Pagi itu, Binta sengaja datang ke Kafe Senja lebih awal. Bukan untuk menyambut pelanggan, melainkan untuk melenyapkan bukti.
Ia membuka tempat sampah di bawah meja bar, mencari kartu nama Gala yang ia buang. Setelah menemukannya, ia meremasnya lebih keras, lalu membuangnya lagi ke tempat sampah dapur yang besar, tertutup, dan terkunci. Kartu nama itu harus hilang dari semestanya.
Masalahnya bukan kartu nama, tapi uang yang ditinggalkan Gala. Selembar uang kertas bernilai nominal yang cukup untuk satu Yirgacheffe Manual Brew dan sedikit kembalian uang receh.
Binta bukan hanya seorang barista, ia adalah seorang pengusaha. Ia benci rugi, dan ia benci berhutang. Jika ia tidak menyajikan kopi untuk Gala hari ini, itu berarti ia mengambil uang tanpa memberikan barang. Itu melanggar prinsipnya.
"Sial," desis Binta. Gala telah menjebaknya.
Pukul sebelas kurang lima menit, perut Binta mulai melilit. Ini adalah jam yang Gala tetapkan untuk dirinya sendiri. Binta, yang biasanya tenang, kini berjalan mondar-mandir di balik meja bar, mengelap semua yang sudah bersih.
Nita datang, melihat Binta mondar-mandir. "Mbak Binta, kenapa kayak setrikaan gitu? Gelisah banget."
"Saya cuma mau memastikan kafe ini siap," jawab Binta kaku.
"Kafe ini siap, Mbak. Yang belum siap itu kayaknya Mbak Binta buat ketemu si Penulis Gelap," goda Nita, menunjuk ke arah sudut kafe tempat biasa Gala nongkrong.
Pukul sebelas tepat. Pintu Kafe Senja berdentang.
Gala masuk. Hari ini ia memakai kemeja flanel kotak-kotak. Tidak ada hoodie. Ia terlihat sedikit lebih rapi, tapi rambutnya masih sedikit berantakan, seolah ia baru saja mengakhiri pertarungan bantal.
Mata Gala langsung tertuju pada Binta di meja bar. Ia tersenyum tipis, senyum penuh kemenangan.
Binta memaksakan ekspresi netral. Ia tidak akan membiarkan Gala melihat betapa terganggunya ia.
Gala berjalan ke meja bar, meletakkan ranselnya di lantai, dan bersandar.
"Selamat siang, Binta. Langit hari ini agak mendung, ya. Agak pesimis," sapanya.
Binta tidak membalas sapaan itu. Ia langsung menembak. "Saya tidak mau mendengarkan perumpamaan tentang cuaca. Anda sudah membayar. Mau kopi yang mana?"
Gala mengangkat alisnya, terkesan. "Anda menyimpannya. Bagus. Saya tahu Anda seorang wanita berprinsip."
"Saya tidak menyimpan uang Anda. Saya hanya tidak mau berhutang budi," jawab Binta dingin. "Kopi mana yang Anda mau?"
Gala tersenyum. "Perenungan yang Penuh Harapan, tentu saja. Yirgacheffe Manual Brew. Saya butuh harapan, mengingat betapa dinginnya sambutan Anda hari ini."
Binta mengabaikan sindiran itu. "Baik. Anda mau filter apa? Saya punya kertas dan kain."
"Kain. Lebih lembut," jawab Gala.
Binta segera berbalik, gadis itu mulai meracik biji. Gerakannya penuh tenaga, dan sedikit kasar. Biji kopi digiling lebih cepat dari biasanya. Ia ingin segera menyelesaikan hutang ini dan menyingkirkan Gala dari kafe.
Saat Binta menuangkan air panas, menciptakan lingkaran air yang sempurna, Gala berbisik dari balik meja bar.
"Kenapa marah sekali, Binta? Hanya karena saya melihat Anda tidak baik-baik saja?"
Binta berhenti menuang. Ia mengambil napas dalam-dalam. "Anda tidak melihat apa-apa, Tuan Gala. Anda hanya membuat asumsi yang menyebalkan."
"Asumsi yang menyebalkan, atau kenyataan yang menyakitkan?" balas Gala pelan. "Kemarin, di detik saya mengucapkan kata 'perenungan', mata Anda berubah. Ada sesuatu yang mengganghu Anda. Saya minta maaf. Saya seharusnya tidak mengatakannya."
Binta akhirnya menoleh. Ekspresinya menunjukkan ia terkejut. Gala meminta maaf. Itu tidak terduga.
"Permintaan maaf Anda diterima. Sekarang, tolong jangan ulangi. Jangan pernah menganalisis saya atau suasana kafe ini," kata Binta.
Gala mengangguk, kali ini tanpa senyum. "Janji. Saya akan menjadi pelanggan yang bodoh dan hanya tahu rasa. Saya hanya akan berkomentar tentang kepahitan, keasaman, atau aroma bunga."
