Keesokan harinya, Jam sudah menunjukkan pukul 9 Pagi, Seera yang sudah harus berada di kampus itupun terburu-buru untuk memasuki kelasnya. Hari ini Jadwal Seera memang cukup padat, Pagi ke kampus, dan di Jam 4 Sore nanti Seera harus bekerja di dalam hotel. Ya, Managernya yang bernama Faysal memang sangat mendukung Seera dalam menimba ilmu nya itu.
Semenjak Seera menjadi Mahasiswi Reguler di Universitas Samudera Wijaya, Ia memiliki jadwal di pagi hari dan Faysal memberikan tugas di sore hari untuk Seera bekerja. begitupun sebaliknya jika Seera sedang tidak harus mengunjungi kelas pagi, Ia akan bekerja di waktu pagi.
Seera berjalan melewati ketiga wanita modis itu, seperti biasa Alana akan menyapanya.
"Hai Seera,"
Seera menghentikan langkah kakinya, "Hai Alana. Apa kabar?" Tanya Seera kepada Alana.
"Baik, kamu sendiri?" Tanya Alana dengan sangat ramah.
"Baik, Juga. Maaf Alana, seperti nya aku ketinggalan kelas." Sahut Seera yang terlihat terburu-buru itu, Alana mengangguk dan mengijinkan Seera untuk berjalan kembali.
Emily menatap Alana, "Mengapa kau terlihat akrab sekali dengan gadis Limusin itu?" Tanya Emily dengan nada yang sangat ketus.
"Dia gadis baik, bahkan Nara menjadi murid nya sekarang. Dia juga teman kita kan?" Tanya Alana dengan polos.
Angela pun memutarkan bola matanya dengan malas, "Teman?" Tanya Angela yang tidak rela mengakui sosok Seera gadis baru itu sebagai teman nya, Angela melihat kearah wajah Emily yang tak kalah ketus dari Alana.
Emily terlihat memikirkan perkataan Alana yang menyebutkan bahwa Seera adalah pembimbing Nara untuk Semester ini, "Wait, kau bilang apa tadi?" Tanya Emily dengan mata yang membulat sempurna.
"Seera diberikan tugas untuk membimbing Nara." Ucap Alana kembali, Emily seakan tidak menerima. siapapun yang dekat dengan Nara akan menjadi saingan baginya, Ia mengepalkan sebelah tangan nya. Ia takut juka sosok gadis Limusin yang menurutnya sangat kaya itu akan merebut tempat yang mungkin sempat dulu Emily miliki.
"Kemarin mereka bertengkar, lihatlah foto-foto tersebar di akun gosip Kampus ini." Pekik Alana sembari menunjukkan beberapa foto Nara dan Seera.
Hal itu pun lantas membuat Emily merampas ponsel Alana, Ia menilik salah satu foto tersebut, Ia melihat Nara menarik lengan Seera dan mereka seakan terlihat sebagai sepasang kekasih yang sedang dalam kesalahpahaman.
Emily menarik nafasnya dengan berat, Ia benar-benar merasa takut bahkan mungkin rasa cemburunya pun sebanding dengan rasa takut nya. Ia takut jika suatu saat, Nara dan Seera benar-benar menjadi sepasang kekasih.
"Tidak, tidak mungkin!" ujar Emily dengan pelan.
Sementara itu, Nara yang baru saja keluar dari dalam mobilnya kembali di kejutkan oleh sosok Amora. Ia berdiri di hadapan mobil mewah yang Nara miliki, "Nara.." Mata Nara begitu tajam saat melihat seorang gadis yang benar-benar terobsesi pada dirinya.
"Nara, I Love You." Ucapnya tanpa ragu, Nara menggelengkan kepalanya. Bukan nya menjawab, Justru Nara malah terlihat berjalan melewati Amora.
"Dasar gadis gila," Celetuk Nara dengan sangat pelan.
"Nara, kau benar tidak mengingat ku?" Tanya nya dengan kepala tertunduk, air matanya menetes. Ia benar-benar terobsesi oleh ketampanan Nara, dan saat itu Nara benar-benar tidak mengingat bahwa Amora lah yang Ia kecup saat mabuk berat.
Ia berjalan menyusuri lorong kampus, Amora sendiri memilih untuk tidak mengejar Nara. Nara pun memasuki Kelas yang akan ia ikuti hari ini, "Nara..." Panggil Elvan.
Nara menatapnya, "Lu kok gak ajakin Gw Gym sih kemarin?" Tanya Elvan pada Nara.
"Enggak, Gw cuma bentar lagian." Jawab Nara, "Hari ini kelasnya Pak Aidil ya?" Tanya Nara.
"Gw males ah, mending ke kafe yuk?." Ajak Elvan kepada Nara, Nara menggelengkan kepalanya. Ia selalu ingat pesan kakak Iparnya bahwa Semester ini Ia harus mendapatkan nilai yang sangat bagus, jika tidak Ayahnya akan mengirim dirinya ke Paris dan Nara tidak mau tinggal lama-lama di Paris.
Alasan nya?
Jika dia tinggal di Paris, Ia tidak akan sesering itu mengunjungi makam sang Ibu dan Nara tidak mau berjauhan dengan makam Ibunya. Walaupun Paris adalah kota impian Ibu juga kakak nya jika sang Ayah mengajak mereka berlibur.
“Lu beneran gak mau ke kafe Nar?” Tanya Elvan, Nara tetap menggelengkan kepalanya.
Elvan terdiam, rasanya ia ingin sekali bertanya mengenai sosok Seera yang akan menjadi pembimbing nya. Karena dua mahasiswa yang Bani maksud salah satunya adalah Elvan, namun sampai saat ini Bani belum jua mengabari siapa yang akan membimbingnya untuk lulus ujian Statistika tingkat lanjut.
“Loe kenapa Van?” Tanya Nara.
“gak apa-apa, Loe dapet Bimbingan belajar dari Seera ya?” Tanya Elvan balik, Nara mengangguk sembari mencebikkan bibirnya. Ia memang ingin memiliki nilai yang baik, namun Ia juga merasa malas jika berurusan dengan Seera yang sangat menjengkelkan.
Wanita tegas dan memiliki wajah ketus itu membuat sosok Nara jengah, akan tetapi Ia pun sedikitnya membutuhkan bantuan Seera dalam mempelajari mata pelajaran yang menurutnya membuat dirinya terlihat bodoh.
“Lu gak boleh baper ya Nar, dia wanita yang gw incar akhir-akhir ini.” Ucap Elvan sembari menunduk malu, Nara menautkan kedua alisnya itu.
‘Lu serius Van? Sama gadis itu?” Tanya Nara dengan gelengan kepalanya.
“Lu gak liat, dia cantik banget. Pinter, cerdas, dan ramah. Pokoknya Seera buat Gw.” Kekeuh Elvan sembari menatap Nara lekat.
“Terserah.” Jawab Nara sembari meninggalkan Elvan, Elvan tersenyum saat mengingat wajah Seera.
Satu jam pun berlalu, Seera terlihat keluar dari kelasnya. Dan Nara yang sama-sama terlihat dari sebelah kelas Seera melihat kepergiaan Seera menuju perpustakaan, seperti biasa sebelum memberikan sebuah bimbingan, Seera selalu menghabiskan waktu di dalam perpustakaan. Nara terlihat mengikuti langkah Seera, Seera yang duduk di atas meja dengan sebuah buku tebal itu pun di kejutkan dengan kehadiran Nara.
“Hei.” Sapa Nara, Seera hanya melihat nya saja.
Lalu berbisik dengan sangat pelan, “Belum waktunya belajar, setengah jam lagi aku menunggu mu di taman.”
Melihat wajah serta nada ketus yang Seera berikan, Nara terlihat memutar bola matanya malas. Entah mengapa Seera tidak memiliki keramahan yang Elvan katakan untuk Nara, melihat Nara masih duduk di sampingnya.
Seera kembali berbisik, “Apa kau tidak mendengar Tuan Nara?”
Nara yang merasa kesal itupun terlihat bergegas meninggalkan Seera, Seera menarik nafasnya dengan pelan dan ia terlihat memfokuskan dirinya. Nara berjalan menuju taman, Ia benar-benar terlihat seperti orang bodoh demi sebuah Nilai yang sudah beberapa semester ke belakang tidak terlalu Ia pentingkan.
Tiga puluh menit berlalu, Seera terlihat berjalan menghampiri Nara yang sudah menunggu nya terlebih dahulu.
“Kau sudah menunggu ku?” Tanya Seera polos.
Nara melirikkan matanya kearah dimana Seera berdiri, tanpa mengatakan apapun lagi Seera pun duduk di hadapan Nara. Ia mulai mengeluarkan alat tulis serta buku kosong khusus Nara yang nantinya akan Ia berikan sebuah tugas kecil.
“Kau tidak merasa terganggu dengan kabar di sebuah IG gosip Universitas ini?” Tanya Nara, Seera menatap lekat. Bagi Seera Ia tak menyukai sebuah berita gosip, apalagi akun gosip yang akan menggosipkan beberapa mahasiswi atau mahasiswa kampusnya.
Seera tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan Nara, Ia menggelengkan kepala nya dengan pelan.
“Kau benar-benar tidak melihat unggahan akun gosip itu?” Tanya Nara kembali.
Seera tetap menggelengkan kepalanya, Ia sama sekali tidak tahu bahwa dunia kampusnya memiliki sebuah akun gosip yang followersnya semua adalah penghuni kampus.
“Seera, Jawablah.” Pinta Nara kembali.
Tatapan mata Seera begitu tajam, “Kau merasa terganggu dengan pemberitaan itu? Kau merasa terganggu dengan gosip itu juga pendapat mereka mengenai pertengkaran kita kemarin?” Tanya Seera yang lagi-lagi dengan nada ketus.
“Baiklah, hentikan. Mungkin kemarin aku yang salah dan orang-orang disini salah. Dan hanya seorang pembimbing Seera lah yang benar.” Balas Nara, Seera mencoba memahami maksud dari perkataan Nara.
“Bolehkah Aku mengatakan sesuatu?” Tanya Nara, Seera mengangguk tanda Ia memperbolehkan Nara untuk berbicara dengan nya.
“Kau, Seera megalomaniak dan kau tidak menyadari akan hal itu.” Ucap Nara yang terdengar memulai kembali sebuah pertengkaran dengan Seera, mata Seera membulat saat mendengar perkataan Seera.
“Justru sebaliknya, kau lah megalomaniak itu!” kekeuh Seera dengan mata membulat sempurna.
“Eurgh! Nara apa yang ada di dalam otak mu.” Keluh Seera sembari mengepal kan kedua tangan nya.
“Isi otak ku saat ini adalah mengganggu dirimu.” Sahutnya dengan senyuman seringai di wajahnya.
Seera menarik nafasnya dalam-dalam, “Apa kau serius ingin membuang waktu ku?” Tanya Seera kembali, Nara kembali menyeringaikan senyuman nya. Entah mengapa Ia begitu senang menggoda Seera, apalagi saat ini Ia sendiri merasa kesal karena Seera telah mengusirnya di dalam perpustakaan.
“Jika kau memang ingin membuang waktu ku, silahkan Nara. Aku tidka merasa rugi, kau bodoh ya tetap saja bodoh!” teriaknya, Seera bangkit dari tempat duduknya dan Nara terlihat ikut bangkit dari tempat duduknya itu.
Seperti kejadian kemarin, Ia terlihat membereskan seluruh barang-barang yang telah Ia keluarkan. Dan Nara enggan menghentikan itu semua, “Jika seseorang tidak memiliki Niat untuk belajar ya seperti dial ah!” pekik Seera yang segera pergi meninggalkan Nara.
Nara tersenyum mendengar kalimat tersebut, entah gadis seperti apa Seera itu yang terlihat tidak tertarik sama sekali ketampanan yang di miliki Nara.
Dan di tempat yang tidak jauh dari tempatnya terjadi sebuah pertengkaran itu. Sosok Elvan terlihat tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang membuat marah sosok Seera, baginya kemarahan Seera begitu menggemaskan dan Nara yang nakal berhasil membuat Seera kesal. Dengan begitu, Ia akan meminta Bani untuk memberikan Seera untuk membimbing dirinya belajar.
“Mm, seru kayanya belajar bareng sama kamu gadis Limusin.” Gumam Elvan dengan senyuman manis di wajahnya.