Kisah masing-masing

1543 Words
Sesampainya di sebuah rumah yang begitu sangat sederhana, Seorang wanita terlihat menyambut kedatangan Seera. Wanita itu adalah Yasemin, wanita cantik yang terlihat begitu memiliki senyuman yang sangat indah. Yasemin menyambut kedatangan anak gadis yang sangat menyayanginya, “Kamu Sudah pulang Seera?” Tanya Yasemin dengan raut wajah yang terlihat berbinar namun sedikit muram. “Ya Mam, kebetulan hari ini Seera Cuma sebentar masuk kelas.” Sahut Seera, Seera menatap mata Ibunya yang terlihat sisa air mata yang sudah hampir mengering. “Mama pasti sudah menangisi lagi kakak?” Tanya Seera sembari membuka salah satu sepatu yang masih melekat membungkus kakinya, Yasemin sang Ibu terlihat menundukkan kepalanya. Selama 8 tahun ini, Yasemin hidup di dalam bayang-bayang duka masa lalu. Ia harus kehilangan sosok anak sulungnya akibat perpisahan yang di sengaja oleh Yasemin dengan Ayah kandung Seera sendiri. Kehidupan mereka yang semula baik-baik saja harus hancur dan berantakan akibat ulah Ayah dari Seera, Ayah Seera sendiri yang dulunya bertempat tinggal Di Amerika harus tersandung kasus besar dan membuatnya menjadi seseorang yang terdaftar dalam pencarian orang. Yasemin harus kembali bersama dengan kedua anaknya yang lebih dulu tinggal di Indonesia dengan segala harta yang habis hingga tak tersisa satu pun. Ia harus berjuang untuk melindungi anak-anaknya. Namun sayang, anak sulungnya yang sudah terlebih dulu merasa frustasi dengan keadaan ayah dan Ibunya pun memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menjatuhkan diri dari lantai tiga rumah lamanya. Dan hal itu membuat Yasemin maupun Seera memiliki rasa trauma, namun beruntunglah Seera anak yang kuat itupun berusaha bangkit dari keterpurukan. Ia rela bekerja sedari usia 12 tahun untuk memenuhi kebutuhan Ibunya, saat itu Seera membantu seseorang membersihkan bahkan terkadang mencuci pakaian demi memiliki uang untuk sekedar membeli makan dan uang sewa rumahnya. Dan Seera selalu belajar dengan giat agar Ia dapat memiliki kesempatan bersekolah, tanpa ibunya Duga anak gadisnya begitu mampu menjalankan kehidupan yang sangat pahit ini. Seera yang malang, Seera yang sangat kuat dimata orang-orang sekitarnya, dan orang-orang sangat bangga dengan keberhasilan Seera melalui ini semua. Seera menarik tangan Ibunya, “Seera tidak ingin mama selalu memikirkan masa lalu kita, Seera ada disini Mam. Seera akan berjuang untuk bisa kembali membawa Mama ke tempat yang mama inginkan. Seera akan mengajak mama berkeliling dunia, tidur di hotel mewah bahkan Seera akan membawa mama ke ujung dunia. Seera mampu mam, yakinlah.” Air mata Ibunya menetes mendengar kalimat yang baru saja diungkapkan oleh Seera, “Hanya Mama yang Seera miliki, Seera mohon berjuanglah untuk melupakan itu semua.” Sambung Seera sembari memeluk erat tubuh Ibunya. “Maafkan mama Seera, masa lalu yang begitu pahit selalu menghantui mama.” Balas Ibunya dengan air mata yang sudah mengalir dengan deras, Seera menyeka air matanya itu. “Tersenyumlah, Seera membawakan Mama jeruk. Bukankah kemarin Mama ingin Seera membawakan nya?” Tanya Seera yang dengan cepat menunjukkan sisi kuatnya. Yasemin mengangguk ragu, Ia memaksakan sebuah senyuman untuk anak gadisnya itu. Ia berjalan kearah dapur seraya ingin membawakan nampan kosong untuk Ia menyimpan jeruk-jeruk itu, Seera tak