Binta kembali fokus pada seduhan kopi. Ia merasa sedikit lega. Gala mengalah. Namun, ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa kosong, karena ia kehilangan sedikit ketegangan yang justru ia nikmati.
Kopi selesai. Binta meletakkan cangkir itu di depan Gala.
"Ini. Nikmati," kata Binta.
Gala mengambil cangkir itu, menghirup aromanya, matanya terpejam. "Ah. Hari ini, saya mencium penyesalan yang .., lebih lembut. Seperti penyesalan yang sudah diterima. Tidak lagi tajam."
Binta hampir tersedak ludahnya sendiri. Gala melanggar janjinya dalam waktu kurang dari lima menit! Ia tidak menganalisis Binta secara pribadi, tetapi ia menganalisis kopi buatan Binta yang adalah cerminan langsung dari emosinya.
"Anda melanggar janji Anda!" seru Binta, nadanya naik.
"Tidak. Saya janji tidak akan menganalisis Anda, Binta. Tapi kopi Anda adalah seni. Dan saya adalah seorang seniman yang mengapresiasi seni. Jika kopi Anda mencerminkan penyesalan yang lebih lembut, itu adalah fakta rasa, bukan asumsi pribadi," balas Gala, mengedikkan bahu.
Binta terdiam. Ia tidak bisa membantah. Kopi yang ia buat hari ini memang diseduh dengan tangan yang lebih tenang, setelah ia menyimpan kembali edelweiss itu, Binta mencoba menerima.
"Terserah Anda," kata Binta, menyerah. Ia merasa Gala memiliki kemampuan aneh untuk memenangkan setiap perdebatan tanpa harus berteriak.
Gala mengambil tegukan pertamanya, lalu duduk di sudutnya yang biasa. Ia membuka notebook usangnya.
Binta memandangi Gala dari balik meja bar. Gala tampak tenang, menulis, sesekali meminum kopi. Binta membenci fakta bahwa pria ini, yang harusnya mengganggu, kini justru menjadi satu-satunya pelanggan yang benar-benar melihat dan 'membaca' karya kopinya.
"Mbak Binta," bisik Nita. "Dia bilang kopinya rasa penyesalan. Kok bisa?"
"Diam, Nita. Dia gila," jawab Binta.
"Atau, Mbak Binta yang terlalu jujur saat bikin kopi buat dia," balas Nita, matanya nakal.
Nita benar. Interaksi dengan Gala memaksa Binta untuk keluar dari mode otomatisnya. Ia tidak bisa membuat kopi yang datar untuk Gala, karena ia tahu pria itu akan langsung tahu.
Satu jam berlalu. Gala tidak beranjak. Binta merasa gelisah. Hutang budi sudah lunas, namun Gala masih di sana.
Akhirnya, Gala menutup notebook-nya. Ia berdiri dan berjalan ke meja bar.
"Terima kasih untuk perenungan hari ini, Binta," katanya.
Binta mengangguk, "Sama-sama. Selamat jalan."
"Tunggu," kata Gala, menahan senyum. Ia meletakkan selembar uang lagi di atas meja. Uang tunai yang sama persis nominalnya.
"Untuk besok?" tanya Binta, suaranya sedikit meninggi.
"Tentu saja. Anda tidak mau berhutang budi pada saya, kan? Jadi, anggap saja ini adalah deposit. Anda terikat pada prinsip Anda, dan saya terikat pada kopi Anda."
Binta menatap uang itu, lalu menatap Gala. Ia menyadari permainan ini, Gala tahu cara terbaik untuk membuat Binta tidak bisa menolaknya adalah dengan menghilangkan alasan Binta untuk menolak, yaitu menghindari hutang budi.
"Anda menyebalkan," kata Binta. Itu bukan lagi sebuah hinaan, melainkan sebuah pernyataan fakta yang ia akui.
"Saya tahu. Tapi kopi saya aman untuk besok, kan?" Gala tersenyum lebar.
Binta mengambil uang itu, menatap Gala dengan pandangan penuh frustrasi.
"Ambil saja kembalian Anda," kata Binta, mengambil beberapa lembar uang kecil dari laci.
"Tidak perlu. Anggap saja itu tip untuk barista yang jujur. Sampai jumpa besok, Binta. Jangan terlalu keras pada diri sendiri," kata Gala, lalu ia berbalik dan pergi.
Binta hanya bisa melihat kepergiannya, selembar uiang Gala yang baru diletakkan di tangannya. Ia kalah. Gala sudah membeli hari keempatnya.
Binta menyadari, Gala si rese, telah berhasil menciptakan rutinitas harian yang tidak bisa ia hindari. Dan, anehnya, di tengah rasa kesal yang luar biasa, aada sedikit bagian dirinya yang menanti-nantikan 'perenungan' macam apa yang akan ia sajikan besok.