Bab 6. Pelanggaran Kedua

1286 Words
Binta berusaha keras untuk menjalani hari tanpa memikirkan Gala. Ia kembali ke rutinitas biasanya, yaitu menimbang biji, menyeduh, dan mengelap. Di dalam kepalanya, ia mengulang-ulang mantra “Gala hanya pelanggan. Dia hanya membayar di muka. Dia tidak penting.” ​Namun, uang kertas itu masih tersimpan di bawah laci kasir, sebuah pengingat jelas atas keterikatannya. ​Sore harinya, Binta memutuskan untuk sedikit melonggarkan kendalinya. Ia menyerahkan urusan kafe pada Nita dan pergi sebentar ke sebuah galeri seni kecil, tiga blok dari Kafe Senja. Binta suka mengunjungi tempat-tempat sunyi, yang dipenuhi warna-warna kalem, sebagai penyeimbang bagi kekacauan emosinya. ​Galeri itu kecil, hanya menampilkan karya-karya fotografi terbaru. Binta berjalan perlahan, menikmati kedamaian bersama ketenangan. ​Lalu tiba-tiba, Binta melihatnya. ​Di depan sebuah foto besar hitam-putih yang berada di pojok, Gala berdiri di sana. Ia mengenakan jaket kulit yang tidak ia kenakan di kafe. Postur tubuhnya tegak, tidak membungkuk seperti saat menulis. Wajahnya terlihat serius, dan ia sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi. ​Binta bersembunyi di balik pilar besar, ia tidak ingin terlihat. Mengintip Gala dari sana. ​Foto hitam-putih itu adalah sebuah karya yang sangat kuat, gambar seorang kakek tua yang sedang tertawa, dikelilingi oleh tumpukan sampah di sebuah TPA. Kontrasnya tajam, detailnya brutal, namun ekspresi kakek itu penuh sukacita yang murni. Foto itu bernama "Ekstraksi Harapan". ​Binta tertegun. Foto itu sangat jauh dari kesan penulis gelap yang suka menganalisis Yirgacheffe. ​Gala sedang menjelaskan sesuatu kepada wanita itu, dengan bahasa yang profesional dan penuh gairah. Binta menangkap beberapa kalimat, "...memotret kebenaran tanpa filters. Saya menggunakan flash di tengah hari bukan untuk menciptakan kontras, tapi untuk menembus kepalsuan bayangan. Ini adalah upaya untuk mengekstraksi harapan dari tempat yang seharusnya paling putus asa." ​Binta merasakan lututnya lemas. Gala tidak hanya sok puitis. Dia memang serius. Dia adalah seorang seniman yang percaya pada "ekstraksi", sama seperti Binta yang mengekstraksi rasa dari biji kopi. Dan Gala memang menggunakan flash itu bukan untuk mengganggu, tapi karena itu adalah bagian dari filosofi seninya. ​Ia melihat Gala dari sudut pandang yang berbeda, bukan seorang pengganggu di kafe, melainkan seorang profesional yang bersemangat. ​Binta buru-buru meninggalkan galeri sebelum Gala melihatnya. Pemandangan itu, membuat Binta semakin frustrasi. Ia lebih suka Gala tetap menjadi pria rese yang tidak memiliki kedalaman. ​“Jika dia bisa melihat harapan di TPA, seberapa mudah dia bisa melihat luka di kafe saya?” *** ​Singkat cerita, keesokan harinya, Binta kembali bekerja dengan tembok emosi yang baru dibangun. Ia harus menghadapi Gala dihari keempat. ​Tepat pukul sebelas, Gala tiba. Kali ini, ia terlihat lebih segar. Ia duduk di mejanya, dan Binta mengantarkan kopi 'Perenungan yang Penuh Harapan' dengan sikap kaku. ​"Terima kasih, Binta," sapa Gala. ​"Sama-sama. Sudah lunas," balas Binta, lalu buru-buru berbalik kembali ke meja bar. ​Gala tidak meminum kopinya. Ia hanya duduk, menatap cangkir itu. Binta merasakan tatapannya. ​Setelah lima menit dalam keheningan yang tegang, Gala berdiri dan berjalan ke meja bar. ​"Binta," panggilnya. ​Binta menghela napas, tanpa menoleh. "Saya sedang sibuk." ​"Saya tahu. Saya tidak akan meminta kopi," kata Gala. "Saya mau meminta sesuatu yang lain." ​Binta akhirnya menoleh, alisnya terangkat penuh curiga. ​"Apa lagi?" ​"Saya mau memotret Kafe Senja," kata Gala. ​Binta tertawa sinis. "Silakan. Tapi Anda tahu aturannya. Tidak ada flash." ​"Tidak. Saya mau memotret Anda dan kafe ini. Secara profesional. Untuk sebuah proyek," jelas Gala. ​"Jawabannya tidak. Saya tidak mau difoto," tolak Binta cepat. ​"Dengar dulu," potong Gala. "Ini bukan proyek iseng. Ada klien yang sedang mencari visual otentik dari kafe yang serius dengan seni seduh kopi. Saya merekomendasikan Kafe Senja." ​Binta diam. Ia adalah seorang barista yang serius. Pengakuan bahwa kafe miliknya dianggap serius oleh seorang profesional sedikit meluluhkan pertahanannya. ​"Saya tidak tertarik dengan promosi," kata Binta. ​"Ini bukan promosi. Ini adalah Pelanggaran Kedua yang saya janjikan," kata Gala, suaranya mengandung sedikit ejekan yang manis. ​"Apa maksud Anda?" ​Gala bersandar di konter, matanya bertemu dengan Binta. "Kemarin, Anda bilang saya melanggar batas. Anda benar. Hari ini, saya mau melanggar batas yang berbeda. Saya akan melanggar batas profesional. Saya meminta izin untuk memotret Anda saat menyeduh kopi. Tanpa flash. Hanya cahaya senja dan mesin espresso. Sebagai seorang seniman yang menghormati seniman lain. Bagaimana?" ​Binta menatapnya lama. Permintaan ini, dengan bahasa yang serius dan pengakuan terhadap keahliannya, adalah cara Gala melucuti senjatanya. Gala tidak lagi bermain sebagai penulis yang genit, tapi sebagai rekan seniman yang setara. ​"Kenapa harus saya? Kenapa tidak Nita saja?" tanya Binta, menunjuk Nita yang sedang pura-pura sibuk. ​"Karena Nita tidak menyeduh dengan amarah dan penyesalan yang manis," jawab Gala santai. "Anda adalah jiwa kafe ini, Binta. Anda yang saya lihat berjuang. Dan itu yang ingin saya tangkap. Energi dari seseorang yang membangun benteng di balik meja bar." ​Kata-kata itu, lagi-lagi menusuk Binta. Gala melihatnya sebagai "benteng". Itu benar, dan Binta membenci kejujuran itu. ​Binta memalingkan muka, mengelap sisa air di konter. Ia mempertimbangkan. Jika ia menolak, Gala akan kembali dengan permintaan yang lebih menyebalkan, atau kembali menganalisis kopinya. Jika ia setuju, ia akan membiarkan Gala melangkah lebih jauh ke dalam dunianya. ​Namun, ia teringat edelweiss. Ia harus menghadapi masa lalunya, dan mungkin, menghadapi Gala adalah caranya memaksa dirinya sendiri untuk jujur. ​"Baik," kata Binta berbisik. "Anda boleh memotret. Tapi hanya untuk sepuluh menit. Dan jika Anda menyebarkan foto itu tanpa persetujuan saya, Anda akan mendapat Yirgacheffe yang sengaja saya rebus sampai pahit sekali." ​Gala tersenyum. Senyum yang penuh kemenangan, dan sedikit lega. ​"Sepuluh menit. Terima kasih, Binta." Gala mengambil kameranya dari ransel. Kameranya lebih kecil dari yang ia gunakan di luar kafe. Ia tidak mengambil flash sama sekali. ​Gala mulai bergerak di sekitar meja bar, meminta Binta untuk kembali menyeduh kopi. ​"Pura-pura saja saya tidak ada," perintah Gala. ​Binta menurut. Ia mengambil biji kopi dan mesin grinder. Ia kembali ke rutinitas, tetapi kini setiap gerakannya terasa disorot. ​Gala berjongkok di lantai, menempatkan lensa kameranya tepat di atas permukaan konter, menangkap pantulan cahaya pada mesin espresso Binta. Ia memotret jari Binta yang berlumur kopi saat mengatur portafilter. Ia memotret mata Binta yang fokus pada timbangan digital. ​"Bagus. Persis seperti itu. Jangan lihat saya," bisik Gala. ​Saat Binta menuangkan air panas, manual brew yang ia buat kali ini terasa berbeda. Ia tidak lagi marah. Ia hanya fokus pada seduhannya, pada keahliannya, mencoba menyajikan sesuatu yang benar-benar sempurna di bawah pengawasan ketat Gala. “​Selesai.” Sepuluh menit berlalu. Gala menurunkan kamera. ​"Waktu habis," kata Binta, suaranya sedikit tegang. ​Gala mengangguk. Ia melihat ke belakang kameranya. Ekspresinya serius. "Sempurna. Energi yang kuat." ​Gala kembali ke mejanya, mengambil cangkir Yirgacheffe yang sudah dingin, dan meminumnya hingga tandas. ​"Anda tidak akan menyeduh yang baru?" tanya Binta. ​"Tidak. Kopi yang ini sudah cukup. Karena sekarang, saya punya cerita untuk ditulis," kata Gala, menunjuk ke notebook-nya. "Terima kasih, Binta. Sampai besok. Jangan lupa simpan uangnya." ​Pria rese itu lalu pergi. ​Binta berdiri di meja bar. Ia merasa lelah, seperti baru selesai berlari maraton. Ia telah membiarkan Gala masuk lebih jauh. Gala tidak hanya mengambil uangnya, kini ia mengambil citra Binta. ​Nita mendekat. "Mbak Binta, dia serius banget ya motretnya. Tapi kok dia cuma minum kopi yang sudah dingin?" ​Binta menatap cangkir kosong Gala. "Dia tidak minum kopi untuk rasa, Nita. Dia minum kopi untuk cerita." ​Binta menyadari, permainan telah berubah. Gala sudah melewati batas kafe. Dan tanpa disadari, Binta telah setuju untuk menjadi subjek cerita Gala. ​Ia merasa terancam, tetapi di saat yang sama, ia merasakan ada beban berat di pundaknya yang sedikit terangkat, seolah Gala telah membagi beban itu bersamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD