Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Sudah waktunya Seera pulang dari pekerjaan yang begitu melelahkan. Seseorang menghampiri Seera yang sedang menunggu sahabatnya itu keluar dari dalam ruang ganti pakaian, “Seera, bisakah kita berbicara di dalam ruangan saya?” Tanya seseorang itu yang tidak lain adalah Faysal manager hotel tersebut.
Seera mengangguk dengan perlahan, “Apa ada masalah Pak?” Tanya Seera.
“Kita berbicara saja di dalam Seera.” Jawab Faysal, Lala pun keluar dari dalam ruang ganti pakaian itu. Ia melihat raut wajah Faysal yang terlihat tidak memberikan senyuman, “Saya tunggu kamu di ruangan saya.” Ucap Faysal yang terlebih dulu meninggalkan Seera.
Lala menatap Seera, “Ada apa?” Tanya nya singkat.
Seera menaikkan kedua bahunya itu, “Tidak tahu,” matanya menatap bingung kepergiaan Faysal, “Jika ini ulah Nara, aku akan membalasnya.” Pekik Seera, Lala terdiam dan sama-sama memikirkan apa yang akan Faysal katakan kepada Seera.
“Ya sudah, pulanglah lebih dulu Lala. Aku akan menemui Pak Faysal terlebih dahulu.” Ucap Seera, Lala pun mengangguk dan terlihat memiringkan wajahnya lalu melemparkan sebuah senyuman.
“Tenanglah, tidak akan terjadi sesuatu yang tidak baik padamu Seera. Tolong percayalah padaku.” Ucap Lala sembari mengusap pipi Seera, Seera pun mengangguk. Lala berpamitan terlebih dahulu, sedangkan Seera kembali melanjutkan langkah kakinya kearah yang berbeda.
Tuk… Tuk… Tuk..
Seera mengetuk pintu ruangan Faysal yang terlihat sedikit membuka.
“Masuklah Seera.” Titah Faysal.
Seera pun berjalan masuk, “Duduklah Seera.” Kata Faysal, Seera pun menuruti keinginan Faysal. Faysal menatap penuh wajah Seera, Entah mengapa dengan Faysal. Yang jelas saat ini ada hal penting yang ingin Faysal katakan kepada Seera, “Seera, tahukah mengapa saya meminta mu kesini?” Tanya Faysal, Seera menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Semoga saja si Tuan sombong, angkuh dan… eurrrgh… kesal sekali, tidak. Ia tidak mungkin mengadukan aku. Batin Seera, Seera berharap jika kejadian pagi kemari tidak pernah Nara adukan. Walaupun hal itu adalah hal konyol baginya, akan tetapi Seera sangat yakin bahwa dirinya tidaklah melakukan kesalahan.
Faysal menarik nafasnya dalam-dalam, “Saya menyukai kamu Seera.” Ucap Faysal, mata Seera membelalak tak percaya. Mana mungkin boss nya itu menyukai Seera, Seera menundukkan pandangan nya segera. Ia rasa ini adalah sebuah kesalahan, “Kamu tidak perlu khawatir Seera, saya tidak akan memaksa mu. Saya hanya ingin bertanya, apakah kamu sudah memiliki Calon suami?” Tanya Faysal kembali.
Seera menggelengkan kepalanya, “Tidak Pak Fay, mmm Maksud saya belum.” Sahut nya.
Faysal menunduk malu, hatinya tidak bisa berbohong bahwa Seera adalah wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta. Faysal yang merasa single pun memberanikan dirinya untuk mengungkapkan perasaan nya itu, “Seera, maukah kamu menjadi kekasih hati saya?” Tanya Faysal. Seera menunduk, jantungnya seakan terhenti.
Ya Tuhan.. Mimpi apa aku semalam, mengapa Pak Fay tiba-tiba bertanya mengenai itu.
Seera masih menundukkan kepalanya, “Kenapa Seera? Apa kau tidak bersedia?” Tanya Faysal.
“Bukan begitu Pak, tetapi jujur Seera belum bisa menjalin hubungan dengan siapapun. Dan jujur, Seera belum bisa menerima tawaran bapak.” Balas Seera sembari menundukkan kepalanya, “Maaf sekali pak, jika bapak mau memecat Seera. Seera terima dengan sangat baik.” Sambungnya.
Faysal menatap wajah Seera, melihat tatapan itu Seera pun kembali menundukkan kepalanya.
“Untuk apa saya memecat kamu Seera, ini kan permasalah pribadi diantara kita berdua. Dan sedari awal saya sudah mengatakan bahwa saya tidak akan memaksa, jadi tidak aka nada perdebatan diantara kita.” Ungkap Faysal dengan senyuman di wajahnya, “Jangan sampai hal ini membuat saya sungkan padamu, begitupun sebaliknya Seera.” Sambung Faysal.
Mendengar hal itu, hati Seera begitu tenang.
“Kita masih bisa menjadi sahabat kan Seera? Kamu bisa meminta bantuan saya kapanpun, begitupun saya juga tidak akan pernah sungkan meminta bantuan kepadamu.” Ucap Faysal kembali, Seera menganggukkan kepalanya.
“Oh Iya, Pak Martin memberikan ini Seera.” Sebuah kotak besar yang entah apa isinya itu, Seera pun melihat kotak besar yang Faysal sebutkan sebagai hadiah dari seseorang bernama Martin.
“Martin? Ma-af maksud Seera, Pak Martin siapa Pak?”
“Pak Martin yang tempo lalu supirnya melakukan perdebatan dengan mu. Ia sangat bangga karena kamu sudah mempertahankan barangnya, bahkan kamu mentaati peraturan hotel ini. Beliau mengatakan bahawa hadiah ini bukti terimakasih dia untuk mu.” Seera pun mengingat jelas sosok Martin yang baru saja di sebutkan oleh Faysal, Martin si pemiliki Limusin itu.
“Seera, setidaknya terimalah hadiah ini.” Ucap Faysal kembali.
Dengan gerakan tangan yang begitu ragu, Seera pun menerima hadiah tersebut.
“Tolong beritahu beliau bahwa saya berterimakasih atas hadiah ini.” Ucap Seera, Faysal mengangguk dan menyelipkan senyuman manis nya.
“Baiklah sudah malam, bisakah saya mengantar kamu pulang?” Tanya Faysal.
Seera terdiam, entah bagaimana dia akan menolaknya. Ia begitu sulit, namun Ya sudahlah pada akhirnya Ia pun menerima tawaran baik dari atasan nya itu.
Di tempat berbeda, Nara sedang menyendiri di atas balkon kamarnya. Seseorang terlihat masuk menghampiri Nara, orang itu tak lain adalah Karen. Nara menoleh dan mendapati Ibu tirinya masuk dengan langkah yang begitu santai.
“Kenapa tidak ikut makan malam?” Tanya Karen tanpa basa-basi.
“Bisakah bersikap sopan saat mengunjungi kamar Pria lain?” Tanya Nara.
Karen menyunggingkan bibirnya, Ia pun menyelipkan sebuah senyuman yang terlihat begitu sinis.
“Nara, Nara. Bisakah tidak terlalu ketus dalam menyambut Mama muda ini? Begini-begini aku ini mama sambung mu.” Seru Karen yang duduk di atas ranjang pribadi Nara, melihat hal itu Nara pun mendekat. Ia mencengkram lengan atas Karen dan menggiringnya untuk keluar dari kamar pribadinya.
“Aku tidak akan pernah sudi menganggap mu sebagai Ibu pengganti! Kau sudah seharusnya enyah dari kehidupan Daddy, kau hanya akan memberikan kesialan untuk Daddy juga kami!” ucap Nara dengan pelan, mendengar kalimat tersebut, amarah Karen pun memuncak.
“Dengar Nara, selama aku disini. Kau akan tetap menerima baik kehadiran ku, jika tidak..”
“Jika tidak apa? Hmm?” Tanya Nara, “Jika tidak kau akan menghancurkan kehidupan ku sama seperti 6 tahun yang lalu. Dimana kau memfitnah aku di hadapan Daddy, kau mengatakan bahwa Aku yang baru berusia 16 tahun ingin merudapaksa dirimu.” Susul Nara.
“Aku tidak akan lagi membiarkan kamu memfitnah orang-orang yang berada di rumah ini, aku tidak akan pernah lagi membuat kehidupan mu tenang Karen!” ucap Nara dengan pelan namun terlihat begitu kasar.
Nara terlihat kembali masuk kedalam kamar, Ia segera memakai sebuah jaket tebal dan kembali keluar kamar. Ia melewati dimana tubuh Karen berdiri, dan saat Ia berhasil menuruni anak tangga. Ia tak sengaja berpapasan dengan sosok Himawan, “Mau kemana kamu Nara?” Tanya Himawan kepada anaknya itu, nada suara yang meninggi itu kembali himawan berikan dan Nara sungguh tidak menyukai nya.
Nara enggan mendengar pertanyaan Daddynya itu, Ia tetap melangkah tanpa menghiraukan pertanyaan yang di berikan oleh Daddy nya.
“Kenapa lagi anak itu? Ia benar-benar membutuhkan psikolog baru. Tingkah nya semakin hari semakin membuat ku susah!” gumam Himawan kesal.
Karen menghampiri suaminya, “Ada apa sayang?” Tanya Karen kepada suaminya itu.
“Entahlah, entah kenapa dengan anak itu. Ia benar-benar memiliki perubahan mood yang sangat cepat, aku sangat mengkhawatirkan dirinya.” Ucap Himawan dengan rasa khawatir yang begitu sangat besar.
Karen terlihat mengusap pelan d**a milik suaminya, Ia mencoba menggoda suaminya itu. Ia menatap nya dengan penuh hasrat, “Sudahlah, tidak perlu memikirkan Nara. Sudah lama bukan kit atidak melakukan ini semua?” bisik kecil nya di telinga Himawan,.
Himawan begitu merasa tergoda. Ia pun terlihat mengecup kilas bibir Karen, dan Karen terlihat membalas kecupan kilas suaminya.
Himawan pun menggendong Karen menuju kamarnya, sungguh begitu mesra Himawan saat menatap wajah Istrinya itu..