Tepat pukul 15:00. Cahaya matahari sore yang miring di Kafe Senja terasa seperti lampu panggung teater yang bengis. "Bersiaplah Nita, kita akan bermain peran hari ini." Binta sudah siap di balik meja bar, hatinya berdebar, tetapi tangannya berusaha tetap stabil saat ia menyeduh Yirgacheffe Manual Brew. Bara masuk lebih dulu. Orang yang Binta cap sebagai predator itu berjalan lurus ke arah Binta, memeluk Binta di balik meja bar, sebuah tindakan yang intim, posesif, dan merendahkan di saat yang sama. "Halo, Sayang," sapa Bara, suara bazznya memantul di pendengaran Binta. "Aku lebih suka di sini. Aromamu masih seperti dark rose yang terlalu jujur." Binta menarik diri dengan cepat. "Selamat datang di Kafe Senja, Bara. Silakan duduk. Anda punya waktu lima belas menit." "Hanya lima b

