Nara Seera bertemu

1409 Words
Seesampainya di depan ruangan Albani, Seera terlihat mengetuk pintu ruangan Albani. Tuk.. Tuk.. “Masuk Seera.” Kata Albani, Albani adalah sosok Rektor atau kepala di kampus tersebut. Ia juga kakak Ipar dari Nara, Albani menikah dengan kakak kandung dari Nara yang bernama Naya Nayla Wijaya. Albani yang dulunya sebagai Dosen pun berhasil mendapatkan jabatan sebagai Rektor di dalam universitas Samudera Wijaya milik Ayah mertuanya yaitu Himawan Wijaya, Albani yang terkenal dengan kebaikan hatinya pun menjadi sosok yang banyak di kagumi banyak mahasiswa di dalam nya, Ia terkenal dengan ketegasan namun tetap dengan cara yang begitu lembut. Beberapa mahasiswi maupun mahasiswa pun terkadang merindukkan kelasnya. Seera pun masuk kedalam ruangan Albani, “Siang Pak.” “Siang, silahkan duduk.” Seera pun duduk dengan tas yang ia simpan di bawah kakinya. “Seera, kamu sudah tahu kan bahwa kamu terpilih menjadi mahasiswi Regular dengan nilai tertinggi tahun ini. Dan itu artinya kamu berhak melanjutkan Ujian statistika tingkat lanjut, tetapi beberapa teman mu tidak mampu mengikuti ujian ini. Dan sebagai kepala Rektor kampus, saya sangat meminta dengan mohon kepada mu agar dapat membantu beberapa teman mu.” Seera mengangguk dengan pelan, “Ada dua orang yang memerlukan bantuan mu, ini tidak gratis Seera. Mereka dengan sukarela memberimu sejumlah uang saku, dan beberapa teman mu dahulu pun berhasil saat kamu memberikan sebuah les Private itu. Dan saya berharap kamu mau menerima keduanya.” Seera pun tersenyum, “Bukan perihal uang Pak, tetapi dibalik waktu untuk melanjutkan program studi ini. Seera juga harus membagi waktu dengan bekerja.” Jawab Seera, “Bisakah Seera hanya membimbing satu murid saja?” Tanya Seera kembali. “Jujur Seera tidak ingin mengecewakan bapak, tetapi Seera juga harus bisa membagi waktu Seera.” Sambung nya, “Walaupun ini pun memiliki bayaran, tetapi pekerjaan Seera sudah menjadi kewajiban Seera sebelumnya.” Tambah Seera, Albani pun tersenyum dan Ia memahami apa yang baru saja Seera katakan. “Baiklah, bolehkan saya saja yang memilih?” Tanya Albani, Seera pun menganggukkan kepalanya. “Saya akan menghubungi kamu besok, jika tidak ada hal lain yang ingin kamu bicarakan atau tanyakan, kamu boleh kembali Seera.” Lanjut Albani, Seera pun mengangguk dan segera meninggalkan ruangan Albani. Sembari berjalan, Ia melihat jam yang melingkari tangan nya. Lalu seseorang menyapa nya, “Hai,” Seera melihat ketiga orang wanita di hadapan nya dengan berpakaian yang terlihat begitu modis, dan salah satu diantaranya terlihat menyapa nya. Seera pun membalas, “Hai.” “Alana, ini Angela dan ini Emily.” Ucap Alana. “Aku Seera.” Jawab Seera dengan nada yang begitu ragu, entah merasa minder atau apa. Seera terlihat begitu merasa canggung. “Seera?” Tanya Emily, Emily seakan bertanya nama belakang Seera. Seera terlihat menarik nafasnya, “Nama belakang mu?” Tanya Emily dengan angkuh. “Seera Aulia.” Sahut Seera. “OH.” Emily selalu saja bersikap seperti itu saat melihat sosok Wanita yang terlihat cantik, Ia begitu takut jika wanita itu menyaingi kecantikkan nya. “Baiklah Seera, salam kenal ya dari kami.” Kata Alana dengan raut wajah yang begitu ramah, Emily pun berlalu meninggalkan Seera begitupun dengan Alana dan Angela. Seera menarik nafasnya kembali, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Setelah itu Seera kembali berjalan dan hendak meninggalkan gedung Universitas itu, Ia berjalan untuk menunggu Bus, namun saat di perjalanan menuju halte sebuah mobil mewah berhenti tepat menyisi langkahnya. Langkah Seera terhenti, “Seera.” Panggil Elvan, Seera menilik wajahnya. “Apa Supir mu terlambat menjemput mu?” Tanya Elvan, Seera menggelengkan kepalanya. “Aku menunggu Bus.” Sahut Seera. “Kamu bisa aku antar jika kamu mau.” Dengan Sigap Seera menolak dan memberikan banyak alasan kepada Elvan, “Ayolah Seera, Come on.” Katanya. Dalam hatinya bergumam, “Tahu darimana namaku Seera.” Elvan kembali memaksa, namun Seera menolak dan Elvan terlihat menyerah. Elvan pun berlalu meninggalkan Seera, setelah itu Bus pun berhenti tepat di hadapan Seera. Sebelum pulang, Seera selalu menyempatkan diri untuk membelikkan ibunya satu kotak makanan yang menjadi makanan favorit nya. Dan kali ini, Seera terlihat ingin membelikan Ibunya itu satu kotak martabak keju spesial. Namun saat ia ingin memesan nya, seseorang datang dan terlihat menyalip antrian di hadapan Seera. “Maaf Mas, saya terlebih dahulu mengantri.” Lelaki