sengaja melihat sebuah botol minuman beralkohol yang tersimpan di bawah lemari dimana Ibunya menyimpan tabung Gas. Ia menarik nafasnya kasar, lalu membuangnya dengan perlahan. Ia tahu jika selama Ia tidak berada di rumah, Ibunya akan meneguk sedikit demi sedikit minuman beralkohol itu dan Seera tidak mampu untuk mencegahnya. Ia menutup rapat kembali pintu lemari itu, “Ya Tuhan, sampai kapan kami hidup di bawah tekanan masa lalu seperti ini. Aku lelah dan aku jengah.” Katanya sedikit mengeluh. “Seera…” panggil Ibunya kembali, Seera memejamkan matanya sejenak. Setelah ia rasa bahwa dirinya sudah lebih tenang, Ia pun segera berlalu menemui Ibunya. “Ya Mam?” sahut Seera sembari berjalan menghampiri dirinya. “Cucian sudah menumpuk, Bi Mina belum juga datang?” Tanya Yasemin pada Seera, Seera menatap nya dengan lekat. Ia memaksakan sebuah senyuman, “Kuku mama sering sekali kepotek Seer. Kamu saja yang mencuci ya?” titahnya kembali. Seera mengangguk, tidak ada lagi jawaban selain sebuah anggukan. Apa yang dulu Ibunya lakukan masih saja tidak bisa ia hilangkan dan Seera mencoba mengerti, tanpa duduk dan beristirahat pun, Seera berlalu pergi menuju kamar mandi. Dan di sana, Ia mulai mencuci pakaian-pakaian kotor yang sudah di kumpulkan oleh ibunya. Seera memang seorang gadis yang tidak pernah banyak mengeluh dengan keadaan nya, walaupun sesekali ia mengeluh tetapi menurutnya itu wajar karena sebuah rasa manusiawi. beberapa jam berlalu, Ia sudah selesai mencuci pakaian kotor dan Ia juga sudah membersihkan area dapur yang sangat kotor. Badan nya begitu tak mengenal lelah, karena biasanya Ia selalu di bantu oleh Mina. Seorang Art yang setia dalam membantunya, namun sayang beberapa hari ini Seera sengaja tidak memanggil Bi Mina dikarenakan uang yang seharusnya Ia berikan kepada Bi Mina akan ia pakai untuk membetulkan Laptop miliknya yang mungkin sudah tidak layak Ia pakai. Dan Ia sengaja tidak mengatakan hal itu pada Bi Mina maupun Ibunya, Ia hanya tidak ingin terlihat susah oleh orang-orang yang Ia sayangi. Ia berjalan melewati kamar ibunya, terlihat sang Ibu yang kini tertidur dengan pulas. Ia berjalan menghampiri Ibunya. Ia menarik selimut yang di pakai oleh Ibunya hingga menutupi bagian leher Ibunya, “Seera menyayangi Mama, Doakan Seera terus ya Mama.” Ucapnya dengan mata yang mengembun, setelah selesai Ia pun segera pergi menuju kamarnya. Ia melihat yang berada di salah satu dinding kamarnya, Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ia yang begitu lelah pun memilih untuk merebahkan diri di atas ranjang kecil miliknya dan berharap esok adalah hari yang lebih baik lagi untuknya. Sementara di dalam Mansion Himawan Wijaya, Nara terlihat sedang berbincang bersama Albani dan Naya yang juga sedang menunggu kedatangan Himawan. Sebenarnya, kemarin Himawan sudah pulang namun di pagi hari sebuah pertemuan mendadak mengharuskan Himawan pergi dengan di dampingi Istri keduanya juga kedua assisten lainnya. Dan sebentar lagi Himawan akan datang, Ia meminta pada Naya untuk menyuruh Nara datang karena ada hal yang sangat ingin Himawan katakan kepada anak keduanya itu. Pintu Utama Mansion itupun terbuka dengan lebar, terlihat Agni seorang kepala Assisten sedang membuka pintu itu dan itu artinya Himawan sudah datang dari kepergiaan nya itu. Bani dan Naya pun berdiri, namun tidak dengan Nara. Himawan yang menyadari hal itu pun menatap wajah anak keduanya dengan penuh kebencian, “Maaf Tuan, apakah ada yang ingin Tuan minum? Kopi atau Teh tanpa Gula?” Tanya Agni dengan sangat sopan . Ia terlihat menggerakan tangan kirinya sebagai tanda jika Agni tidak membutuhkan kopi atau Teh untuk menjamu dirinya, Agni mengangguk sembari membungkukkan sedikit tubuhnya dan berlalu meninggalkan ruang keluarga yang begitu sangat megah. “Darimana saja Kau NataNara Wijaya saat Daddy tidak berada di Indonesia?” Tanya Himawan dengan tegas kepada anaknya, Naya terlihat menatap sang Ayah dan terlihat sedikit mengedipkan matanya. Namun sang Ayah terlihat tidak menggubris gerakan yang di berikan oleh putri sulungnya, Naya hanya ingin jika Ayah nya dengan nada lembut saat berinteraksi dengan anak bungsunya. Lalu Himawan kembali bertanya, “Mau jadi apakah kamu hmm? Apa kamu tidak mau menjadi seperti kakak Ipar mu. Ia sangat berguna sehingga dapat mendapatkan jabatan sebagai orang tertinggi di Universitas Samudera Wijaya?” lanjut Himawan. “Bisakah kamu berhenti dengan Pesta gila mu? Dan kembali menjadi anak yang bisa Daddy andalkan?” Tanya Himawan kembali, mendengar hal tersebut. Rahang Nara menegang, Ia begitu kesal dengan apa yang di katakan oleh sang Ayah dan hal ini menjadi salah satu alasan Nara menjadi anak yang tidak mau di atur. Nara beranjak dari tempat dimana Ia duduk, “Apa Daddy memanggilku hanya untuk membuat ku malu di depan Kak Naya, Kak Bani dan Istri muda Daddy?” Tanya Nara, “Jika memang seperti itu, berhentilah menyuruhku pulang ke rumah megah milik Daddy!” Sambungnya sembari meninggalkan perdebatan ini. Melihat hal itu, Naya sang kakak pun terlihat berlari mengejar Nara. Nara keluar dari dalam Mansion tersebut, Ia hendak masuk kedalam mobil mewahnya itu. “Nara.. Please.. Stop!” rengek kakak perempuan nya, Nara pun terlihat menghentikan dirinya yang akan masuk kedalam mobil miliknya itu. “Ada apa sih Kak? Kakak dengarkan apa yang di katakan oleh Daddy tadi?” Tanya Nara, “Dia boleh menegur ku, tetapi dia tidak berhak untuk menghakimi ku di depan wanita sialan itu.” Sambung Nara, Naya menghela nafasnya yang terlihat begitu sesak. “Please, mengertilah Nara. Daddy hanya kesal karena kamu tidak pernah pulang selagi dia tidak ada, entah siapa yang memberi kabar itu. Aku dan Bani sudah menutupi nya.” Rengek kakak nya kembali. “Aku tidak peduli dengan orang yang mengadukan aku, yang jelas. Aku kesal karena sekelas Tuan Himawan tidak bisa melihat situasi yang baik seperti apa.” Nara pun memilih untuk masuk kedalam mobilnya dan Naya kakak nya tidak mampu menghalangi kepergian nya. Bani pun datang, “Kemana Nara?” Tanya nya. “Entahlah, dia pergi sayang. Dia terlihat sangat kesal dengan apa yang Daddy katakan tadi.” Jawab Naya, melihat kerisauan Istrinya Bani pun terlihat merangkul bahu istrinya lalu mengecup kilas ujung kepalanya. “Ya sudah, cuaca sangat dingin. Kita masuk ya. Besok, biar aku yang berbicara dengan Nara. Dan Nara sudah menyetujui bahwa aku akan memberikan bimbingan belajar untuk nya kan?” Ujar Bani seraya membuat Istrinya lebih tenang, Naya pun menganggukkan kepalanya dan menuruti apa yang suaminya katakan. Bani yang merupakan anak tunggal memang sangat menyayangi sosok Nara, bahkan Ia bukan lagi seorang adik ipar baginya melainkan sudah seperti adik kandungnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD