Hari dimana Andra datang ke WR Grup, ia menghabiskan waktunya selama sehari disana.
Seharian ini Andra telah mengevaluasi anak perusahaannya secara rinci. Mungkin akan ada waktu lagi, Andra mengunjungi Wr grup lagi.
Ketika waktunya pulang, Andra tidak sengaja berpapasan dengan Giska yang sedang berjalan kaki.
" Pelan-pelan, Rom! " Ujar Andra, terhadap sekertaris pribadinya yang sedang mengemudi.
Romi, sekertaris itu akhirnya menurunkan laju mobilnya dan menepi sesuai perintah Andra.
Tindakan tak biasa Andra, lagi-lagi membuat Romi syok. Sejauh ini, Romi yang paling tahu soal Andra yang tak memintanya untuk menyelidiki Giska.
" Apa Tuan Andra, tertarik ya sama gadis ini? " Monolog Romi, dalam hati. Tak ada yang bisa ia katakan, selain diam dan menyaksikan pemandangan langka tersebut.
Kini mobil berjenis bentley itu menepi tepat di sebelah Giska. Wanita itu terlihat bingung karena tiba-tiba ada mobil Ceo perusahaannya berhenti.
" Apa kamu butuh tumpangan? "
Pertanyaan Andra seketika membuyarkan lamunan Giska.
" Tidak perlu, Tuan. Haltenya sudah dekat, terimakasih untuk tawarannya! " sahut Giska, sopan.
" Baiklah kalau begitu. Ayo jalan, Rom! " tanpa berkata apa-apa lagi, Andra meminta Romi untuk melajukan kembali mobilnya.
Lalu Giska pun sudah hampir tiba di Halte busway yang akan ia naiki.
" Apa dia bodoh? Banyak Wanita yang ingin mendekati Tuan, tapi tidak ada satupun yang berhasil. Sepertinya dia nggak normal, karena menolak tawaran Tuan Andra! " Gumam Romi, dalam hati. Netranya sedikit mencuri-curi pandang atasannya, melalui kaca spion.
" Apa kamu mau mengatakan sesuatu? " Tanya Andra, merasakan tatapan Romi
" Ti-tidak Tuan! " Romi kini memfokuskan pandangannya, lurus kedepan.
Tak terasa hari telah berganti malam. Seperti yang sudah di rencanakan, kali ini Giska pergi ke Cafe Alamanda untuk bertemu dengan teman kerjanya.
Setibanya disana, sudah ada Putri dan Winda yang menunggunya.
" Zaki belum datang, Put, Win? " Tanya Giska, baru saja datang. Wanita itu lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan.
" Katanya sih lagi di jalan, Kak. Mungkin sebentar lagi sampai, " Sahut Putri, melihat ponselnya.
" Oh, kalau begitu kita pesan makanan aja dulu sambil menunggu Zaki. " Tutur Giska, menyarankan.
" Oke Kak, aku tanyakan dulu dia mau memesan apa?! " Putri kembali mengetik sesuatu di ponselnya, seperti mengirim pesan pada Zaki.
Mereka lalu memesan menu makanan dan juga minuman sesuai selera mereka.
Setelah menunggu cukup lama, Zaki akhirnya tiba di cafe Alamanda. Disana, Giska mulai membahas event yang akan di laksanakan minggu ini.
Giska dengan semangat menciptakan tim-nya sendiri, untuk memenuhi target bulan ini.
Mereka bertiga tentu juga merasa senang, karena Giska mau membimbingnya menjadi karyawan yang baik.
" Baiklah, segitu saja. Kalau ada pertanyaan silahkan di tanyakan, saya akan menjawabnya " Ujar Giska, menutup laptopnya.
" Kalau aku mau nanya soal pribadi boleh nggak, kak? Hehe " Celetuk Putri, di susul dengan suara tawa bodohnya.
" Boleh, apa yang kamu ingin tanyakan Put? " tanya Giska, menatap Putri.
Sejenak Putri ragu, ia lebih dulu melirik ke arah Zaki dan juga Winda.
" Banyak gosip beredar, katanya Kakak pacaran sama anak pemilik perusahaan. Apa itu benar, Kak? "
Mendengar itu, Giska sedikit terkejut. Pasalnya selama ini ia menyembunyikannya dari siapapun. Namun sebisa mungkin, ia mempertahankan sikap tenangnya.
" Oh, itu nggak benar kok. Saya masih single! Apa ada pertanyaan lagi? " Giska dengan tenang mengakui bahwa dirinya masih single.
Tak ada yang salah dari ucapannya. Lagi pula Giska memang sudah putus dengan Nicolas. Hanya saja, Giska tak mengatakan bahwa dirinya pernah berpacaran dengan anak pemilik perusahaan.
" Nggak ada lagi kok, Kak. Aku jadi tau, kalau ini semua cuma gosip aja, hehe. " Kekeh Putri, setelah mendapat jawaban dari Giska.
" Aku malah nggak tau, kalau ada gosip seperti itu " Begitu pula dengan Giska yang hanya terkekeh, mendengar orang-orang di perusahaan membicarakan dirinya.
" Maklum lah, kakak kan cantik dan punya pencapaian bagus di kantor. Jadi wajar kalau Banyak yang membicarakan Kakak, " Timpal Zaki, memuji atasannya.
" Ah, kamu bisa aja, Ki. " Giska hanya sedikit malu, mendengar hal itu.
" Em, apa Kak Giska beneran jomblo? " tanya Zaki, memastikan.
" Iya, apa kamu mau mengenalkan ku sama seseorang? " Sahut Giska, terkekeh menanggapi ucapan Zaki.
Setelah lama membicarakan pekerjaan, mereka lanjut menghabiskan waktunya sampai malam.
Hingga tanpa terasa, tibalah waktu pada hari minggu. Seperti yang sudah di bicarakan sebelumnya, Winda dan Putri kini sudah berada di lokasi Event.
Lalu di susul Zaki dan Giska yang baru saja datang bersama dengan tiga unit sepeda motor untuk sample yang akan di pamerkan
Bermodalkan tenda, Giska mengatur timnya untuk mempromosikan penjualannya.
Dari matahari yang masih di bawah, hingga kini matahari semakin meninggi, Acara semakin ramai. Hiburan konser band lokal, menjadi pemandangan Giska dan Tim-nya.
" Kak, kita udah nyebarin banyak brosur dari pagi, kenapa masih belum ada yang mampir ke stand kita, ya? " Ujar Winda, sambil mengusap keringat di keningnya.
" Ini kan baru jam 10, Win. Jadi orang-orang masih belum fokus ke stand kita. " Sahut Giska, menyemangati mereka.
" Aku beli minuman dulu, ya? Kalian mau jus, kan? " Ujar Giska, menawarkan kepada mereka bertiga.
" Ya, kak. "
Giska lalu pergi untuk membeli minuman segar. Bagaimanapun mereka sudah sibuk sejak pagi, dan membutuhkan minuman dingin untuk menyegarkan tubuh.
" Put, sepi banget ya? Gimana kalau event kita gagal? " Celetuk Winda, merasa tak bersemangat.
" Hus, jangan gitu. Yakin aja, event ini pasti bakal ramai kok. Percaya sama Kak Giska! " Sahut Putri, pantang menyerah.
" Aku mau bagiin brosur lagi, ya? Lumayan banyak yang lewat nih, Hehe. Barangkali ada janda cantik! " Begitupun Zaki, yang tetap semangat meskipun belum mendapat konsumen.
Beruntungnyaa Giska mendapat tim yang memiliki semangat tinggi seperti dirinya.
Sementara itu di sudut lain, Giska tampak sedang membeli beberapa jus buah untuk tim-nya, namun ia tak sengaja berpapasan dengan Rachel.
" Bukannya ini j4l*ng yang nggak tau malu itu? " Tiba-tiba saja, Rachel memprovokasi Giska.
Melihat kedatangan Rachel di hadapannya, tak membuat Giska menghiraukan Wanita itu. Rasanya sayang kalau mood hancur hanya karena orang seperti Rachel.
" Ternyata kamu cuma seorang sales, ya? Haha, aku kira apa?! " Rachel terdengar meremehkan Giska, yang mengenakan baju dari perusahaan.
Setelah pesanan jus-nya selesai, Giska lalu membayarnya dan segera pergi dari tempat tersebut.
" Kamu mengabaikanku??? " Bentak Rachel, merasa kesal.
" Maaf, saya sibuk. Nggak ada waktu buat meladeni anda! " sahut Giska, ramah. Baginya, ia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengah Nicolas, sehingga ia tak peduli lagi dengan apa yang berurusan dengan Nick.
" Ck, kamu nggak mau tau, alasan Nick ninggalin kamu??? "
Mendengar ucapan itu, Giska sejenak menghentikan langkahnya.
" Sudah kuduga, dia pasti masih suka saka Nick! " Gumam Rachel, tersenyum menyeringai.
Tak lama kemudian, Giska menoleh ke arah Rachel. " Nggak tuh! Ambil saja, sana. Aku ngga butuh laki-laki sampah seperti Nick! " Giska dengan percaya diri menyahuti ucapan Rachel, dan bergegas pergi meninggalkannya.
Hal itu malah membuat Rachel mendengus kesal. Niat hati ingin membuat Giska kesal, malah dirinya yang emosi.
Meski begitu, Giska pun juga diam-diam merasa kesal. Ia merasa selama ini menjadi bodoh, karena telah menghabiskan waktu yang sia-sia untuk berpacaran dengan Nick.
" Ternyata dia sepengecut itu! " Batinnya, mendengus kesal.
" Kakak kenapa? " Tanya Winda, melihat berpedaan ekspresi Giska, sebelum dan sesudah membeli jus.
" Nggak apa-apa kok! Cuma panas aja. Nih jus kalian, " Ujar Giska, memberikan minuman satu persatu pada mereka.
Hampir saja suasana hati Giska di rusak oleh Rachel. Beruntungnya Giska bukan Wanita yang suka meladeni orang yang tidak penting baginya.
Kini Giska kembali bersemangat mempromosikan penjualannya, dengan cara membagikan brosur kepada para penonton yang sedang menyaksikan live konser musik band lokal.
Sesekali Giska juga menikmati alunan musik dari band lokal. Namun tanpa di sengaja, Giska terdiam dan segera melihat ke arah panggung, begitu mendengar suara yang tidak asing baginya.
Benar saja. Rupanya Band yang di pimpin Nicolas ikut serta mengisi acara tersebut. Giska tak menyangka, jika mereka akan bertemu.
Nick sebagai vokalis, tentu menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan. Begitu pula dengan Giska, yang terus melihat performa Nicolas di atas panggung.
" Sebenarnya kenapa dia memutuskan hubungan kita? " Gumam Giska, dalam hati
Ada perasaan menyesal, kesal dan juga merah menjadi satu. Giska tak menyangka, bahwa Nick sangat pengecut.
Ia menyesal karena menyia-nyiakan waktunya berpacaran dengan Pria macam Nicolas.
Dari atas panggung, Pria itu menyadari bahwa Giska sedang menatapnya. Sehingga di akhir lagu, ia sengaja membawa Rachel naik ke atas panggung dan memeluknya dengan mesra.
Penonton hanya bisa berteriak melihat kemesraan mereka. Sementara itu tidak dengan Giska, ia malah merasa ilfeel dengan sikap blak-blakan Nicolas di tempat umum.
Pasalnya selama ini Giska tidak pernah mau menunjukkan kemesraan di depan umum saat bersama Nick. Hal itu bukan hal yang pantas baginya.
" Ya, kalau bersamaku, kamu pasti nggak akan bisa seperti itu, kan?! " Batin Giska, menatap intens mereka berdua.
Disisi lain, Nicolas mengira jika Giska sedang panas melihat kemesraan Nick dan Rachel. Tanpa ia tau, bahwa Giska sedang kepanasan karena terik matahari.
Begitu Nick selesai bernyanyi, Giska kembali menyebar brosur sambil kembali ke tempat stand mereka.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15;05. Tim Giska telah berhasil menjual sepeda motor sebanyak 42 unit.
Hal itu membuat Giska berencana untuk menutup stan pada jam 4 sore.
Semua keperluan Event akan di ambil oleh orang kantor. Kini Giska dan Tim akan pulang dari tempat acara tersebut.
Namun siapa sangka, baru saja mereka akan ke tempat parkir, tiba-tiba mereka kedatangan banyak konsumen yang akan melakukan pembelian unit kendaraan.
Giska dengan senang hati menyambut hangat mereka. Berkat mereka, penjualan Giska kali ini masuk melebihi target yang diberikan oleh Tuan Andra.
Tepat pukul 7 malam, Giska dan Tim baru saja selesai melakukan semuanya. Mereka kelelahan, namun juga sangat senang karena berhasil melebihi target.
" Sebelum pulang, aku akan traktir kalian makan enak malam ini!!! " Sergah Giska, membuat Timnya kembali bersemangat.
" Kalian tenang aja, besok aku akan minta izin sama Pak Lana supaya kalian berangkat agak siang. Kalian pasti capek, kan? " tutur Giska, merasakan kerja keras mereka.
" Capek sih, tapi senang banget kak! " sahut Winda, terlihat energik.
" Syukurlah, kalau begitu. Aku jamin, bonus kalian bulan ini akan lebih besar dari biasanya. "
Mereka lalu melanjutkan kegiatan makan malam bersama, sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Sementara itu, tak terasa hari cepat berlalu. Kabar mengenai event yang di lakukan Giska, telah sampai ke telinga Tuan Andra.
Pria itu tersenyum puas, membaca laporan penjualan Giska dan Tim-nya.
" Bagaimana cara dia merayu konsumen, ya? Dia kan kasar! " Tutur Andra, tersenyum bodoh membayangkan.
Dimatanya, Giska adalah Wanita kasar dan bar-bar. Sejauh ini, Andra masih tak menyangka jika Giska adalah pegawainya.
Hari ini, Andra kembali datang ke cabang perusahaannya, Wr Grup. Tentunya Pria itu di sambut hangat oleh para pegawainya.
Setelah tiba di ruangannya, Andra duduk dan melepas jas-nya lebih dulu. Kemudian ia kembali membaca data berkas minggu ini.
Di hadapannya ada Lana dan juga Romi yang sedang menunggu perintah dari atasannya.
" Kenapa Tuan Andra jadi sering kemari, ya? Ah, apa dia menyadari sesuatu? " Batin Lana, dalam hati.
" Panggil Giska keruangan saya! " Ujar Andra tanpa menoleh ke arah Romi, maupun Lana.
" Baik, Tuan.. " Sahut Romi, tegas.
" Kalau begitu, saya permisi Tuan. " Ujar Lana, merasa tidak dibutuhkan.
" Tunggu. Tetaplah disini, sampai Giska datang! Duduklah, santai saja " ucap Andra, sambil melirik ke arah Lana, hingga membuatnya merinding.
Sebenarnya ada ada apa ini?