itu menoleh, lelaki bertubuh Atletis dengan kaca mata yang menutupi matanya. Namun Ia sama sekali tidak mendengar apa yang Seera katakan, Seera yang merasa kesal itupun terlihat menepuk bahunya kasar. “Apa kamu tidak memiliki telinga? Apa kamu tidak mengerti dengan apa yang aku katakan?” Tanya Seera dengan sedikit berteriak. “Ada apa dengan mu?” Tanya lelaki itu, dan lelaki itu adalah Nara. Nara yang juga sedang ingin membeli sebuah cemilan kesukaan kakaknya. Entah mengapa sang kakak yang selalu ingin membeli makanan pinggir jalan yang katanya terkenal dengan keju yang melimpah ruah. Nara menatap tajam kearah Seera, “Aku sudah terlebih dahulu berdiri disini, namun sebuah telpon membuat ku menjauh Dari antrian ini.” Ujar Nara dengan suara yang begitu lantang terdengar. Rahang Seera menegang menahan amarah yang ingin segera Ia luapkan, “Aku melihat antrian ini kosong, dan sudah sepantasnya aku isi.” Kata Seera yang tidak ingin mengalah sama sekali. “Tidak, aku yang terlebih dahulu berada di dalam antrian ini.” Tegas Nara melawan, Seera menatap tajam. Tatapan nya begitu tajam bahkan melebihi tajamnya pisau, begitupun dengan Nara yang tak henti nya mendengus kesal kepada seorang gadis yang menurutnya dengan berani menepuk bahunya kasar. Pertengkaran itupun berlanjut sampai dimana seseorang yang berada di hadapan Nara memberikan tempatnya untuk Seera, “Sudah-sudah, untuk Mbak cantik. Tempati saja antrian ku. Biar aku mengantri kembali di belakang Mas itu.” Seera mendelikkan matanya itu saat menatap Nara, lalu dengan mudah Ia tersenyum pada Pria setengah tua yang memberikan tempatnya itu kepada Seera. “Terimakasih Pak, aku tidak akan lupa dengan wajah bapak. Semoga Bapak mendapatkan keberkahan untuk hidup bapak.” Ucap Seera. “Cewek sakit.” Celetuk Nara, Seera kembali menajamkan matanya itu saat mendengar kalimat yang Nara katakan. Nara pun tak ingin kalah, Ia pun terlihat membalas tatapan tajam yang Seera berikan untuknya, Seera kembali mengantri dan lima belas menit kemudian pesanan yang telah ia pesan pun sudah selesai. Ia melewati Nara yang masih menunggu pesanan tersebut, matanya tetap mendelik saat melihat sosok Nara yang masih berdiri dengan tatapan yang begitu ketus nan tajam. “Gara-gara keinginan Kak Naya nih, kalau enggak di belikan pasti protes dan mengadukan ku pada Papa. Tetapi saat membelikan martabak ini aku harus bertemu wanita sakit seperti dia.” Gerutunya bergumam, seseorang di belakangnya pun terlihat menahan tawanya saat mendengar sebuah kalimat menggerutu yang Nara berikan untuk wanita cantik bernama Seera itu. Sesampainya Seera di dekat rumahnya, seseorang terlihat menyapa dirinya. “Halo Seera.” “Halo Paman Aga.” Balas Seera dengan senyuman tipis di wajahnya. “Halo Seera?” sapa Aldi anak bujang Paman Aga, Aldi memang menyukai sosok Seera. Baginya Seera begitu sangat cantik, bahkan seorang artis papan atas pun kalah dengan kecantikan Seera. “Halo Aldi,” Balas Seera kembali. “Seera mau apel gak?” Tanya Aldi yang terdengar menawarkan Apel dagangan nya itu. Seera menggelengkan kepalanya, “Seera butuh jeruk, satu kilogram saja ya Di.” Balas Seera, dengan sigap dan cekatan Aldi pun memilih beberapa jeruk super untuk Seera. Seera memberikan satu lembar uang berjumlah seratus ribu kepada Aldi, namun dengan jelas Aldi menolak dan Seera tetap memaksa. Aldi pun meraih uang tersebut, lalu memberikan kembalian kepada Seera. “Terimakasih Aldi, terimakasih Paman Aga. Seera pulang ya.” Ucap Seera dengan ramah. Paman Aga pun menjawab, “Hati-hati ya Seera.” ‘Iya Seera hati-hati.” Sahut Aldi yang tetap tertegun saat melihat senyuman cantik yang Seera miliki, dan setelah Seera berlalu, Paman Aga pun terlihat menepuk dahi Aldi. “Ouch. Abi apa-apaan sih. Kok malah memukul Aldi.” Keluhnya saat merasakan rasa sakit akibat tepukan keras Paman Aga di dahinya itu. “Abi sudah katakan, jangan menatap wanita seperti itu. Selain Zina mata, kamu akan membuat nya merasa risih.” Tegas Paman Aga kepada anaknya. Aldi pun terlihat tersenyum, “Ya Maaf Abi, habisnya Seera cantik. Seera pantas jadi menantu Abi.” “Seera calon sarjana, Ia tidak akan mau dengan mu yang hanya pedagang. Siapa suruh kamu tidak mau kuliah.” Aldi pun menunduk mana kala mendengar kalimat berucap ceramah yang diberikan Abinya. Dalam hatinya bergumam, “Abi belum tahu aja nanti Aldi akan jadi seorang pengusaha buah seperti Abi, dan Seera akan mendampingi Aldi dalam mengelola supermarket buah segar.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD