat melihat Seera pergi, Koki itu berlari.
“Seera, ini makan siang untuk mu. Tidak usah beli, ingat uang mu tabung saja.” Kata Pak Mike, Kepala koki di dalam hotel tersebut. Dengan senang hati Seera menerimanya, “Terimakasi Pak Mike.” Jawab Seera.
“Iya Sayang, pergilah belajar lebih giat. Semoga Aku masih memiliki umur panjang untuk melihat kesuksesan mu.” Jawab Pak Mike, Seera tersenyum dan segera menghampiri Pak Adul yang sedang menunggu dirinya.