Pagi hari yang mendung, Binta sengaja tidak menyimpan uang muka Gala. Ia membiarkannya tergeletak di bawah laci kasir, di tempat Gala meninggalkannya. Ia berpikir, jika pria itu tidak datang, ia bisa menganggap uang itu sebagai sumbangan, dan melupakan seluruh interaksi ini.
Ia membersihkan mesin espresso dua kali. Ia menyusun ulang tumpukan cangkir. Ia bahkan membetulkan posisi kaktus di sudut, tempat favorit Gala. Setiap kegiatannya adalah upaya untuk menyibukkan diri.
Pukul sebelas lewat sepuluh menit. Kafe Senja ramai. Binta melayani pelanggan lain, tetapi matanya terus melirik ke pintu.
"Mbak Binta, ada apa? Kok tegang kayak mau ujian nasional?" tanya Nita sambil membawakan nampan kosong.
"Saya tidak tegang. Hanya .., ada pesanan khusus yang harus saya siapkan," jawab Binta, berbohong.
"Pesanan khusus? Tuan Gala terlambat sepuluh menit, Mbak. Biasanya dia tepat waktu kayak kereta api Jepang," komentar Nita, menyadari kegelisahan bosnya.
Binta menatap Nita tajam. "Saya tidak peduli. Dia bisa datang atau tidak. Tapi lebih baik tidak."
"Oh, ya? Tapi kalau dia tidak datang, kenapa Mbak Binta mondar-mandir selama lima belas menit terakhir?"
Binta mencengkeram kain lapnya. Nita benar. Keterlambatan Gala mengganggu iramanya. Rutinitas yang Binta benci, kini justru menjadi sesuatu yang ia tunggu-tunggu. Gala telah menciptakan ketergantungan.
“Saya cuma tidak suka rutinitas saya dirusak,” pikir Binta. “Bukan karena saya peduli pada si rese itu.”
Pukul sebelas dua puluh menit. Pintu kembali berdentang.
Gala masuk. Ia mengenakan kemeja putih kasual, dan Binta merasakan sedikit kelegaan yang langsung ia tutupi dengan rasa kesal yang baru.
Namun, Gala tidak sendirian.
Di sebelahnya, berjalan seorang wanita. Wanita itu tinggi, rambutnya digelung rapi, mengenakan blazer merah marun yang elegan dan membawa sebuah portofolio kulit yang mahal. Dia terlihat seperti editor majalah mode. Dia sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang akan menghabiskan waktu di kafe kecil yang tersembunyi.
Gala berjalan santai ke meja bar. Binta merasakan tatapan wanita itu menilai segala sesuatu di Kafe Senja.
"Selamat siang, Binta. Maaf saya terlambat," sapa Gala, suaranya tenang menggema di kafe.
Binta tidak membalas sapaannya, matanya terpaku pada wanita di sebelah Gala.
"Saya tidak tertarik pada alasan Anda terlambat," kata Binta dingin. "Anda sudah membayar untuk kopi. Mau yang mana?"
"Tentu saja Perenungan yang Penuh Harapan. Hari ini saya sangat membutuhkan harapan," kata Gala, lalu menoleh ke wanita di sebelahnya.
"Binta, kenalkan. Ini adalah Kinara. Dia adalah editor saya untuk proyek 'Ekstraksi Harapan' yang saya ceritakan kemarin," kata Gala.
Kinara tersenyum sopan. Senyum yang terukur, tanpa kehangatan yang berlebihan. "Saya sudah melihat beberapa hasil test shot Gala. Kafe ini memang memiliki atmosfer yang luar biasa, dan .., Anda memiliki karakter yang kuat di balik bar. Pilihan yang bagus, Gala."
Kinara menatap Binta, tatapan yang membuat Binta merasa seperti objek di pameran. Kinara memegang lengan Gala dengan cara yang akrab.
“Editor?” Binta mencibir dalam hati. Lebih seperti pasangan yang bekerja sama. Kinara mewakili dunia profesional Gala, dunia yang jauh lebih besar dan lebih serius dari Kafe Senja.
"Terima kasih atas pujiannya," kata Binta, menjaga suaranya tetap datar. "Pesanan Anda, Nona?"
Kinara melirik Gala, lalu tersenyum tipis. "Oh, saya tidak pesan kopi. Saya hanya ingin melihat 'aset' baru Gala. Tapi saya akan ambil air mineral saja. Gala banyak bercerita tentang keahlian Anda."
Gala hanya tersenyum tipis, seolah menikmati tontonan ini.
Binta merasakan gejolak aneh di perutnya. Itu bukan kecemburuan. Itu adalah rasa tidak suka murni terhadap orang luar yang meremehkan dunianya, dan rasa kesal karena Kinara telah mendapatkan akses ke dunia profesional Gala, sementara Binta hanya mendapat sisi penulis gelap yang rese.
Binta mengambil biji Yirgacheffe untuk Gala. Tentu saja, ia akan membuat kopi yang sempurna hari ini. Bukan karena Gala pantas mendapatkannya, tetapi karena ia ingin Kinara tahu bahwa Binta adalah seorang profesional yang serius, bukan sekadar "aset" Gala.
Binta menyeduh kopi itu dengan kecepatan dan presisi tertinggi. Ia menggunakan suhu air yang ideal, takaran yang sempurna. Setiap gerakan adalah pernyataan.
Saat ia meletakkan cangkir kopi itu di depan Gala, Kinara mengambil segelas air mineral dan duduk di sudut, di tempat Gala biasa menulis.
"Silakan," kata Binta, tidak sabar.
Gala menyesap kopi itu. Matanya memejam. Lama sekali membuat Binta menunggu, Gala malah mematung.
Gala membuka mata. Wajahnya berseri-seri.
"Wow," kata Gala, pelan. "Ini bukan lagi 'Penyesalan yang Manis'. Ini adalah Kejujuran yang Murni, Tanpa Kompromi. Ada kekuatan, tapi juga ada kehangatan yang tersembunyi."
Binta merasakan panas di pipinya. Ia telah gagal lagi. Ia mencoba bersikap acuh tak acuh, tapi Gala bisa membaca passion dan perlawanan-nya dari kopi.
Kinara, yang duduk di sudut bertepuk tangan pelan. "Luar biasa, Gala. Saya mengerti kenapa Anda sangat menyukai tempat ini."
Gala mencondongkan tubuh ke arah Binta, merendahkan suaranya.
"Anda ingin tahu kenapa saya terlambat?"
Binta mendengus, "Tidak."
"Saya menunggu," bisik Gala. "Saya menunggu beberapa jam untuk hasil test shot kemarin. Saya harus memastikan Anda menyetujui pemotretan itu sebelum saya membawa Kinara ke sini. Anda tidak akan difoto tanpa izin Anda."
Gala mengambil segelas air mineral Kinara dari meja bar, memberikannya kepada Kinara, lalu ia duduk.
Binta terdiam. Gala telah mengorbankan waktu berharganya untuk mendapatkan persetujuan Binta. Itu bukan tindakan seorang pengganggu, tapi seorang profesional yang menghormati batas, meskipun ia terus mendorongnya.
Saat Gala dan Kinara mulai membicarakan tentang layout dan klien, Binta melihat interaksi mereka. Kinara cantik, cerdas, dan berbagi dunia yang sama dengan Gala. Mereka berdua sama-sama fokus pada seni dan citra.
Binta merasakan gelombang rasa tidak nyaman. Cemburu? Tidak mungkin. Binta tidak tertarik pada Gala.
Ini adalah cemburu profesional, ia meyakinkan dirinya sendiri. Ia cemburu karena Gala memiliki rekan yang sepenuhnya memahami gairah Gala, sementara Binta harus menyembunyikan gairahnya di balik tembok.
Satu jam berlalu. Kinara tersenyum pada Gala, menyelesaikan pembicaraan.
"Baiklah, saya harus pergi. Saya tunggu final set Anda, Gala," kata Kinara, lalu ia melirik Binta. "Terima kasih, Binta. Anda benar-benar sebuah 'aset' yang menarik."
Kinara pergi.
Binta segera mendekati Gala. "Jangan gunakan kata 'aset' itu lagi. Itu meremehkan."
Gala mendongak. "Kinara hanya profesional. Dia tidak bermaksud buruk. Dia menghargai nilai. Dan Anda memang bernilai."
Binta menggeleng. "Saya bukan nilai. Saya pemilik kafe ini. Saya tidak mau terlibat lebih jauh dari hubungan barista dan pelanggan. Tidak dengan Anda, tidak dengan editor Anda, tidak dengan proyek Anda."
Gala menutup notebook-nya. Ekspresinya serius lagi.
"Saya mengerti. Tapi sayangnya, Binta. Anda sudah terlibat."
Gala mengambil selembar uang lagi dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja. Untuk besok.
"Saya akan kembali besok, Binta. Dan saya berjanji, saya tidak akan menganalisis kopi Anda. Tapi tolong, buatkan saja kopi yang jujur. Kopi yang Anda buat hari ini adalah kopi terbaik yang pernah saya minum di kafe ini," kata Gala, dan kali ini, ia pergi tanpa senyum, meninggalkan Binta dengan konflik batin yang semakin membesar.
Binta mengambil uang itu. Gala kini membeli hari keenam. Dan yang paling menakutkan, Gala telah benar-benar berhasil, tanpa menyentuh Binta, membuat Binta merasakan kecemburuan dan keharusan untuk tampil sempurna.