Bab 8. Pelanggaran Ketiga (Oleh Binta)

1321 Words
"Biar saya yang menyiram kaktus itu, Nita." Binta mencegah Nita, perempuan itu terlihat lelah dengan titik-titik keringat yang menempel di dahi, padahal ruangan ini berhembus AC. Nita langsung mundur, menyimpan kembali tangannya. "Baik, Bos!" Binta melihat notebook Gala tergeletak di meja di mana tadi Kinara duduk. ​Notebook itu kecil, terbungkus kulit gelap, sama seperti yang selalu Gala gunakan. Itu bukan milik kafe. Itu adalah milik seorang Gala, tertinggal di area kafe yang biasanya Binta bersihkan. ​Nita mendekat, "Aduh, Tuan Gala ketinggalan buku 'sakral'nya. Mau saya simpan, Mbak?" ​"Tidak usah," jawab Binta cepat. Ia mengambil buku itu. ​"Kenapa? Nanti kalau Tuan Gala datang, biar saya kasihkan." ​"Dia tidak akan datang. Dia sudah bayar untuk besok. Biar saya yang urus. Ini urusan profesional," kata Binta, memberikan tatapan yang membuat Nita langsung kembali mundur. ​Binta membawa notebook itu ke kantor kecilnya. Sebenarnya, itu hanya gudang kopi kecil dengan meja reyot, namun ia menyebutnya kantor. ​Ia meletakkan buku itu di atas tumpukan berkas. "​Saya akan menunggu sampai besok," pikir Binta. "Jika dia datang, saya akan berikan. Jika tidak, saya akan kirim." ​Namun, buku itu seolah memancarkan magnet. ​Setelah kafe tutup di sore hari, Binta duduk di stool bar. Ruangan itu sunyi, hanya ada suara mesin pendingin kopi. Binta menatap notebook di atas meja. ​Isi buku itu adalah teka-teki Gala. "Isinya pasti tentang 'Perenungan yang Penuh Harapan', 'Penyesalan yang Manis', dan 'Kejujuran yang Murni'." Binta menebak-nebak, menatap notebook itu dari jarak dua meter. Selama delapan hari, Gala telah melihat ke dalam jiwa Binta, membaca emosinya melalui setiap seduhan kopi. Sekarang, Binta punya kesempatan untuk membalik keadaan, melihat ke dalam pikiran Gala. "Ok. Apa yang sebenarnya dia tulis ...." ​Binta mengambil notebook itu. Jemarinya gemetar saat menyentuh sampul kulitnya. ​"Saya hanya memeriksanya, memastikan tidak ada informasi penting yang harus segera dikembalikan," Binta meyakinkan dirinya sendiri, sebuah alasan yang sangat klise. ​Ia membuka halaman pertama. Isinya adalah tulisan tangan yang rapi dan artistik. Bukan puisi. Itu adalah daftar jadwal pemotretan, rencana perjalanan ke luar kota, dan anggaran biaya. Gala memang seorang profesional sejati. ​Binta berniat menutupnya. Lalu, ia melihat pembatas halaman dari kertas kecil terselip di tengah. ​Alisnya mengkerut saat membuka halaman itu. Halaman itu dipenuhi sketsa cepat dan catatan pribadi. ​Di sebelah kiri, ada sketsa wajah seorang wanita. Wanita itu memiliki garis rahang yang keras dan mata yang dingin. "Ini .., ini saya?" Binta kaget. Sketsa itu menangkap raut ketegasan Binta di balik meja bar, lengkap dengan rambut yang diikat ketat dan ekspresi yang tidak sabar. ​Di bawah sketsa itu, ada tulisan, bukan puisi yang sering dia katakan, melainkan analisis. ​“Wanita itu, Binta. Menggunakan kopi sebagai benteng, bukan persembahan. Dia menyeduh dengan amarah, tetapi amarahnya adalah energi yang terkontrol. Dia takut pada kejujuran, bahkan kejujuran rasa. Rasa pahit yang ia salahkan pada biji, sebenarnya adalah rasa pahit yang ia simpan sendiri.” "Apa​?" Binta menelan ludah. Itu adalah Pelanggaran Batas Kedua yang tertulis, bukan yang terucap. Gala tidak hanya memotretnya, dia juga menganalisis jiwanya. ​Binta membalik halaman. ​Halaman itu kosong, kecuali satu kata di tengahnya, ditulis dengan pena tebal, seolah ditekan dengan emosi yang kuat. "​EDELWEISS" Binta terkesiap. Ia hampir menjatuhkan notebook itu. ​Edelweiss. Kata itu. Nama yang ia gunakan untuk kafe pertamanya. Kata yang sudah ia kubur di bawah lapisan beton emosi. ​Binta menyentuh kata itu di buku Gala. "Bagaimana? Bagaimana Gala bisa mengetahui nama yang ku gunakan lima tahun lalu di kota lain?" Binta mengingat-ingat masa itu. Tidak ada plang, tidak ada catatan. Itu adalah rahasia yang ia bagi hanya dengan dirinya sendiri dan Bara. ​Ia membaca ulang halaman sebelumnya. "Dia takut pada kejujuran..." ​Binta tiba-tiba merasa terpojok. Seolah seluruh Kafe Senja adalah mikroskop dan Gala adalah ilmuwan yang sedang membedah dirinya. Gala tidak datang ke kafe untuk kopi. Dia datang untuk mengupas Binta. "Ini tidak benar!" ​Dengan tangan gemetar, Binta membalik beberapa halaman ke belakang lagi. Ia mencari petunjuk. Apakah ada nama Bara? ​Tiba-tiba, ia menemukan halaman lain yang berisi catatan. ​“Pertanyaan yang sebenarnya bukan kenapa dia menyeduh dengan amarah, tapi siapa yang membuatnya menyeduh dengan penyesalan. Setiap pagi, dia berharap seseorang akan datang dan memesan kopi itu. Kopi untuk orang yang ia inginkan kembali, tetapi ia usir pergi. Sebuah kopi yang hanya bisa diminum oleh seorang pengkhianat.” ​Binta menutup buku itu dengan keras. Jantungnya berdebar kencang. Wajahnya memanas. ​ "Gila! Dia gila! Dia bukan seniman, dia adalah paranormal!" ​Ketakutan Binta kini berubah menjadi kemarahan dingin. Gala telah melewati batas sejauh ini, menggali luka lama Binta, dan mengaitkannya dengan menu kopinya. ​Dia harus mengembalikan buku ini sekarang. Dia tidak bisa menunggunya sampai besok. Dia harus menghadapi Gala, bukan di belakang meja bar, tapi di dunianya. Dia harus memberitahu Gala bahwa permainan ini sudah berakhir. ​Binta mengambil tasnya, memasukkan notebook itu, dan mengambil kunci mobil. Ia harus mencari Gala di satu-satunya tempat yang ia ketahui di luar Kafe Senja, yaitu Galeri "Ekstraksi Harapan". "​Saya akan mengakhiri ini. Hari ini juga." Binta pergi. Kakinya menancap gas mobilnya dengan tekanan emosi, cukup untuk membuat bulir gerimis mental dari kendaraannya. ​ Sampai di sana, galeri sudah tutup, tetapi ada cahaya di bagian belakang. Binta menekan bel, dan tak lama pintu terbuka, dan yang mengejutkan, itu bukan Gala. Itu adalah Kinara, editor yang elegan itu, yang kini mengenakan kaos longgar dan sedang memegang kuas cat. Perempuan itu menatap Binta. ​"Maaf, galeri sudah tutup," kata Kinara, senyumnya tidak seramah kemarin. ​"Saya mencari Gala," kata Binta, suaranya sedikit terengah. "Dia meninggalkan ini." Binta mengangkat notebook kulit itu. ​Kinara melihat notebook itu dan matanya sedikit menyipit. "Oh, itu ... Black Book-nya. Dia pasti panik mencarinya. Dia ada di studio, di belakang. Tapi dia sedang sibuk, apa Anda bisa datang besok?" ​"Tidak. Saya harus memberikannya sekarang," desak Binta, menatap Kinara dengan penuh tekad. ​Kinara mengangkat bahu. "Terserah. Ikuti saya." ​Kinara memimpin Binta melewati lorong gelap, menuju sebuah pintu baja di belakang. Binta bisa mendengar suara gemerisik air dan suara musik jazz yang sangat pelan dari dalam. ​Kinara membuka pintu itu. "Gala, teman Anda datang. Dia membawa .., Black Book Anda." ​Gala duduk di tengah ruangan studio yang luas, yang dipenuhi kamera, lensa, dan cetakan foto yang berserakan. Ia tidak sedang memotret. Ia sedang mencetak foto di kamar gelap kecil. ​Namun, yang membuat Binta terdiam adalah apa yang ia lihat di tengah ruangan. ​Di atas penyangga lukisan besar, bukan foto TPA kemarin, tapi sebuah lukisan. Lukisan seorang wanita muda yang tertawa di tengah hamparan bunga liar yang didominasi warna putih. Bunga itu adalah bunga edelweiss. ​Binta melangkah maju. "Gala," panggilnya, suaranya bergetar. ​Gala menoleh, tangannya basah oleh cairan kimia pencetak foto. Ekspresinya terkejut. ​"Binta? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Gala. ​Binta berjalan lurus, bukan ke arah Gala, melainkan ke arah lukisan. Ia menatap lukisan itu. Itu bukan sekadar lukisan. Lukisan itu seolah menangkap ingatan Binta tentang Edelweiss-nya. ​"Bagaimana kamu tahu .., tentang Edelweiss?" tanya Binta, suaranya nyaris hilang. ​Gala hanya menatapnya, lalu matanya jatuh ke notebook di tangan Binta. ​"Anda membukanya," kata Gala. Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. ​Binta tidak menyangkal. Ia menatap lukisan itu, lalu menatap Gala. ​"Saya mau kamu berhenti. Jauh dari saya. Jauh dari kafe saya. Saya tidak tahu siapa kamu, tapi kamu tidak punya hak untuk menggali ini. Jawab saya, bagaimana kamu tahu?" "Hah, Binta ...." ​Gala menghela napas. Ia mematikan lampu merah kamar gelap dan berjalan mendekati Binta. Kinara diam-diam menutup pintu, meninggalkan mereka berdua. ​"Saya tahu tentang Edelweiss karena saya pernah ke sana, Binta," kata Gala, suaranya rendah dan jujur. "Tepat sebelum kafe itu ditutup. Saya adalah pelanggan terakhir Kafe Edelweiss." ​Gala menatap Binta. "Saya bukan paranormal. Saya cuma pria yang tahu rasa kopi yang sempurna .., dan rasa penyesalan yang manis."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD