Bab 3. Luka Paling Nyata

1661 Words
Binta tahu jawabannya. Ia telah menutup dirinya rapat-rapat sejak ia pindah ke Jakarta dan membuka kafe ini. Ia menciptakan benteng, dan Gala adalah orang pertama yang tidak hanya mencoba, tapi berhasil melompati pagar benteng itu—bukan dengan paksa, tapi dengan keanehan yang konsisten. ​"Saya peduli karena dia merusak garis batas," jawab Binta, menyajikan secangkir Cappuccino untuk pelanggan lain. "Dia membuat saya harus mengingat hal-hal yang tidak penting. Dia .., mengganggu fokus saya." ​Nita mengangguk. "Garis batas. Baiklah. Tapi kalau dia suka Mbak Binta, dia akan terus melanggar garis batas itu." ​Binta tidak menjawab. Ia hanya berpikir tentang 'melanggar garis batas'. ​Di satu sisi, Binta ingin mengusirnya. Di sisi lain, Yirgacheffe untuk Gala adalah satu-satunya kopi di hari itu yang Binta buat dengan sedikit luapan emosi—campuran kemarahan, frustrasi, dan rasa ingin tahu yang sangat kecil. Itu adalah kopi yang paling jujur. ​Binta menyadari, Gala si fotografer, tanpa kamera, tanpa flash, dan tanpa perumpamaan puitis, berhasil membuat lubang kecil di dinding pertahanan Binta. "Ah, sial!" ​Binta menghela napas. Ia perlu distraksi. Ia butuh sesuatu yang lebih penting daripada memikirkan Gala. ​"Nita, saya mau cek persediaan biji di gudang. Kamu handle kasir, ya," perintah Binta. ​Binta melarikan diri, turun ke gudang bawah tanah yang gelap dan lembab. Aroma karung biji kopi mentah yang berat memenuhi udara. Jauh dari cahaya matahari dan, yang terpenting, jauh dari Gala. ​Ia mulai memeriksa karung-karung Arabica. Namun, saat tangannya menyentuh sebuah kotak kayu usang di sudut, matanya terpaku. Kotak itu tidak berisi biji kopi. ​Itu adalah kotak yang sudah lama tidak ia buka. Sebuah kotak yang berisi sisa-sisa kehidupannya yang lama. Kehidupan yang sangat ingin ia lupakan. ​Binta menarik kotak itu keluar. Debu tebal menempel di tangannya. Perlahan, dengan hati-hati, ia membuka penutup kotak itu. ​Di dalamnya, terbaring sebuah benda yang langsung memukul ulu hatinya: seikat kecil bunga edelweiss kering. ​Bunga-bunga itu sudah layu dan rapuh, tapi bentuknya masih utuh. Bunga yang hanya tumbuh di ketinggian, bunga abadi yang menjadi simbol dari sebuah janji. ​Binta mengambilnya, mengelus kelopaknya yang kering dengan ibu jarinya. ​Momen itu membuat pertahanannya runtuh seketika. Luka lama yang Binta pendam di bawah tumpukan aroma kopi dan profesionalisme, kini terasa terbuka lagi, segar, dan menyakitkan. ​Ia ingat kenapa ia datang ke Kafe Senja. Ia ingat kenapa ia benci rutinitas dan keterlibatan. Ia ingat kenapa ia benci Gala yang mencoba 'membaca' dia hanya dari secangkir kopi. ​Karena luka itu, luka masa lalu itu, adalah yang paling nyata dari semua kebohongan manis yang pernah ia dengar. ​Tangannya menggenggam bunga kering itu erat-erat. ​Di lantai atas, suara tawa Nita dan denting gelas terdengar samar. Dan Binta tahu, saat ini ia tidak bisa kembali ke atas. Ia harus duduk sebentar di dalam kegelapan gudang ini, bersama edelweiss dan semua penyesalan manis yang Binta pendam. *** Binta tidak tahu berapa lama ia duduk di sana, di lantai gudang yang dingin, hanya ditemani aroma biji kopi mentah dan kegelapan yang pekat. ​Bunga edelweiss kering itu masih berada dalam genggamannya. Bunga abadi. Janji yang abadi. Ironisnya, janji itu sudah lama mati dan mengering, sama seperti kelopaknya yang rapuh. ​Kotak kayu itu, yang berisi beberapa foto buram dan surat-surat lama, adalah kapsul waktu yang Binta kunci rapat. Sekarang, kotak itu terbuka, dan segala yang ia kubur—rasa bersalah, kehilangan, dan janji yang gagal—tumpah ruah. ​Gudang itu adalah tempat pelariannya dari hiruk pikuk kafe. Tapi sekarang, gudang itu terasa seperti penjara, mengurungnya bersama masa lalu. ​DOR! DOR! ​Ketukan keras di pintu gudang memecah lamunan Binta. ​"Mbak Binta? Mbak, kok lama banget di bawah? Ada apa? Semua oke?" Itu suara Nita, terdengar sedikit cemas dari balik pintu kayu. ​Binta buru-buru menyeka air mata yang tidak ia sadari menetes. Ia memasukkan bunga edelweiss kering itu kembali ke dalam kotak, menutupnya rapat-rapat, dan mendorongnya kembali ke sudut, di bawah karung-karung kopi. Ia harus bertindak cepat. ​"Ya, Nita. Semua oke. Cuma lagi cek stock saja. Karung Yirgacheffe-nya ada yang bolong sedikit," jawab Binta, berusaha mengatur suaranya agar terdengar normal. Ia bangkit, merapikan pakaiannya. ​Binta membuka pintu. Cahaya terang dari tangga menyerbu masuk, membuat Binta harus menyipitkan mata. ​Nita menatap Binta dengan ekspresi curiga. "Muka Mbak pucat banget. Kenapa?" ​"Debu gudang," jawab Binta, berjalan melewatinya dengan cepat. "Sudah, saya harus kembali ke bar. Tolong cek kembali catatan stok kita, Nita." ​Binta kembali ke meja bar. Tangannya meraih lap. Ia mulai mengelap konter, bergerak otomatis, mencoba menciptakan kembali benteng profesionalismenya. ​Namun, ia tidak bisa menghentikan pikirannya. ​Kenapa bunga itu harus muncul sekarang? ​Itu adalah benda terakhir dari dia. Benda yang seharusnya sudah dibuang, tapi Binta tidak pernah bisa melakukannya. Edelweiss itu adalah pengingat kegagalannya. Kegagalan untuk menjaga janji, kegagalan untuk mencegah kehilangan. Itulah alasan ia menciptakan Kafe Senja, tempat yang jauh dari semua janji dan semua kehilangan. ​Saat ia sedang tenggelam dalam pikirannya, ia mendengar suara yang sangat ia benci. ​"Binta, saya sudah selesai." ​Gala berdiri di depan meja bar. Cangkir manual brew-nya sudah kosong. ​Binta mendongak. Ia melihat Gala. Tapi kali ini, ia tidak hanya melihat pria rese yang sok puitis. Ia melihat ancaman. Ancaman terhadap dinding yang baru saja ia perkuat setelah serangan edelweiss. ​Gala tersenyum kecil. "Kopi yang luar biasa. Perenungan hari ini benar-benar intens." ​Binta menatapnya tajam. "Jangan sok tahu tentang perenungan saya, Tuan Gala. Anda hanya membayar untuk kopi." ​Gala tampak terkejut dengan nada Binta yang tiba-tiba menjadi sangat dingin dan menusuk. Ini lebih keras daripada sikap profesionalnya di hari pertama. ​"Oh. Maaf. Saya tidak bermaksud ..." Gala berhenti sejenak. Matanya, di balik kacamata tebal, mencoba membaca ekspresi Binta. "Saya hanya berkomentar tentang kopinya. Rasanya hari ini agak ... lebih dalam daripada kemarin." ​"Rasa kopi itu tergantung pada kepekaan lidah Anda, bukan pada mood saya," potong Binta. Ia menyingkirkan cangkir kosong Gala dengan gerakan kasar. ​"Saya percaya rasa kopi adalah cerminan dari penyeduhnya," balas Gala. Ia tidak mundur, melainkan mencondongkan tubuh sedikit. "Anda tidak baik-baik saja, Binta." ​Kata-kata itu membuat Binta membeku. Ia tidak tahu mengapa, tetapi Gala—orang asing yang baru tiga hari ia kenal—berani mengatakan apa yang bahkan Nita tidak berani katakan. ​"Jangan libatkan diri Anda dalam urusan saya, Tuan Gala. Saya tidak mengenal Anda. Anda hanya pelanggan." ​"Saya tahu. Dan saya tidak mau ikut campur. Tapi sejak saya di sini, saya melihat Anda sangat pandai mengabaikan orang, mengabaikan dunia, mengabaikan semua hal. Kecuali kopi." Gala berhenti, suaranya sedikit rendah. "Dan sekarang, Anda bahkan tidak bisa mengabaikan saya. Karena ada sesuatu yang mengganggu Anda. Saya melihatnya di mata Anda." ​Binta merasakan amarah murni membakar dadanya. Pria ini, dengan julukan aneh dan kemampuan observasi yang tajam, adalah bahaya yang nyata. Ia terlalu cepat masuk ke dalam wilayah yang seharusnya tidak bisa diakses siapapun. ​"Anda datang ke kafe saya, membuat kegaduhan dengan flash Anda, dan sekarang Anda sok tahu tentang hidup saya. Apa yang Anda inginkan, Tuan Gala? Uang Anda sudah saya terima. Sekarang, pergilah. Dan jangan kembali," kata Binta. Ia berucap dengan suara rendah, penuh ancaman yang tersembunyi. ​Wajah Gala langsung berubah serius. Senyumnya menghilang total. Ia menghela napas. ​"Saya ingin kembali. Kopi di sini bagus. Dan saya ingin—" Gala menggigit bibir bawahnya, menimbang kata-katanya. "Saya ingin tahu kenapa Anda tiba-tiba membangun tembok setinggi ini hari ini, hanya karena saya bilang kopi Anda terasa dalam." ​"Karena saya punya tembok yang kuat, Tuan Gala. Dan saya tidak butuh siapa pun untuk bertanya kenapa tembok itu ada. Kalau Anda fotografer, fokus saja pada gambar Anda. Jangan masuk ke cerita saya." ​Gala menarik diri dari meja bar. Ia mengambil ranselnya. Binta berpikir, akhirnya, ia akan pergi. ​"Baiklah. Saya mengerti," kata Gala, suaranya terdengar pasrah. "Saya akan pergi. Tapi sebelum itu," Gala mengambil sesuatu dari saku ranselnya—sebuah amplop putih tipis. ​Ia meletakkan amplop itu di atas meja bar, tepat di depan Binta. ​"Saya tidak tahu apa yang Anda alami. Tapi ini bukan untuk mengganggu. Ini adalah uang untuk kopi saya besok. Dan di dalamnya ada kartu nama saya. Kalau Anda butuh sesuatu, selain kopi, Anda bisa hubungi saya," kata Gala. Ia menatap Binta sekali lagi, tatapan yang kali ini tidak rese, tidak puitis, tapi tulus dan penuh pengertian. ​"Selamat tinggal, Binta. Semoga hari Anda tidak terlalu dingin," tutup Gala, dan ia berjalan cepat keluar dari Kafe Senja tanpa menoleh lagi. ​Binta berdiri terpaku. Amplop putih itu terasa sangat mengganggu di atas konter kayu gelap. Ia tidak menyentuhnya. ​Nita, yang mengamati dari jauh, mendekat dengan wajah penuh rasa ingin tahu. ​"Mbak, kenapa cowok itu jadi horor gitu? Kenapa dia kasih amplop?" tanya Nita. ​"Dia membayar di muka," jawab Binta, suaranya masih serak. ​"Besok?" Nita tercengang. "Berarti dia akan datang lagi besok! Mbak, dia ini stalker atau secret admirer?" ​Binta mengabaikan Nita. Perlahan, ia mengulurkan tangan dan mengambil amplop itu. Di dalamnya, ada selembar uang dan sebuah kartu nama. ​Kartu nama itu sederhana, hanya bertuliskan: Gala. Fotografer Lepas. Di bawahnya, ada nomor telepon dan alamat email. ​Binta meremas kartu nama itu di tangannya. ​Ia benci pengakuan. Ia benci keterlibatan. Dan ia benci bahwa Gala, dalam tiga hari, telah melihat luka Binta lebih jelas daripada orang lain dalam tiga tahun terakhir. ​Binta melihat ke jendela, ke arah tempat Gala menghilang. Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. ​Kopi yang ia buat untuk Gala hari ini, benar-benar mencerminkan emosinya. Ia menyalurkan semua kepahitan dan rasa bersalah edelweiss itu ke dalam seduhan Yirgacheffe. ​Gala tidak hanya membeli kopi. Dia membeli kejujuran Binta, yang selama ini Binta sembunyikan. "Ck! Merepotkan saja." ​Binta membuang kartu nama Gala ke tempat sampah di bawah meja bar. Ia tidak akan menghubunginya. Ia tidak akan pernah lagi membuat kopi untuk Gala. ​Tapi ia tahu. Pria itu sudah membayar untuk besok. Dan Binta sangat membenci berhutang pada siapapun. ​Sial.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD