Bab 9. Pelanggaran Edelweiss

1074 Words
"Apa?" ​Binta berdiri terpaku. Studio itu terasa sempit dan pengap. Bau cairan kimia bercampur dengan aroma parfum Kinara membuatnya sakit kepala, tetapi yang paling mendominasi adalah bau debu dari masa lalu yang baru saja Gala angkat. ​"Anda .., pelanggan terakhir Edelweiss?" tanya Binta, suaranya pelan dan tidak percaya. ​Gala mengangguk. Ia mengusap tangannya yang basah ke kain, wajahnya kembali pada ekspresi serius. ​"Tentu saja kamu tidak akan ingat. Itu adalah hari terakhir kafe itu buka. Saat itu hujan, kamu terlihat putus asa. Dan kafe itu kosong, aku adalah satu-satunya orang di sana," jelas Gala. Ia tidak lagi berkata formal seperti sebelumnya. ​Binta mengingat hari itu. Itu adalah hari terburuk dalam hidupnya. Hari di mana ia menutup kafe impiannya. Hari di mana ia menerima kekalahan dan mengemas semua sisa-sisa dirinya dalam sebuah kotak usang. ​"Kenapa kamu tidak bilang?" tuntut Binta. Kemarahannya kembali, bercampur dengan kebingungan. ​"Apa yang harus kukatakan? 'Hai, Binta. Aku melihatmu hancur lima tahun lalu, dan sekarang aku akan menghantuimu di kafe barumu?' Itu tidak akan berhasil," jawab Gala. ​"Dan menghantuiku dengan memesan 'Perenungan yang Penuh Harapan' adalah ide yang lebih baik?" ​Gala berjalan ke cangkir yang diletakkan di sudut, mengisi cangkir dengan air dari keran, lalu meminumnya. ​"Aku memesan kopi itu karena, saat itu, itulah yang kamu sajikan. Di Edelweiss, di hari terakhir, aku memesan Manual Brew dari biji yang sangat asam. Kamu bilang itu 'Perenungan yang Asam'. Kopi itu sangat buruk, Binta. Tapi itu adalah kopi yang paling jujur yang pernah kuminum," kata Gala. Pria itu menatap Binta. "Saat aku melihatmu di Kafe Senja, menyeduh Yirgacheffe, aku melihat keahlian yang sama, tapi kali ini dipenuhi kemarahan dan penolakan. Aku hanya ingin tahu, apa yang terjadi pada barista yang putus asa itu." ​Binta merasakan napasnya tertahan. Gala tidak hanya mengamati Binta di Kafe Senja, dia membandingkannya dengan Binta yang dulu, Binta yang Edelweiss. ​"Kamu tidak tahu apa-apa tentang Edelweiss," kata Binta, mencoba memutus ikatan emosional ini. ​"Aku cukup tahu," balas Gala, tenang. "Aku tahu kafe itu ditutup bukan karena bangkrut, tapi karena kamu merasa dikhianati. Aku melihatnya di matamu, saat kamu membungkus mesin espresso itu, Binta. Dan aku melihatnya lagi di notebook-ku, saat aku menulis kata 'pengkhianat'. Rasa kopimu mengulang cerita yang sama." ​Binta merasakan tembok pertahanannya retak. Ia melanggar batas Gala, dan kini Gala membalasnya dengan mengungkap trauma terdalam Binta. ​"Ini ada barangmu," kata Binta, meletakkan notebook itu di atas meja dengan sedikit kasar, membantingnya dengan sedikit penekanan. "Dan menjauhlah dari kafe saya. Saya tidak mau jadi subjek analisasimu." ​"Kenapa? Karena aku benar?" tantang Gala. Ia mengambil buku itu, lalu menatap Binta. "Aku datang ke Kafe Senja bukan untuk mengganggumu. Aku datang karena aku menyukai kafe-kafe yang jujur. Dan Kafe Edelweiss, kafe itu memiliki kopi yang jujur. Sampai ia ditutup." ​Gala memandang lukisan Edelweiss di easel. ​"Siapa yang membuatmu menutup Edelweiss, Binta? Apakah itu pria yang memesan kopi itu bersamamu hari itu?" ​Binta terdiam. Gala tidak hanya melihat Binta, dia juga melihat Bara. ​"Tinggalkan dia dari cerita ini," pinta Binta, samar-samar suaranya berubah menjadi permohonan. ​Gala menggeleng. "Aku tidak bisa. Dia adalah bagian dari lukisan ini. Pria yang memesan kopi manis itu. Pria yang kamu panggil Bara." "Tidak ada hubungannya denganmu." Binta melipat kedua tangannya di d**a. ​Nama itu, yang disebut Gala, terasa seperti tamparan. ​Gala melanjutkan, "Aku ingat dia. Pria yang sangat periang. Dia memesan 'Kopi Manis untuk Kebahagiaan', sementara kamu memesan 'Perenungan yang Asam'. Kontras kalian berdua sangat tajam. Hari itu, dia datang, memesan kopi, lalu kamu menyuruhnya pergi. Setelah itu, kamu menangis dan menutup kafe. Apa yang dia lakukan?" ​Binta menunduk, tidak sanggup menatap mata Gala. ​"Dia pergi. Dan dia tidak kembali," kata Binta, suaranya dipenuhi kekosongan. "Dia pergi, dan kafe itu mati." ​"Dia meninggalkanmu di saat kamu paling membutuhkannya," simpul Gala. ​"Tidak!" Binta membantah, mengangkat kepalanya. "Dia tidak meninggalkanku. Saya yang menyuruhnya pergi!" ​Gala mengangkat alisnya, terkejut. "Kenapa?" ​Binta tidak menjawab. Rahasia itu terlalu dalam. Trauma itu masih segar. Itu bukan hanya tentang Bara yang pergi, tapi tentang kepercayaannya yang hancur. ​"Itu bukan urusanmu. Ini bukumu. Dan sekarang kamu tahu tentang Kafe Edelweiss. Urusan kita selesai," kata Binta. Ia berbalik, mencoba pergi. ​"Tunggu," kata Gala. Ia berjalan cepat, mencekal pergelangan tangan Binta dengan lembut, menghentikannya. ​"Kenapa kamu harus berlari lagi, Binta?" tanyanya. ​Binta menatap pergelangan tangannya, lalu ke mata Gala. Tatapannya intens, tetapi tidak mengancam. ​"Aku tidak lari," jawab Binta. ​"Kamu lari. Kamu lari dari kopi asam, kamu lari dari nama Edelweiss, kamu lari dari Bara, dan sekarang kamu lari dari aku yang baru saja memberimu jawabannya," kata Gala. "Binta, aku tahu kamu menyuruhnya pergi. Tapi aku juga tahu, kamu menyeduh kopi yang paling jujur untuknya. Kopi yang kamu harapkan akan diminum oleh seorang 'pengkhianat' untuk kembali." ​Gala melepaskan pergelangan tangan Binta. ​"Aku akan kembali ke Kafe Senja besok, Binta. Dan aku akan memesan kopi yang sama. Tapi tolong, bisakah kamu berhenti menyembunyikan dirimu? Jika kamu terus membuat kopi dengan emosi yang berlawanan dengan apa yang kamu inginkan, kamu tidak akan pernah bisa maju," kata Gala. "Terima kasih untuk bukuku." ​Binta berdiri di tengah studio, tubuhnya gemetar. Ia tidak tahu apakah itu karena amarah atau karena kelegaan. Gala, pria yang rese itu, telah melihat rahasia terbesarnya dan memaksanya mengakuinya. "Tidak masuk akal!" ​Binta meninggalkan studio, Kinara hanya tersenyum tipis saat Binta melewati pintu baja. ​Binta mengemudi kembali ke Kafe Senja dalam keheningan. Sampai di sana kafe sudah kosong, juga gelap. ​Ia masuk ke gudang, tempat kotak kenangan edelweiss tersimpan. Bints membuka kotak itu. Di dalamnya, ada foto lama. Foto dirinya dengan seorang pria, Bara, sedang tertawa di depan plang kayu bertuliskan "Edelweiss". ​Di samping foto itu, terselip sebuah kartu nama yang sudah usang. Kartu nama itu milik Bara, dengan tulisan tangan. ​Binta mengambil kartu nama itu, dan menatapnya. Ia tiba-tiba menyadari, bahwa Gala—sosok dark poet yang mengganggu—telah berhasil mengeluarkannya dari persembunyiannya. Ia dipaksa untuk kembali menatap nama seseorang. "Bara," lirih Binta. ​Saat itu, ponsel Binta berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. ​Nomor Tidak Dikenal: ​"Hai, Binta. Saya mendengar Kafe Senja di kota ini sedang ramai. Yirgacheffe-nya harus dicoba. Aku akan mampir. ​Bara." ​Binta menjatuhkan ponselnya. Gala telah membuka pintu masa lalu, dan sekarang, masa lalu itu datang kembali dalam bentuk yang paling nyata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD