Binta terbangun dengan kepala yang terasa seperti dihantam palu godam. Sinar matahari pagi yang lembut masuk melalui jendela besar, menyapu sofa panjang yang ia tiduri. "Tunggu. Ini bukan kamarku," pikiran Binta berkecamuk, ia memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Bau samar cairan kimia dan kertas foto basah menusuk hidungnya. Ia berada di studio foto. Di sudut ruangan, ada mesin kopi canggih, dan rak-rak kayu berisi tumpukan album foto. Binta menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan memori yang hilang. "Apa yang ku lakulan?" Binta mengerutkan kening, ia ingat dengan minuman semalam, tarian brutalnya, dan lalu kilasan lorong gelap. Ia ingat bagaimana Gala mencengkeramnya, diikuti dengan Binta yang emosi. Dan .., ciuman. Binta menyentuh bibirnya sendiri, ciuman kasar, terge

