Bab 5. Seduhan yang Gagal

1253 Words
Binta bangun pagi dengan satu misi tunggal, yaitu menyajikan kopi terburuk yang pernah ia buat untuk Gala. “Aku akan menyiapkan semuanya sekarang juga.” Binta melangkah masuk bar dengan semangat penuh amarah. ​Ia sudah muak dengan permainan psikologis yang dilakukan pria itu. Gala menggunakan prinsip Binta yang tidak mau berhutang dengan keahlian Binta sebagai alat untuk memaksakan kehadirannya. Ini harus dihentikan. ​Jika Gala terus-menerus membaca emosi Binta melalui rasa kopi, maka hari ini, Binta akan menyajikan emosi palsu, rasa hambar, datar, dan tidak menarik. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa mengontrol apa yang ia rasakan dan ia sajikan. ​Pukul sepuluh pagi, saat Kafe Senja masih lengang, Binta sudah berada di balik meja bar, melakukan uji coba seolah ini adalah mainan baru. ​"Nita, coba cicipi ini," kata Binta, meletakkan cangkir kecil di depan asistennya. ​Nita, yang sedang asyik dengan ponselnya, mendongak. Ia mencium aromanya. "Wangi, Mbak." ​"Jangan mencium. Cicipi," desak Binta. ​Nita menyesap cangkir. Sudah Binta tebak, wajah Nita langsung berubah. Ia membuat ekspresi masam. "Aduh, Mbak. Ini .., kenapa kayak air cucian piring? Body-nya tipis banget, aftertaste-nya pahit, tapi asamnya tidak ada definisi." ​"Tepat!" Binta menjentikkan jari, puas. "Itu adalah Manual Brew dari biji Brazil yang seharusnya sangat bold. Tapi saya menggilingnya terlalu kasar, suhu airnya terlalu rendah, dan saya menuangnya terlalu cepat." ​"Kenapa Mbak Binta tega menyiksa biji kopi kayak gini?" tanya Nita, geli sekaligus ngeri. "Mau membalas dendam sama siapa?" ​"Pelanggan nanti," jawab Binta singkat. "Saya mau menyajikan sesuatu yang tidak bisa ia 'baca' sebagai penyesalan, harapan, atau pun puitis." ​Nita membelalakkan mata. "Oh, si Gala! Fotografer rese itu?! Mbak, jangan! Itu dosa besar terhadap kopi!" ​"Dosa lebih besar adalah membiarkan orang asing menganalisis trauma saya dari secangkir kopi," balas Binta, membuang kopi 'gagal' itu ke wastafel. "Saya akan menyajikan ini. Kopi yang secara teknis bisa diminum, tapi tidak memiliki jiwa." ​Binta menghabiskan satu jam lagi untuk menyempurnakan kegagalannya. Ia menimbang biji kopi untuk Gala, dan menyimpan biji 'gagal' itu dalam wadah khusus, siap untuk disajikan pada pukul sebelas. ​Pukul sebelas kurang satu menit. Jantung Binta berdebar. Bukan karena gugup bertemu Gala, tapi karena gugup akan merusak citra kafe dan biji kopi yang ia cintai. ​Pintu berdentang. Gala masuk, kakinya melangkah tepat waktu. Hari ini ia kembali ke hoodie hitam andalannya. Ia membawa ransel yang sama, namun kali ini ia terlihat sedikit lebih lelah. Ada bayangan gelap di bawah matanya. ​"Selamat siang, Binta. Hari yang cerah," sapanya, berjalan ke meja bar. ​"Selamat siang. Anda sudah membayar," kata Binta, tangannya bergerak mengambil biji 'gagal' itu. ​"Perenungan yang Penuh Harapan. Benar?" ​"Hari ini .., hari ini adalah Perenungan yang Biasa-Biasa Saja," kata Binta, hampir tersenyum. Ia menimbang biji dan menggilingnya dengan sengaja, memberikan jeda yang tidak merata. ​Gala memperhatikan setiap gerakan Binta. Ia melihat Binta memasukkan bubuk gilingan kasar itu ke portafilter dan mulai menyeduh. ​"Kenapa 'Biasa-Biasa Saja'?" tanya Gala. ​"Karena itu yang Anda akan dapatkan. Kopi yang datar. Tidak ada body. Tidak ada kejutan. Tidak ada perumpamaan puitis yang bisa Anda buat dari kopi ini," jawab Binta, suaranya mengandung nada tantangan yang jelas. ​Gala hanya tersenyum kecil. "Menarik. Anda membuatkan saya kopi yang 'disabotase' hari ini. Untuk membuktikan bahwa Anda bisa mengendalikan emosi Anda." ​Binta membanting kendi air. "Jangan sok tahu, Tuan Gala. Ini adalah kopi harian. Tidak semua hari harus terasa dramatis." ​"Oh, Binta," Gala menggeleng pelan. "Setiap seduhan kopi adalah dramatis. Itu adalah ekstraksi jiwa dari biji. Anda tidak mungkin bisa membuatnya 'biasa-biasa saja' tanpa sengaja membuatnya jadi ekstrem." ​Binta mendiamkan air seduhan yang seharusnya ia tuang. Ia menyadari kegagalannya, upaya untuk membuat kopi 'biasa' justru menarik perhatian Gala lebih besar. ​Ia menuang air dengan cepat, sengaja membiarkan air turun tidak merata. Binta ingin kopi ini terasa di bawah standar, encer, asam, dan tidak berkarakter. ​Kopi selesai. Binta menyajikan cangkir itu di depan Gala. ​"Nikmati. Ini adalah kopi yang tidak punya jiwa," kata Binta, sedikit sinis. ​Gala mengambil cangkir itu perlahan. Ia menatap kopi itu, lalu menatap Binta. Tatapannya panjang, seolah ia sedang mengamati sebuah lukisan abstrak yang ia tidak pahami. ​"Baiklah. Mari kita lihat seberapa 'biasa-biasa saja' Anda," kata Gala. ​Ia menghirup aromanya. Ia tidak tersenyum. Ia tidak berkomentar. Ia mengambil tegukan pertama yang panjang. ​Binta menahan napas. Nita, dari jauh, tampak cemas. ​Gala meletakkan cangkir itu, suaranya tenang. ​"Anda benar," katanya. ​Binta merasa sedikit lega, namun rasa bersalah terhadap biji kopi itu tetap ada. "Lihat? Saya bisa membuatnya datar." ​Gala menggeleng. "Tidak, Binta. Anda salah. Kopi ini tidak datar. Ini menyakitkan." ​"Apa?" Binta mengerutkan kening. ​"Rasa asamnya sangat tinggi, karena Anda menuangnya terlalu cepat. Body-nya sangat encer. Aroma yang harusnya manis dan berbunga, kini menjadi bau asam yang menusuk. Ini bukan 'biasa-biasa saja', Binta. Ini adalah kopi yang paling berteriak yang pernah Anda buat." ​Gala memajukan tubuhnya. Matanya menatap Binta dengan intensitas yang lebih besar dari sebelumnya. ​"Anda ingin membuat kopi yang tidak bisa saya baca, tapi yang Anda buat adalah kopi yang penuh amarah. Kopi yang bilang, 'Pergilah! Saya tidak mau Anda melihat saya!'" ​Binta merasa darahnya mendidih, bukan karena marah pada Gala, tapi karena marah pada dirinya sendiri. Gala benar. Bahkan dalam sabotase, ia tetap jujur. Ia tidak bisa menyembunyikan emosinya dari pria ini. ​"Anda seorang psikopat. Anda gila. Anda tidak bisa tahu isi kepala orang hanya dari secangkir kopi," Binta mencoba membela diri. ​"Saya tidak tahu isi kepala Anda. Saya hanya tahu kopi Anda. Dan kopi ini menunjukkan perjuangan. Perjuangan untuk menahan sesuatu yang ingin keluar," kata Gala, menunjuk notebook-nya. "Saya menulis tentang perjuangan. Saya tahu seperti apa rasanya." ​Binta merasakan amarahnya perlahan surut, digantikan oleh rasa lelah dan penerimaan. Pria ini tidak bisa diusir dengan cara yang normal. ​Binta mengambil cangkir Gala, lalu menuang sisanya ke wastafel. "Saya akan buatkan yang baru. Kopi ini adalah penghinaan terhadap Kafe Senja," kata Binta. ​"Tidak perlu," kata Gala. Ia tersenyum, senyum tulus yang memenangkan. "Saya menghargai kejujuran itu. Hari ini, saya belajar lebih banyak dari kopi yang 'menyakitkan' ini, daripada kopi yang 'penuh harapan' kemarin." ​Gala berdiri. Ia mengambil ranselnya. "Terima kasih untuk pelajarannya, Binta." ​Ia meletakkan selembar uang di meja bar. Uang yang sama persis nominalnya. ​"Untuk besok," kata Gala, sebelum Binta sempat protes. "Anda tidak mau berhutang, kan? Dan saya tidak mau melewatkan pelajaran dari seduhan Anda." ​Gala tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan berjalan keluar dari kafe. ​Binta hanya bisa melihat kepergiannya, lalu melihat uang di meja. Ia kalah telak. Ia gagal menyingkirkan Gala, dan ia gagal mengendalikan emosinya. ​Nita mendekat, matanya meleebar. "Mbak Binta, dia ini cenayang? Gimana dia tahu Mbak marah-marah saat bikin kopi itu?" ​Binta menghela napas panjang. Ia mengambil uang itu. "Dia cuma orang rese yang pintar, Nita." ​"Atau, dia adalah satu-satunya orang yang bisa Mbak Binta ajak bicara tanpa bicara," bisik Nita. ​Binta menatap portafilter di tangannya. Nita mungkin benar. Gala adalah jurnalnya yang ia tulis melalui kopi. ​Binta kembali ke gudang di sore hari, bukan untuk menangis, tapi untuk berpikir. Ia menatap sudut tempat kotak edelweiss itu disembunyikan. "​Jika Gala bisa membaca saya hanya dari kopi yang sengaja saya rusak, seberapa banyak lagi yang dia tahu?" ​Binta menyadari, garis batasnya sudah tidak ada. Gala sudah melangkah masuk. Dan yang paling menakutkan, kini Binta merasa ia butuh Gala untuk melihat kejujuran yang tidak bisa ia tunjukkan pada siapapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD